(Vibizmedia – Commodity) Kementerian Perindustrian terus memperkuat program hilirisasi industri nasional dengan melibatkan industri kecil dan menengah (IKM), termasuk sektor pangan berbasis buah tropis khas Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperluas pasar ekspor produk olahan pangan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri olahan buah tropis karena didukung kekayaan komoditas lokal yang melimpah.
“Indonesia memiliki banyak sekali jenis buah khas negara tropis yang punya nilai jual tinggi di pasar dalam dan luar negeri. Ini saatnya pelaku industri, khususnya IKM, mengambil peran dalam mengolah buah unggulan menjadi produk pangan bernilai tambah,” ujar Menperin di Jakarta, Senin (11/5).
Menurut Agus, komoditas seperti pisang, mangga, nanas, durian, jeruk, dan manggis tidak hanya berpotensi dijual dalam bentuk segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk modern yang memiliki daya saing global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi pisang nasional pada 2024 mencapai 9,26 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$10,52 juta. Sementara produksi mangga mencapai 3,3 juta ton dengan nilai ekspor US$1,75 juta, sedangkan ekspor nanas segar dan olahan tercatat mencapai US$316,1 juta.
Penguatan hilirisasi tersebut juga dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan, industri olahan buah memiliki prospek besar seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat dan produk berbasis natural food.
Saat ini, sekitar 46,63 persen IKM nasional bergerak di sektor pangan. Karena itu, Ditjen IKMA terus melakukan pendampingan bagi pelaku IKM olahan buah melalui peningkatan teknologi produksi, penguatan kualitas kemasan, sertifikasi keamanan pangan, hingga perluasan akses pasar melalui pameran dan temu bisnis.
Meski peluang pasar terbuka lebar, hilirisasi industri buah tropis masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti stabilitas pasokan bahan baku, keterbatasan teknologi pengolahan, hingga branding dan pemasaran produk.
Untuk mendukung pengembangan usaha, Kemenperin juga mendorong pemanfaatan fasilitas pembiayaan Kredit Industri Padat Karya (KIPK). Salah satu IKM binaan, CV Sahabat Pangan, telah memperoleh pembiayaan Rp2 miliar untuk revitalisasi rumah produksi dan pengadaan mesin pengolahan modern guna memenuhi permintaan pasar ekspor.









