Indonesia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dengan Kazakhstan, Bidik Pasar Eurasia

0
137
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Astana, Kazakhstan) Seiring telah disepakati dan ditandatanganinya Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA) pada 21 Desember 2025, Indonesia terus mendorong pembukaan akses pasar serta peningkatan kerja sama perdagangan dengan negara-negara di kawasan EAEU. Kazakhstan, sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tengah, menjadi fokus utama dalam upaya tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Republik Kazakhstan Olzhas Bektenov di Government House, Astana, Senin (11/5). Pertemuan ini berlangsung di sela-sela Sidang Komisi Bersama (SKB) RI–Kazakhstan ke-2 dan menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan ekonomi strategis kedua negara.

Agenda utama pertemuan mencakup penguatan kerja sama perdagangan dan ekonomi serta perluasan kemitraan di berbagai sektor prioritas. Indonesia dipandang sebagai mitra strategis Kazakhstan di Asia Tenggara, sementara Kazakhstan menjadi mitra penting Indonesia di Asia Tengah sekaligus pintu masuk ke pasar Eurasia.

Dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar USD333,7 miliar dan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen pada 2025, Kazakhstan dinilai memiliki peran strategis bagi Indonesia, khususnya dalam penguatan perdagangan, investasi, konektivitas logistik, energi, mineral strategis, hingga transformasi digital.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga menegaskan bahwa Indonesia melihat Kazakhstan sebagai gerbang strategis menuju kawasan Eurasia dan mitra penting dalam diversifikasi perdagangan serta penguatan rantai pasok regional.

“Dengan posisi geografis dan konektivitas regional Kazakhstan, terdapat peluang besar untuk memperluas kerja sama perdagangan, investasi, dan kemitraan industri antara kedua negara,” ujar Airlangga.

Sementara itu, Perdana Menteri Bektenov menegaskan komitmen Kazakhstan untuk terus memperluas hubungan perdagangan dan investasi dengan Indonesia. Ia menilai potensi peningkatan kerja sama kedua negara masih sangat besar.

“Kazakhstan memberikan perhatian serius terhadap penguatan hubungan ekonomi dengan Indonesia dan terbuka untuk memperluas kerja sama investasi,” kata Bektenov.

Kedua pihak sepakat bahwa peluang kerja sama dapat diperluas di berbagai sektor, antara lain energi, industri, pertanian, pengolahan pangan, tekstil, perbankan syariah, ekonomi digital, pendidikan, dan pariwisata.

Di sektor energi, pembahasan difokuskan pada kerja sama transisi energi dan pengembangan energi terbarukan, sejalan dengan komitmen Indonesia mencapai net zero emission pada 2060. Selain itu, dibahas pula potensi kerja sama pengembangan panas bumi (geothermal), hilirisasi industri, serta ekosistem kendaraan listrik dan baterai, termasuk penjajakan di sektor migas.

Pada sektor ekonomi digital, Indonesia menargetkan nilai ekonomi digital meningkat dari sekitar USD130 miliar menjadi USD200 miliar pada 2030. Kedua negara melihat transformasi digital sebagai peluang strategis baru dalam memperkuat hubungan bilateral.

Dalam bidang investasi, kedua negara menekankan pentingnya penguatan mekanisme investasi dan kemudahan berusaha. Astana International Financial Centre dinilai sebagai platform strategis untuk mendukung peningkatan kerja sama investasi dan konektivitas ekonomi kawasan.

Selain itu, penguatan konektivitas logistik dan transportasi juga menjadi perhatian utama. Kedua pihak membahas pemanfaatan posisi Kazakhstan sebagai negara transit, pengembangan koridor transportasi internasional, serta penguatan jalur logistik dan terminal perdagangan sebagai pintu masuk ke pasar Asia Tengah dan Eurasia. Kerja sama ekonomi lintas batas juga dinilai penting untuk memperlancar arus perdagangan dan memperluas akses pasar.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga didampingi oleh Duta Besar RI untuk Kazakhstan Mochamad Fadjroel Rachman, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Bilateral Irwan Sinaga.