“Disko Ikan” di Pembangkit Listrik Inggris

Setiap spesies ikan bereaksi terhadap “nada” yang berbeda. Suara berfrekuensi tinggi diketahui dapat mengusir shad, tetapi pada saat yang sama berpotensi membahayakan lumba-lumba yang berkomunikasi menggunakan frekuensi serupa. Trout dan salmon justru memerlukan suara bernada rendah, sementara belut—yang menambah kerumitan—memiliki organ pendengaran di belakang mata dan hanya merespons kilatan cahaya.

0
1034
disko ikan

(Vibizmedia-Kolom) Pada awalnya tujuannya sederhana, yakni “disko ikan” mencegah terjadinya pembunuhan di dasar laut.

Lebih dari satu dekade lalu, regulator lingkungan Inggris menyetujui pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pesisir baru dengan syarat bahwa sistem pendinginnya tidak akan menyedot jutaan ikan dari Selat Bristol.

EDF, perusahaan asal Prancis yang membangun pembangkit tersebut, menjanjikan solusi yang tidak lazim. Perusahaan itu menyatakan akan membangun mesin suara yang rumit—yang kemudian dikenal sebagai “disko ikan”—untuk menakut-nakuti ikan agar menjauh.

Namun, upaya menjadi semacam DJ demi menyelamatkan kehidupan laut ternyata jauh dari mudah.

Setiap spesies ikan bereaksi terhadap “nada” yang berbeda. Suara berfrekuensi tinggi diketahui dapat mengusir shad, tetapi pada saat yang sama berpotensi membahayakan lumba-lumba yang berkomunikasi menggunakan frekuensi serupa. Trout dan salmon justru memerlukan suara bernada rendah, sementara belut—yang menambah kerumitan—memiliki organ pendengaran di belakang mata dan hanya merespons kilatan cahaya.

David Clarke, pakar perikanan dari Universitas Swansea yang didanai oleh EDF, menjelaskan bahwa persoalan ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia menyampaikan bahwa timnya memantau bunyi bip berfrekuensi tinggi yang diarahkan ke shad bertanda untuk melihat apakah ikan-ikan tersebut benar-benar berenang menjauh.

EDF terikat kewajiban untuk membangun sistem berskala besar yang menyerupai sebuah festival musik bawah air, dengan bermil-mil kabel yang menghubungkan 288 pengeras suara bawah laut. Sistem ini dirancang untuk memancarkan suara yang lebih keras daripada mesin pesawat jumbo, beroperasi tanpa henti selama 24 jam sehari dan direncanakan berlangsung selama 60 tahun.

Perusahaan tersebut kini menunjukkan keberatan. EDF menilai bahwa disko ikan akan memerlukan biaya puluhan juta dolar untuk pembangunan dan pemeliharaan, sementara jumlah ikan yang dapat diselamatkan dinilai sangat terbatas. Sebuah laporan independen terbaru di Inggris tentang sektor nuklir menyimpulkan bahwa sistem tersebut hanya akan menyelamatkan 0,028 trout laut, enam lamprey sungai, 18 allis shad, dan 528 twaite shad per tahun. Laporan itu juga menyebutkan bahwa satu ekor salmon mungkin baru akan terselamatkan setiap 12 tahun.

Kelompok kampanye ikan di tingkat lokal membantah perhitungan tersebut.

Lewis English, konsultan bagi Acoustic Fish Deterrence Delivery Group, menyatakan bahwa nyawa sekitar 182 juta ikan per tahun dipertaruhkan dan menegaskan bahwa disko ikan terbukti efektif menyebarkan ikan menjauh dari sumber bahaya. Ia menggambarkan efeknya sebagai situasi yang setara dengan memutar musik klasik di restoran cepat saji pada larut malam.

Perdebatan ini mencerminkan pertarungan simbolis yang lebih luas di Inggris, di mana proyek infrastruktur besar hingga pembangunan rumah biasa kerap ditolak atau tertunda akibat sistem perizinan yang kompleks, terutama ketika menyangkut perlindungan satwa liar.

Inggris pernah menjadi pelopor Revolusi Industri dan, sebagai konsekuensinya, merusak banyak habitat alaminya sendiri. Dalam beberapa dekade terakhir, pemerintah secara berturut-turut mewajibkan pengembang untuk mencegah hilangnya keanekaragaman hayati atau setidaknya menyediakan langkah kompensasi.

Ketika surveyor proyek jalan senilai US$12 miliar yang lama tertunda di bawah Sungai Thames melakukan pencarian kelelawar, mereka menemukan enam ekor di sebuah tempat perlindungan serangan udara era Perang Dunia II yang terbengkalai. Sebagai solusi, dibangunlah tempat perlindungan serangan udara buatan khusus untuk kelelawar di lokasi lain yang berjarak sekitar satu mil.

Proyek jalur kereta cepat sepanjang 135 mil yang menghubungkan London dan Birmingham kini telah membebani pembayar pajak lebih dari US$100 miliar dan memakan waktu hampir seperempat abad untuk direalisasikan. Untuk memenuhi aturan perlindungan lingkungan, proyek ini membangun terowongan kelelawar senilai US$150 juta, berupa kubah jaring berukuran besar yang dirancang melindungi sekitar 300 kelelawar Bechstein langka dari kereta yang melintas. Biaya tersebut setara dengan sekitar US$500.000 per ekor kelelawar.

Selain itu, rumah-rumah baru untuk kelelawar juga tengah dibangun dengan biaya lebih dari US$660.000 per unit, hampir dua kali lipat dari harga rata-rata rumah di Inggris.

Perdana Menteri Keir Starmer baru-baru ini menyampaikan bahwa pemerintahannya akan menindak regulasi lingkungan yang dinilainya keliru secara mendasar dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Pembangkit Hinkley Point C yang baru—yang diperkirakan akan menjadi pembangkit nuklir termahal di dunia dengan biaya mencapai US$61 miliar dan masih berpotensi meningkat—ditargetkan mulai beroperasi sekitar 2030. Pembangkit ini memerlukan pasokan air pendingin setara satu kolam renang Olimpiade setiap beberapa detik, yang berisiko menyeret ikan ke dalam sistem, termasuk spesies twaite shad yang terancam punah. Dalam kerangka hukum yang berlaku, membunuh satu ekor ikan tersebut dapat berujung pada hukuman penjara enam bulan dan denda tanpa batas.

Sebagai langkah mitigasi, pembangkit ini menyetujui pengeluaran sebesar US$930 juta untuk membangun sistem yang mencakup menara bawah air khusus yang menyedot air dengan kecepatan lebih lambat.

Bagi ikan yang tetap terlanjur masuk, EDF membangun sistem pengembalian ke laut berupa jalur mekanis yang mencakup eskalator bawah air ramah ikan dan berakhir pada tabung sepanjang 2.000 kaki yang mengalirkan ikan kembali ke laut.

Dalam konteks ini, disko ikan dirancang sebagai lapisan perlindungan ketiga.

Meskipun sistem pengusir ikan berbasis suara telah dipasang di danau dan sungai, belum pernah ada upaya untuk menerapkannya bermil-mil di lepas pantai, terlebih lagi di perairan Selat Bristol yang keruh.

EDF menyatakan bahwa perubahan pasang surut menyebabkan tekanan besar pada pengeras suara bawah air dan mengharuskan penyelam turun secara berkala untuk perawatan, sebuah pekerjaan yang dinilai berisiko bagi keselamatan manusia. Kelompok pendukung disko ikan berpendapat bahwa penggunaan robot dapat menggantikan peran penyelam.

EDF kemudian mengajukan permohonan kepada regulator lingkungan agar kewajiban pembangunan disko ikan dicabut. Perusahaan itu menyampaikan bahwa mereka telah menanam 20.000 pohon di sekitar lokasi, mengganti habitat dan tempat tinggal spesies dilindungi seperti kelelawar, triton, dan luak, serta menciptakan padang bunga liar khusus sebagai area mencari makan satwa.

Namun, regulator menolak permintaan tersebut. EDF lalu mengusulkan alternatif berupa rencana menenggelamkan sekitar 1.500 acre garis pantai terdekat untuk menciptakan rawa asin sebagai kawasan berkembang biak guna mengimbangi potensi kematian ikan. Warga setempat menolak rencana itu karena dinilai akan merusak tambak ikan lokal dan mengancam keberadaan triton jambul, yang juga dilindungi oleh hukum.

EDF kini menguji pendekatan lain dengan menggunakan disko ikan portabel bertenaga baterai yang dapat diturunkan dari kapal menggunakan keranjang lobster dan memancarkan bunyi bip berfrekuensi tinggi. Menurut pejabat EDF, sistem ini akan menelan biaya sekitar US$66 juta untuk dibangun.

Clarke menyampaikan bahwa bukti awal menunjukkan sistem tersebut efektif menakut-nakuti shad, meskipun terdapat kendala karena salmon kemungkinan tidak dapat mendengar suara tersebut. EDF menambahkan bahwa mereka juga sedang mengembangkan sistem yang dapat didengar oleh salmon.

Kelompok pendukung disko ikan tetap tidak puas. Mereka berpendapat bahwa diperlukan pengeras suara yang lebih besar dan menegaskan bahwa jika “penjaga” ditempatkan di pintu masuk, maka sekitar 80 hingga 90 persen ikan dapat dialihkan sejak awal.