BRIN Dorong Riset Lintas Negara melalui Kerja Sama dengan University of Queensland

0
77
Peta kerja sama BRIN dengan pusat penelitian, badan riset serta universitas di sejumlah negara. (Foto: BRIN)

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) membuka peluang kolaborasi riset internasional dengan The University of Queensland, Australia. Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk memperluas jejaring global sekaligus mendorong penguatan riset lintas negara di bidang sosial dan humaniora.

Pertemuan yang digelar secara daring tersebut difokuskan pada pengenalan kelembagaan serta penjajakan peluang kerja sama riset dan pendanaan bersama. Forum ini juga dimanfaatkan sebagai ruang pertukaran gagasan dalam merespons berbagai tantangan global yang kian kompleks.

Pelaksana Tugas Kepala OR IPSH BRIN, Muhammad Najib Azca, menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam meningkatkan kualitas riset nasional. “Pertemuan ini menjadi ajang untuk saling mengenal, berbagi pengetahuan, serta mengeksplorasi peluang kerja sama yang saling menguntungkan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/4/2026).

Dalam paparannya, Najib memaparkan profil OR IPSH BRIN, termasuk fokus riset, kapasitas peneliti, serta berbagai program yang tengah berjalan. Sementara itu, pihak University of Queensland melalui Associate Dean (Research) Faculty of Humanities, Arts, and Social Sciences, Kim Wilkins, menjelaskan kekuatan riset institusinya serta peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama.

Pertemuan ini juga dihadiri sejumlah akademisi UQ, seperti Zane Goebel, Greta Nabbs-Keller, Melissa Curley, dan Ian Hardy. Dari pihak BRIN, hadir para kepala pusat riset dan peneliti lintas bidang untuk mengidentifikasi potensi irisan kerja sama.

Sejumlah isu strategis muncul sebagai peluang kolaborasi, antara lain dinamika politik lokal, keamanan maritim kawasan, kebijakan pendidikan, komunikasi dan budaya, hingga isu sosial kontemporer di kawasan Asia-Pasifik. Kedua pihak juga menyoroti pentingnya skema pendanaan bersama guna menjamin keberlanjutan riset kolaboratif.

Melissa Curley menekankan peluang kerja sama dalam isu hak asasi manusia di Asia-Pasifik, sekaligus menyoroti eratnya hubungan akademik antara Indonesia dan Australia. Ia meyakini kolaborasi ini dapat semakin memperkuat jejaring antarperguruan tinggi, termasuk melalui kontribusi alumni di berbagai sektor.

Sementara itu, Ian Hardy menyoroti pentingnya kolaborasi di bidang pendidikan tinggi, termasuk peluang pertukaran mahasiswa serta pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif. Ia berharap lebih banyak mahasiswa Indonesia dapat merasakan pengalaman akademik di University of Queensland melalui kerja sama ini.

Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut ditutup dengan komitmen kedua institusi untuk menindaklanjuti pembahasan menjadi kerja sama konkret, baik melalui riset bersama, pertukaran akademisi, maupun pengembangan program kemitraan internasional.

Kolaborasi antara BRIN dan University of Queensland diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas riset sosial dan humaniora, tetapi juga menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dalam menjawab tantangan global secara inklusif dan berkelanjutan.