Di Balik Logo HUT ke-81 RI: Makna, Proses, dan Perjuangan Tim

0
79
Foto: Tangkapan Layar BPMI Setpres

(Vibizmedia – Jakarta) Sebuah notifikasi muncul di grup percakapan Auman Design Bureau pada awal Mei 2026. Pesan itu berisi pamflet digital dari akun Instagram Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) tentang pembukaan sayembara desain logo resmi HUT ke-81 Republik Indonesia.

Bagi Fajar Novario, informasi tersebut awalnya hanya dianggap sebagai peluang lomba yang patut dicoba. Ia bersama rekan-rekannya di studio desain yang berbasis di Padang, Sumatra Barat, memutuskan ikut tanpa ekspektasi tinggi—sekadar menguji kemampuan dan melihat sejauh mana desainer daerah bisa bersaing di tingkat nasional.

Keputusan sederhana itu justru membawa hasil besar. Fajar (27) bersama sepuluh anggota tim Auman Design Bureau berhasil menyisihkan sekitar 120 peserta dari berbagai daerah. Karya mereka akhirnya terpilih sebagai logo resmi peringatan HUT ke-81 RI.

Meski namanya diumumkan sebagai perancang utama, Fajar menegaskan bahwa karya tersebut merupakan hasil kerja kolektif tim.


Kritik Tajam Jadi Titik Balik

Perjalanan menuju kemenangan tidak mudah. Setelah lolos seleksi administrasi, kurasi portofolio, dan wawancara, Fajar masuk lima besar finalis yang berhak mengikuti tahap inkubasi.

Selama empat minggu, para finalis menjalani pendampingan intensif di bawah supervisi ADGI. Setiap konsep dievaluasi secara berkala, mulai dari riset hingga pengembangan visual.

Tantangan terbesar datang pada pekan kedua. Konsep awal tim dinilai terlalu kompleks karena memuat puluhan simbol sekaligus, sehingga kehilangan fokus.

Kritik tersebut menjadi titik balik. Fajar dan tim menyadari bahwa pesan besar tidak harus disampaikan melalui banyak elemen. Dengan waktu tersisa dua minggu, mereka memutuskan merombak desain dari awal.


Menyederhanakan Makna, Menguatkan Pesan

Pendekatan desain pun diubah. Tim tidak lagi memasukkan berbagai motif secara langsung, melainkan mencari bentuk yang mampu mewakili makna secara lebih universal.

Inspirasi datang dari pemikiran Presiden pertama RI, Soekarno, tentang tiga unsur pembentuk bangsa: kesamaan nasib, kehendak untuk bersatu, dan cinta tanah air.

Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam desain angka 8 dan 1, selaras dengan tema HUT ke-81 RI: “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Dari lima finalis, karya Fajar meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara publik pada 24–28 Juni 2026. Dari total 68.569 suara, desainnya memperoleh 30.699 suara atau sekitar 44,77 persen.


Filosofi di Balik Logo

Desain logo menampilkan angka 8 dengan garis saling bersilangan sebagai simbol kolektivitas dan gotong royong. Sementara angka 1 berbentuk jajar genjang yang mempertegas keterbacaan sekaligus melambangkan arah dan tujuan bersama.

Bentuk visual tersebut juga sengaja dibuat terbuka terhadap berbagai tafsir budaya. Masyarakat dari berbagai daerah dapat melihat keterkaitan dengan motif lokal masing-masing, menjadikan logo ini inklusif secara makna.


Tantangan Pasca Kemenangan

Setelah ditetapkan sebagai pemenang, Fajar dan tim dihadapkan pada tantangan baru: menyusun pedoman identitas visual dalam waktu singkat.

Mereka hanya memiliki sekitar delapan jam untuk menyiapkan panduan dasar sebelum pengumuman resmi. Meski awalnya sederhana, pedoman tersebut kemudian dikembangkan menjadi dokumen lengkap lebih dari 200 halaman yang dapat diakses publik.


Bukti Talenta Daerah

Bagi Fajar, kemenangan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga bukti bahwa talenta kreatif dari daerah mampu bersaing di tingkat nasional.

Ia berharap ke depan semakin banyak desainer lokal diberi ruang dalam proyek-proyek pemerintah di daerah masing-masing, tanpa harus bergantung pada studio dari kota besar.

Perjalanan ini berawal dari notifikasi sederhana, namun berujung pada kontribusi nyata dalam sejarah visual peringatan kemerdekaan Indonesia—membuktikan bahwa ide besar bisa lahir dari mana saja, termasuk dari sebuah studio di Padang.