Kemendes Gandeng Barisan 8 Center, Siap Cetak 5.000 Desa Ekspor dan Dongkrak Ekonomi Desa

0
116
Desa ekspor
DOK: DESA EKSPOR INDONESIA

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) resmi menggandeng Barisan 8 Center untuk mempercepat pembangunan desa melalui kolaborasi lintas sektor. Kerja sama strategis tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Kolaborasi ini melibatkan relawan, perguruan tinggi, hingga sektor swasta sebagai bagian dari upaya memperkuat pembangunan nasional berbasis desa sesuai arahan Presiden.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam membangun desa. Menurutnya, seluruh elemen bangsa harus ikut terlibat melalui program desa binaan.

“Kita ini support team, bukan superman. Semua harus terlibat dan memiliki desa binaan,” ujar Yandri.

Ia menjelaskan, pendekatan kolaboratif sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan desa, mulai dari keterbatasan listrik, wilayah blank spot, akses air bersih, hingga pendidikan. Yandri menekankan bahwa desa harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek.

“Kalau desa maju, maka Indonesia akan maju,” tegasnya.

Dalam kerja sama ini, Barisan 8 Center dilibatkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, salah satunya pengembangan desa ekspor yang masuk dalam 12 aksi pembangunan desa nasional.

Saat ini sejumlah desa ekspor telah berkembang dengan komoditas unggulan seperti kopi, vanili, kemiri, dan gula aren. Program tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat desa sekaligus memperluas akses ke pasar global.

Ketua Umum Barisan 8 Center, Andrio Caesario, menyatakan organisasinya siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong lahirnya desa mandiri dan sejahtera.

“Kita membantu bagaimana hasil sumber daya alam di desa bisa tersalurkan ke pasar ekspor dan memberikan manfaat besar bagi petani,” katanya.

Menurut Andrio, pihaknya akan fokus membuka akses pasar internasional serta memastikan dukungan regulasi agar produk desa mampu bersaing secara global.

Ia mengungkapkan Jawa Barat menjadi salah satu wilayah percontohan program desa ekspor dengan fokus utama pada komoditas kopi Arabika.

“Kita ingin mengangkat kopi Jawa Barat agar menjadi salah satu primadona dunia,” ujarnya.

Selain itu, Barisan 8 Center juga menghadirkan dukungan teknologi melalui aplikasi pemetaan potensi desa berbasis geotagging. Sistem ini memuat data luas lahan, kualitas komoditas, hingga rantai produksi sehingga memudahkan buyer luar negeri mengakses informasi potensi desa secara langsung.

Kemendes menargetkan pembentukan sekitar 5.000 desa ekspor dalam beberapa tahun ke depan melalui kolaborasi multipihak. Pemerintah menilai pembangunan desa harus dilakukan melalui pemberdayaan yang disertai pendampingan berkelanjutan.