Sentra Kerajinan Bambu Didorong Jadi Motor Ekonomi Daerah

0
70
Furnitur dari bambu

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan berbasis potensi lokal guna meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperluas lapangan kerja. Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA), Kemenperin mendorong optimalisasi pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan untuk menghasilkan produk kerajinan yang berdaya saing tinggi, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar untuk dikembangkan menjadi produk kerajinan unggulan bernilai ekonomi tinggi. Ia menegaskan, penguatan sektor kerajinan tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung industri berkelanjutan.

“IKM kerajinan memanfaatkan sumber daya lokal seperti kayu, rotan, dan bambu. Produk yang dihasilkan tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Agus di Jakarta, Rabu (13/5).

Industri kerajinan tercatat sebagai salah satu subsektor penting dalam industri pengolahan nonmigas dengan kontribusi sebesar 2,10 persen terhadap PDB pada 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Sementara itu, kinerja ekspor produk kerajinan pada Februari 2026 meningkat 25,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menjelaskan bahwa pengembangan sentra IKM menjadi strategi efektif untuk memperkuat ekonomi daerah. Pendekatan berbasis sentra dinilai mampu menciptakan ekosistem usaha yang terintegrasi serta meningkatkan efektivitas pembinaan pelaku industri.

“Melalui pendekatan ini, tidak hanya individu yang dibina, tetapi juga ekosistem usaha secara keseluruhan sehingga lebih kuat dan berkelanjutan,” kata Reni.

Ia menambahkan, sentra IKM kerajinan juga berperan dalam menciptakan wirausaha baru serta membuka lapangan kerja, sehingga mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus mendukung pertumbuhan industri kreatif nasional.

Salah satu program yang dijalankan pada 2026 adalah pendampingan pengembangan sentra IKM kerajinan bambu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada 5–8 Mei 2026. Program ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-46 Dekranas dan bertujuan meningkatkan kapasitas perajin, regenerasi tenaga kerja, serta daya saing produk.

Menurut Reni, bambu memiliki potensi besar sebagai bahan baku karena ramah lingkungan, cepat tumbuh, dan tersedia melimpah di Indonesia. Tercatat terdapat 162 jenis bambu dengan luas kebun mencapai 2,4 juta hektare yang menghasilkan lebih dari 11 juta batang per tahun.

“Potensi bambu di Hulu Sungai Selatan sangat besar dan perlu dioptimalkan menjadi produk bernilai tambah tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Pengembangan kerajinan berbasis bambu juga dinilai sejalan dengan upaya mendorong industri hijau. Kemenperin pun mengajak pemerintah daerah untuk lebih aktif mengembangkan potensi tersebut menjadi produk yang kompetitif dan berorientasi pasar.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, menyampaikan bahwa sebanyak 35 perajin mengikuti program pendampingan yang mencakup pelatihan desain produk, teknik pengawetan bambu, hingga pengemasan modern.

“Konsumen kini tidak hanya melihat fungsi, tetapi juga desain, inovasi, dan kemasan ramah lingkungan. Karena itu, perajin harus mampu beradaptasi dengan tren pasar,” ujar Budi.

Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Ditjen IKMA, Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Dekranasda setempat. Selain pengembangan produk, hasil pendampingan juga diarahkan untuk diversifikasi dan kolaborasi dengan produk lokal seperti dodol khas daerah, khususnya dalam inovasi kemasan.

Sebagai tindak lanjut, produk hasil pendampingan akan dipromosikan melalui pusat oleh-oleh dan berbagai kanal pemasaran, serta ditampilkan dalam pameran seperti HUT Dekranas di Makassar dan Kriyanusa.

“Kami berharap para perajin bambu di Hulu Sungai Selatan dapat tumbuh menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan industri kerajinan yang maju, mandiri, dan berdaya saing,” tutup Budi.

Foto: Kemenperin