
(Vibizmedia – Jakarta) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Karhutla yang berlangsung di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa kondisi iklim pada 2026 diperkirakan lebih kering dari biasanya. Musim kemarau diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih lama.
Ia menjelaskan, fenomena ENSO saat ini masih berada pada fase netral. Namun, pada paruh kedua 2026 diperkirakan akan berkembang menjadi El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50–80 persen. “Kemarau dan El Nino adalah dua hal berbeda. Kemarau merupakan siklus tahunan, tetapi jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan semakin berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” ujarnya.
Hingga awal April 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia tercatat mencapai 1.601 titik, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. BMKG memproyeksikan potensi karhutla mulai meningkat di Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatra Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada Juli hingga Agustus.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG memperkuat upaya pencegahan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan (rewetting). Strategi ini difokuskan pada kawasan gambut saat tinggi muka air tanah mulai menurun, guna menjaga kelembapan agar tidak mudah terbakar.
Upaya tersebut didukung dengan pemantauan dan prediksi iklim secara berkala, penggunaan sistem Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, pemantauan hotspot dan sebaran asap, serta prediksi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi di lapangan.
Saat ini, operasi modifikasi cuaca tengah berlangsung di sejumlah wilayah prioritas dengan dukungan BNPB. Di Riau, operasi yang dilaksanakan sejak 28 Maret hingga 11 April 2026 menunjukkan hasil signifikan. “Dari 23 sorti penerbangan di Posko Riau, curah hujan berhasil ditingkatkan hingga 33 persen dengan tambahan volume air lebih dari 100 juta meter kubik. Sementara di Natuna, tiga sorti penerbangan meningkatkan curah hujan sebesar 36 persen atau sekitar 1,4 juta meter kubik,” jelas Faisal.
Ia menambahkan, BMKG juga mendapat arahan langsung dari Presiden Republik Indonesia untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca sebagai bagian dari strategi nasional pengendalian karhutla.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, mengapresiasi paparan BMKG sekaligus mengingatkan pentingnya kewaspadaan seluruh pihak.
Ia menyebutkan, hingga 28 Februari 2026 luas lahan terbakar mencapai 32.637,42 hektare, meningkat hampir 20 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025. “Tahun lalu pada periode yang sama hanya sekitar 1.000 hektare, sedangkan tahun ini sudah lebih dari 32.600 hektare. Ini menunjukkan perlunya kesiapsiagaan yang lebih kuat,” ujarnya.
Rakornas tersebut dihadiri oleh berbagai kementerian dan lembaga, termasuk BNPB, pemerintah daerah di wilayah rawan karhutla, serta unsur TNI-Polri.
Melalui forum ini, BMKG menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor, pemanfaatan data berbasis sains, serta penguatan strategi pencegahan untuk menekan risiko karhutla secara lebih efektif dan terkoordinasi sepanjang 2026.








