
(Vibizmedia – Nasional) Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria dalam acara Grab Venture Velocity Batch 9 di Jakarta, Rabu (22/7), mengatakan, Indonesia perlu segera mengambil peran strategis dalam rantai pasok global industri kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Menurut Reza, jika terlambat, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar pengguna, sementara nilai ekonomi terbesar dinikmati negara lain yang menguasai teknologi dan industrinya.
Menurutnya, persaingan AI saat ini telah bergeser dari sekadar pengembangan aplikasi menuju penguasaan industri pendukung seperti semikonduktor, pusat data (data center), graphics processing unit (GPU), hingga mineral kritis.
“Yang paling penting adalah jangan terlambat masuk ke dalam global supply chain, termasuk AI,” ujar Nezar.
Ia menjelaskan, ekosistem startup global juga tengah mengalami perubahan. Jika sebelumnya banyak perusahaan rintisan mengejar valuasi dan pertumbuhan agresif, kini fokus bergeser pada pembangunan bisnis yang berkelanjutan dengan fondasi teknologi yang kuat.
Sebagai contoh, India dinilai berhasil memperkuat ekosistem startup melalui program Make in India, pengembangan industri semikonduktor, serta dukungan pemerintah terhadap inovasi berbasis AI. Menurut Nezar, pendekatan serupa dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia.
Indonesia sendiri dinilai memiliki modal besar untuk berkembang di sektor AI, mulai dari tingginya adopsi teknologi digital, bertumbuhnya startup berbasis AI, hingga lahirnya berbagai inisiatif pengembangan large language model (LLM) nasional. Namun, saat ini Indonesia masih berada pada tahap pemanfaatan teknologi, belum menjadi pengembang utama.
“Kita masih di level usage. Kita belum menjadi developer untuk soal AI,” katanya.
Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur digital yang lebih kuat, termasuk pusat data, GPU, serta industri semikonduktor. Indonesia juga memiliki peluang besar melalui hilirisasi mineral kritis seperti nikel dan pasir silika agar menjadi bahan baku bernilai tambah bagi industri teknologi global.
Selain penguatan infrastruktur, pemerintah tengah menyusun Peta Jalan AI Nasional yang akan ditetapkan melalui Peraturan Presiden. Dokumen tersebut dirancang menggunakan pendekatan berbasis risiko (risk-based approach) agar mampu mendorong inovasi sekaligus memberikan perlindungan bagi masyarakat dalam pemanfaatan AI.
Nezar menegaskan, pengembangan AI harus tetap berorientasi pada peningkatan produktivitas manusia. Menurutnya, teknologi ini seharusnya menjadi mitra yang membantu pekerjaan dan pengambilan keputusan, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
Dengan langkah tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI, tetapi juga mampu berperan sebagai pemain penting dalam rantai pasok industri AI global.








