(Vibizmedia – Jakarta) Upaya melindungi anak-anak Indonesia melalui imunisasi masih menghadapi tantangan yang signifikan. Hingga 2025, cakupan imunisasi bagi bayi, baduta, dan anak usia sekolah di berbagai daerah belum merata. Selain itu, jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap—atau dikenal sebagai zero dose—masih ditemukan di seluruh wilayah Indonesia.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan, mengingat imunisasi merupakan hak dasar setiap anak yang wajib dipenuhi oleh negara, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta keluarga.
Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Direktorat Imunisasi Ditjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Gertrudis Tandy, menegaskan bahwa pemenuhan imunisasi harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak boleh setengah-setengah.
“Imunisasi adalah hak anak yang harus dilindungi. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak memperoleh perlindungan melalui imunisasi,” ujarnya dalam sebuah webinar nasional di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan, kewajiban tersebut sejalan dengan berbagai regulasi, mulai dari UUD 1945, Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014, Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 23 Tahun 2014, hingga Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Hampir 1 Juta Anak Masih Zero Dose
Tantangan serupa juga terlihat pada imunisasi anak usia sekolah, di mana cakupan nasional masih berada di bawah target 88 persen pada 2025. Sorotan utama adalah tingginya jumlah anak zero dose untuk vaksin DPT-HB-Hib, yaitu anak yang belum pernah menerima imunisasi dasar sama sekali. Pada 2025, jumlahnya mencapai 991.022 anak.
Angka ini menunjukkan masih banyak anak Indonesia yang rentan terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin, seperti difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan infeksi Hib. “Anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap atau terlambat berisiko tertular penyakit sekaligus menjadi sumber penularan bagi orang lain,” jelas dr. Gertrudis.
Meski demikian, beberapa indikator program imunisasi 2025 menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan. Data mencatat cakupan imunisasi bayi lengkap mencapai 80,2 persen, melampaui target nasional sebesar 80 persen.
Sejumlah indikator lain juga berhasil melampaui target, di antaranya cakupan kekebalan kelompok sebesar 44,5 persen (target 30 persen), imunisasi antigen baru 72,9 persen (target 65 persen), imunisasi lengkap pada baduta 78,9 persen (target 70 persen), cakupan HPV 91,1 persen (target 90 persen), serta wanita usia subur dengan status imunisasi T2+ sebesar 72,1 persen (target 65 persen).
Namun, dua indikator penting masih belum memenuhi target, yaitu cakupan MR1 pada bayi yang mencapai 82,6 persen (target 85 persen), serta cakupan imunisasi usia sekolah dasar sebesar 82,1 persen (target 88 persen). Kondisi ini menjadi peringatan bagi daerah untuk memperkuat jangkauan layanan, khususnya di wilayah dengan cakupan rendah.
Imunisasi Bukan Sekadar Angka
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa imunisasi tidak hanya soal pencapaian angka, tetapi juga menyangkut perlindungan hak setiap anak. Setiap imunisasi yang diberikan akan membentuk kekebalan individu melalui pembentukan antibodi terhadap penyakit tertentu.
Jika cakupan imunisasi tinggi dan merata, maka akan terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity) yang mampu melindungi masyarakat luas, termasuk kelompok rentan seperti bayi baru lahir dan lansia. “Tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal. Semua anak berhak mendapatkan imunisasi,” tegas dr. Gertrudis.
Memasuki 2026, pemerintah meningkatkan target nasional sebagai upaya percepatan perlindungan anak. Cakupan imunisasi bayi lengkap ditargetkan mencapai 85 persen, sementara imunisasi anak usia sekolah ditargetkan menembus 90 persen.
Kementerian Kesehatan pun mengajak seluruh daerah untuk mengoptimalkan layanan imunisasi rutin, imunisasi kejar, serta penelusuran anak zero dose agar tidak ada yang terlewat dari perlindungan. “Tahun masih berjalan, peluang masih terbuka. Dengan kerja sama dan komitmen bersama, target 2026 harus bisa dicapai,” pungkasnya.









