BNPB Catat Sejumlah Banjir di NTB, Satu Warga Meninggal di Lombok Timur

0
68
Banjir
Banjir di wilayah Desa Selebung, Kecamatan Keruak, Kab. Lombok Timur, NTB pada Selasa, 24 Februari 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia pada periode 24 Februari 2026 pukul 07.00 WIB hingga 25 Februari 2026 pukul 07.00 WIB. Berdasarkan laporan yang dihimpun Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, bencana didominasi kejadian banjir di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat.

Banjir pertama terjadi di Kabupaten Lombok Timur akibat hujan lebat disertai angin kencang pada Selasa (24/2) siang. Peristiwa tersebut menyebabkan satu warga hilang terseret arus dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia beberapa jam kemudian. Selain itu, sebanyak 604 kepala keluarga (KK) atau 2.848 jiwa yang tersebar di 11 desa dan satu kelurahan terdampak.

BPBD Kabupaten Lombok Timur bersama BPBD Provinsi NTB telah dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat, mulai dari pendataan, pencarian dan pertolongan korban. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Provinsi NTB juga mendirikan tenda darurat di Desa Pijot, Kecamatan Keruak, guna membantu warga terdampak. Hingga Selasa malam, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah dengan ketinggian air bervariasi.

Sementara itu, banjir juga melanda Kabupaten Lombok Tengah dan berdampak pada 12 desa di tiga kecamatan, yakni Pujut, Praya Timur, dan Praya Barat. Tercatat sebanyak 1.115 KK terdampak dengan ketinggian air yang beragam.

BPBD Provinsi NTB menuju lokasi dengan membawa bantuan logistik berupa tiga unit tenda, lampu penerangan, perahu, genset, alas tidur, dan mie instan. Petugas terus melakukan pemantauan dan pembaruan data karena banjir masih menggenangi wilayah terdampak.

Di Kabupaten Lombok Barat, banjir terjadi di Desa Tempos, Kecamatan Gerung, pada Selasa (24/2). Sebanyak 35 unit rumah dilaporkan terdampak. Selain itu, satu akses jalan terganggu akibat tergerus derasnya arus banjir hingga memakan setengah badan jalan. Petugas telah memasang garis pengaman (safety line) dan mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintas di jalur tersebut.

Menyikapi berbagai kejadian banjir tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman bencana hidrometeorologi basah.

Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai diimbau untuk rutin memantau ketinggian muka air. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, warga disarankan melakukan evakuasi mandiri bila diperlukan, mengetahui jalur evakuasi, menghindari area berarus deras seperti saluran air dan gorong-gorong, serta memperbarui informasi cuaca melalui sumber resmi.