(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana kembali menghimpun laporan kejadian bencana di berbagai daerah selama periode Minggu (26/4) pukul 07.00 WIB hingga Senin (27/4) pukul 07.00 WIB. Dari hasil pendataan terbaru, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi kejadian yang paling dominan dalam kurun waktu tersebut.
Sejumlah insiden karhutla tercatat terjadi di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, dengan petugas gabungan bergerak cepat melakukan pemadaman.
Peristiwa pertama terjadi di Kabupaten Kutai Barat pada Minggu (26/4) sekitar pukul 12.38 WITA. Titik api terdeteksi di Desa Empas, Kecamatan Melak, dengan luas lahan terdampak mencapai 1,5 hektare.
Petugas gabungan yang dipimpin BPBD setempat berhasil memadamkan api pada hari yang sama. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Masih di Kalimantan Timur, kebakaran lahan juga terjadi di Desa Senaken, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Lahan seluas 1 hektare terbakar sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.
Tim gabungan dari BPBD, dinas pemadam kebakaran, relawan rescue, dan masyarakat peduli api sempat mengalami kendala karena kondisi semak belukar, ilalang kering, serta angin kencang yang mempercepat rambatan api.
Sementara itu, karhutla yang terjadi sejak Sabtu (25/4) di Kota Banjarbaru berhasil dipadamkan pada Minggu (26/4). Lokasi terdampak berada di Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, dengan luas lahan terbakar mencapai 4,3 hektare.
BNPB mengingatkan bahwa ancaman karhutla masih perlu diwaspadai, terutama di tengah potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan pemantauan tingkat kemudahan terbakar lapisan permukaan tanah per Senin (27/4), sejumlah wilayah di:
– Sumatra Utara
– Papua
– Papua Selatan
berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.
BNPB menegaskan pencegahan dini adalah langkah paling efektif menekan meluasnya kebakaran lahan. Partisipasi aktif masyarakat melalui patroli bersama aparat desa, menjaga kawasan hutan, dan tidak membuka lahan dengan cara membakar sangat dibutuhkan.
Di tengah musim kering yang mulai terasa, kewaspadaan bersama menjadi kunci agar Indonesia terhindar dari bencana asap dan kerusakan lingkungan yang lebih besar.








