Industri Kendaraan Niaga Digenjot, Kemenperin Targetkan RI Jadi Kekuatan Logistik Regional

0
59
Manufaktur Indonesia
Ilustrasi industri manufaktur Indonesia. FOTO: VIBIZMEDIA.COM|MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian terus memperkuat daya saing industri kendaraan niaga nasional sebagai tulang punggung sistem logistik dan distribusi barang. Langkah ini dinilai krusial dalam menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menjawab kebutuhan distribusi yang terus meningkat di berbagai sektor.

Sekretaris Jenderal Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025, sektor industri alat transportasi memberikan kontribusi sebesar 1,27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka tersebut diperkuat oleh subsektor perdagangan kendaraan dan jasa reparasi yang menyumbang hingga 2,02 persen.

“Ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan distribusi barang, layanan purna jual, serta peremajaan armada kendaraan niaga,” ujar Eko saat membuka GIICOMVEC 2026 di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Dari sisi permintaan, sektor transportasi dan pergudangan juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 8,78 persen pada 2025. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan kendaraan niaga yang andal dan efisien untuk mendukung sistem logistik nasional.

Namun demikian, Kemenperin menyoroti sejumlah tantangan serius. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan produksi kendaraan niaga pada 2025 turun 3,5 persen menjadi 164 ribu unit, yang berdampak pada turunnya tingkat utilisasi industri ke level 58 persen—di bawah batas efisiensi.

Selain itu, mulai terjadi ketidakseimbangan antara produksi dalam negeri dan kebutuhan pasar, dengan selisih sekitar 4.000 unit yang diisi oleh produk impor. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal perlunya penguatan struktur industri nasional.

“Ini harus segera direspons melalui peningkatan efisiensi produksi dan optimalisasi kapasitas industri,” tegas Eko.

Pemerintah juga terus mendorong implementasi kebijakan Zero Over Dimension Over Loading (Zero ODOL) guna menciptakan sistem logistik yang lebih aman dan efisien. Upaya ini dilakukan melalui penguatan standar teknis kendaraan, percepatan sertifikasi, serta integrasi data kendaraan secara nasional.

Di sisi lain, Kemenperin mengingatkan potensi risiko dari praktik penjualan kendaraan tanpa dokumen resmi yang dapat memicu kredit macet (NPL), serta maraknya truk impor yang tidak memenuhi standar emisi Euro 4 dan belum melalui proses homologasi.

Ajang GIICOMVEC 2026 pun dinilai semakin strategis sebagai platform business-to-business yang mempertemukan pelaku industri, pengguna, dan pemangku kepentingan. Tahun ini, pameran diikuti oleh 14 merek kendaraan komersial dan lebih dari 35 industri pendukung.

Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, menegaskan bahwa kendaraan komersial merupakan tulang punggung distribusi nasional.

“Truk dan bus adalah urat nadi ekonomi yang menghubungkan produksi dengan pasar. Kita butuh kendaraan yang tangguh, efisien, dan berbasis teknologi masa depan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa ekspor otomotif Indonesia pada 2025 menunjukkan tren positif, dengan ekspor kendaraan utuh (CBU) mencapai 518.212 unit atau naik 9,75 persen. Dari jumlah tersebut, kendaraan komersial menyumbang lebih dari 20 ribu unit, menandakan daya saing produk Indonesia di pasar global semakin kuat.

Melalui GIICOMVEC 2026, pemerintah berharap tercipta kolaborasi yang lebih erat antara industri, pemerintah, dan pelaku usaha untuk memperkuat struktur industri, meningkatkan efisiensi, serta mendorong inovasi kendaraan niaga yang berkelanjutan.

Langkah ini sekaligus menjadi strategi besar Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam rantai nilai industri otomotif regional dan global.