
(Vibizmedia – Commodity) Indonesia terus memperkuat langkah menjadi pusat (hub) pengolahan kakao dan cokelat premium dunia. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, kunci mewujudkan target tersebut adalah kolaborasi erat antara pemerintah, petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan mitra internasional.
Pernyataan itu disampaikan saat membuka The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) di Yogyakarta, Kamis (23/7). Menurut Budi, kakao bukan hanya komoditas ekspor strategis, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi ratusan ribu keluarga petani serta penggerak ekonomi di berbagai daerah.
“Visi Indonesia jelas, yakni menjadi hub global bagi produk kakao dan cokelat premium yang berkelanjutan serta memiliki nilai tambah tinggi,” ujar Budi.
Kinerja ekspor kakao Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pada 2025 mencapai USD 3,6 miliar, meningkat tiga kali lipat dibandingkan 2021 yang sebesar USD 1,2 miliar. Peningkatan tersebut mencerminkan tingginya permintaan dunia terhadap produk kakao Indonesia.
Posisi Indonesia juga semakin diperkuat setelah mendapat pengakuan dari International Cocoa Organization (ICCO) sebagai produsen fine flavour cocoa atau kakao premium. Menurut Budi, peluang tersebut harus dimanfaatkan melalui peningkatan nilai tambah, inovasi produk, penerapan indikasi geografis, serta praktik produksi yang berkelanjutan.
Pemerintah juga terus membuka akses pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional. Saat ini Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang, dua lainnya masih dalam proses ratifikasi, serta 11 perjanjian sedang dirundingkan, termasuk dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut diharapkan semakin meningkatkan daya saing kakao Indonesia di pasar global.
Untuk mendukung ekspor, Kementerian Perdagangan mengoptimalkan peran 46 perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara. Mereka bertugas mempromosikan produk nasional, mencari peluang pasar, sekaligus memfasilitasi business matching antara eksportir Indonesia dan calon pembeli di luar negeri.
Optimisme terhadap masa depan kakao Indonesia juga disampaikan berbagai pelaku industri. Vice President & Managing Director Cargill untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru menilai meningkatnya minat konsumen terhadap produk yang autentik, berbahan baku lokal, dan diproduksi secara berkelanjutan menjadi peluang besar bagi Indonesia.
Sementara itu, Direktur Eksekutif International Cocoa Organization (ICCO), Michel Arrion, menilai Indonesia telah berhasil bertransformasi dari sekadar produsen biji kakao menjadi negara pengolah yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Menurutnya, peningkatan produksi biji kakao akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam industri cokelat dunia.






