Gig Economy dan AI, Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

0
253
Foto: Kemenko Ekon

(Vibizmedia – Bandung) Pemerintah terus memperkuat transformasi ekonomi nasional dengan menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan struktur pasar kerja global. Di tengah percepatan ekonomi digital dan disrupsi teknologi, penciptaan lapangan kerja baru yang inklusif dan berkelanjutan menjadi faktor kunci untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Peluncuran Gig Economy merupakan program Presiden yang dilaksanakan oleh Menko Perekonomian. Kami di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyiapkan program ini untuk memperluas kesempatan kerja di 15 kota yang telah ditetapkan,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, saat peluncuran Program Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z dan AI Open Innovation Challenge di Bandung, Jawa Barat, Jumat (30/1).

Program tersebut merupakan bagian dari Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) 2025 yang mencakup delapan program akselerasi, empat program lanjutan hingga 2026, serta lima program penyerapan tenaga kerja. Salah satu fokus utamanya adalah penguatan ekosistem gig economy sebagai sumber pertumbuhan lapangan kerja baru.

Indonesia saat ini memiliki ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN dan diproyeksikan mendekati USD100 miliar pada akhir 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh e-commerce dan layanan berbasis platform digital yang melahirkan beragam profesi baru, sekaligus menggeser pola kerja menjadi lebih fleksibel dan berbasis proyek.

Program Penguatan Ekosistem Gig Economy dirancang secara end-to-end, mencakup pelatihan dan peningkatan keterampilan, penyediaan ruang kolaborasi (co-working space), serta akses pasar kerja melalui marketplace digital. Implementasinya dilakukan bertahap di 15 daerah terpilih.

Setelah pilot project pertama diluncurkan di Jakarta Creative Hub pada Desember 2025, Jawa Barat ditetapkan sebagai lokasi strategis berikutnya. Provinsi ini dinilai memiliki ekosistem pendidikan, kreativitas, dan teknologi yang kuat, dengan kontribusi ekonomi kreatif mencapai 20,73 persen terhadap PDB ekonomi kreatif nasional atau sekitar Rp310 triliun, serta menyerap lebih dari 6,24 juta tenaga kerja kreatif.

Pengembangan talenta digital di daerah menjadi fondasi penting bagi kesiapan Indonesia memanfaatkan peluang ekonomi digital kawasan, seiring implementasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang menargetkan nilai ekonomi digital ASEAN mencapai USD2 triliun pada 2030.

Melalui AI Open Innovation Challenge, pemerintah juga membuka ruang bagi kreativitas generasi muda untuk menghadirkan solusi nyata atas tantangan ekonomi dan sosial. Program ini diarahkan untuk membangun talent pool dan idea pool sebagai bagian dari New Engine Economy, sekaligus memperluas akses kerja dan menekan pengangguran.

“Melalui Gig Economy, kami berharap generasi muda semakin produktif di era digital, memanfaatkan teknologi terkini, serta mampu menjadi developer dan pencipta solusi bagi perusahaan nasional maupun global,” pungkas Ali.

Peluncuran program tersebut turut dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, serta para pimpinan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, asosiasi, komunitas, dan peserta pelatihan gig economy.