Negara Berkembang Menghadapi Gelombang Penuaan Penduduk

0
52
Sisi Kehidupan Masyarakat Di Vietnam
Senyuman seorang nenek penjual bermacam -macam bubur (Foto: Ferdinan Rafeleas/Vibizmedia)

(Vibizmedia – Kolom) Populasi lansia berkembang pesat di negara-negara berkembang seperti Thailand, ketika tabungan masyarakat dan sumber daya pemerintah masih sangat terbatas.

Seorang perempuan berusia 57 tahun memulai pagi harinya dengan memandikan, mengganti pakaian, dan menyuapi ibunya yang berusia 85 tahun, yang menderita demensia dan menghabiskan hari-harinya di atas kasur yang terhampar di lantai kayu rumah keluarga mereka.

Ia kemudian menyiapkan sarapan untuk ayahnya yang berusia 87 tahun sebelum mengendarai sepeda motor menuju pekerjaannya sebagai pendamping kesehatan bagi 22 lansia lainnya di sebuah desa pertanian miskin di sebelah barat Bangkok. Tiga di antaranya terbaring di tempat tidur seperti ibunya, sementara sebagian besar lainnya sudah tidak mampu lagi meninggalkan rumah.

Keluarga tersebut bertahan hidup dari penghasilannya sebesar $90 per bulan sebagai pendamping kesehatan, tunjangan hari tua gabungan kedua orang tuanya sebesar $50 dari pemerintah, serta kiriman uang dari putra dan putrinya yang telah dewasa. Saudara laki-lakinya yang tinggal tidak jauh dari rumah hampir setiap pagi mengantarkan bahan makanan.

Perempuan tersebut mengatakan bahwa kehidupannya semakin sulit dari waktu ke waktu. Ia mulai merasakan nyeri pada punggung dan lutut akibat harus mengangkat orang-orang tanpa bantuan tempat tidur rumah sakit maupun peralatan medis khusus lainnya.

Negara-negara berkembang seperti Thailand mengalami penuaan penduduk sebelum benar-benar menjadi negara kaya. Masyarakat mereka menua dengan sangat cepat, tetapi tanpa sistem pensiun maupun tabungan pribadi yang mampu menopang kehidupan para lansia sebagaimana di sebagian besar negara maju.

Satu dari setiap enam warga Thailand kini berusia di atas 65 tahun sebagai dampak dari anjloknya angka kelahiran yang dimulai sejak dekade 1970-an. Dalam waktu sekitar satu dekade, tingkat fertilitas negara itu merosot dari rata-rata hampir enam anak per perempuan menjadi hanya sedikit di atas dua anak.

Saat ini tingkat fertilitas Thailand hanya 0,9, dibandingkan 1,6 di Amerika Serikat, serta kurang dari separuh tingkat yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan jumlah penduduk. Di sisi lain, harapan hidup rata-rata meningkat dari 51 tahun pada 1960 menjadi 77 tahun saat ini, hanya terpaut dua tahun dari Amerika Serikat.

Berbagai indikator demografi utama di banyak negara berkembang, terutama di Asia, kini mulai menyerupai negara-negara yang jauh lebih maju. Populasi usia kerja mereka telah mendekati puncaknya atau bahkan, seperti di Thailand, mulai menyusut. Mereka menghadapi kenyataan bahwa jumlah penduduk muda yang menopang populasi lansia akan semakin sedikit.

Negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Tiongkok, bahkan India—yang tingkat fertilitasnya turun menjadi 1,9 anak per perempuan pada 2024—mengalami penuaan penduduk ketika tingkat kemakmuran mereka masih jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat maupun negara-negara Eropa.

Amerika Serikat menjadi apa yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa didefinisikan sebagai aging society, yakni ketika sedikitnya 7% penduduk berusia di atas 65 tahun, pada awal dekade 1940-an. Negara tersebut kemudian membutuhkan lebih dari 70 tahun untuk berubah menjadi aged society, ketika proporsi kelompok usia tersebut meningkat dua kali lipat menjadi 14%.

Sebaliknya, Thailand memasuki kategori aging society pada 2004 dan berubah menjadi aged society hanya dalam waktu 18 tahun. Kedua negara diproyeksikan akan menjadi super-aged society, yaitu ketika sedikitnya 20% penduduk berusia 65 tahun atau lebih, sekitar tahun 2030. Namun ketika Amerika Serikat menjadi aged society pada 2014, produk domestik bruto (PDB) per kapitanya mencapai $55.264, sedangkan Thailand saat mencapai status yang sama pada 2022 hanya memiliki PDB per kapita sebesar $6.910.

Indonesia Menghadapi Tantangan Serupa

Indonesia termasuk negara yang akan mengalami proses penuaan penduduk dengan kecepatan yang relatif tinggi dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Indonesia diperkirakan telah memasuki kategori aging society pada awal dekade 2020-an, ketika sekitar 7% penduduknya telah berusia 65 tahun ke atas. Setelah itu, proporsi lansia diproyeksikan terus meningkat hingga Indonesia mencapai status aged society sekitar pertengahan hingga akhir dekade 2030-an, yakni ketika kelompok usia 65 tahun ke atas mencapai sekitar 14% dari total populasi.

Proses tersebut diperkirakan berlanjut sehingga Indonesia akan memasuki kategori super-aged society sekitar pertengahan abad ini, ketika sedikitnya 20% penduduk berusia 65 tahun atau lebih. Dengan kata lain, Indonesia diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar tiga dekade untuk bertransformasi dari masyarakat menua menjadi masyarakat supertua.

Kecepatan tersebut jauh lebih cepat dibandingkan negara-negara maju pada masa lalu. Amerika Serikat membutuhkan lebih dari 70 tahun untuk beralih dari aging society menjadi aged society, sedangkan sejumlah negara Eropa bahkan memerlukan waktu yang lebih panjang. Sebaliknya, Indonesia diproyeksikan akan melalui tahapan tersebut dalam kurun waktu yang jauh lebih singkat.

Perubahan ini mencerminkan kombinasi antara menurunnya angka kelahiran, meningkatnya harapan hidup, serta melambatnya pertumbuhan penduduk usia produktif. Dampaknya akan terasa pada berbagai sektor, mulai dari pasar tenaga kerja, sistem pensiun, pembiayaan layanan kesehatan, hingga meningkatnya kebutuhan layanan perawatan jangka panjang bagi lansia.

Meskipun Indonesia masih menikmati bonus demografi saat ini, tren tersebut menunjukkan bahwa jendela kesempatan tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Oleh karena itu, pemerintah perlu memanfaatkan periode bonus demografi untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memperkuat sistem perlindungan sosial, memperluas cakupan dana pensiun, serta mengembangkan layanan kesehatan dan perawatan lansia agar transisi menuju masyarakat yang menua dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Bakti kepada Orang Tua

Hingga dekade 1990-an, penurunan tajam angka kelahiran di Thailand justru dipandang sebagai keberhasilan oleh para ahli demografi yang khawatir terhadap ledakan populasi dan kelangkaan sumber daya.

Berbeda dengan kebijakan satu anak di Tiongkok yang bersifat memaksa, revolusi reproduksi di Thailand berlangsung melalui penyebaran penggunaan alat kontrasepsi secara sukarela, termasuk kepada perempuan yang telah menikah.

Kini pemerintah Thailand, seperti banyak negara lain di kawasan, berupaya mendorong perempuan untuk kembali memiliki lebih banyak anak. Sementara itu, Vietnam juga telah mencabut kebijakan pembatasan dua anak per keluarga karena sektor manufakturnya mulai menghadapi ancaman kekurangan tenaga kerja. Di Thailand sendiri, perekonomian masih bergantung pada sektor-sektor padat karya seperti pariwisata dan pertanian.

Menteri Pembangunan Sosial dan Keamanan Manusia Thailand mengatakan bahwa angkatan kerja negaranya terus menyusut sehingga output produksi diperkirakan akan ikut menurun.Sementara itu, generasi pertama warga Thailand yang memilih memiliki lebih sedikit anak kini mulai memasuki usia lanjut.

Perempuan yang menjadi pendamping kesehatan tersebut merupakan anak dari seorang ibu yang berasal dari keluarga besar dengan delapan bersaudara. Namun ibunya hanya memiliki dua anak. Ketika sang ibu mengalami patah tulang pinggul lima tahun lalu, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya di pemerintahan daerah untuk merawat kedua orang tuanya.

Survei Kantor Statistik Thailand pada 2024 menunjukkan bahwa 45% warga Thailand berusia di atas 60 tahun sama sekali tidak memiliki tabungan, sementara 35% lainnya memiliki tabungan kurang dari $3.000. Hampir separuh lansia Thailand tinggal bersama anak-anak mereka. Dari mereka yang tidak tinggal bersama anak, sekitar 80% tetap menerima bantuan keuangan dari anak-anaknya. Dua pertiga lansia yang membutuhkan bantuan fisik juga bergantung kepada anak-anak mereka sebagai perawat.

Tradisi merawat orang tua masih menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak keluarga di Thailand. Perempuan tersebut menjelaskan bahwa ibunya dahulu merawat orang tuanya sendiri, sedangkan kini dirinya mengambil tanggung jawab yang sama terhadap kedua orang tuanya.

Di salah satu desa di Thailand, sekitar 80% penduduk dewasanya telah berusia di atas 60 tahun. Sebagian besar penduduk usia muda telah pindah ke Bangkok maupun kota-kota lain untuk mencari pekerjaan.

Untuk mengurangi kesepian sekaligus membantu para lansia memperoleh tambahan penghasilan, pemerintah desa membentuk kelompok musik tradisional yang tampil pada pesta pernikahan dan berbagai acara masyarakat. Bahkan kelompok tari tradisional yang biasanya diisi perempuan muda kini sebagian anggotanya merupakan lansia berusia di atas 60 tahun.

Titik Kritis

Seorang ekonom dari Universitas Chulalongkorn di Bangkok menjelaskan bahwa jaringan sosial di pedesaan Thailand masih relatif kuat. Para tetangga kerap saling membantu, sementara para pendamping kesehatan masyarakat menutupi berbagai keterbatasan layanan sosial. Namun kondisi tersebut mulai berubah di kawasan perkotaan yang berkembang pesat.

Seorang perempuan berusia 71 tahun yang pernah bekerja sebagai juru masak di berbagai restoran di Bangkok selama puluhan tahun kini tidak lagi mampu berdiri dalam waktu lama. Ia tinggal bersama putranya yang bekerja di pabrik dan seorang cucu.

Pada suatu hari, ia ikut mengantre bersama sekitar 200 orang untuk memperoleh makanan gratis dari sebuah lembaga amal. Banyak di antara mereka merupakan tunawisma dan sekitar dua pertiganya adalah lansia.

Perempuan tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak pernah memiliki cukup uang untuk ditabung karena hampir seluruh penghasilannya selama bekerja digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Berbagai pemerintahan Thailand pernah membahas kenaikan tunjangan hari tua universal yang saat ini hanya berkisar antara $18 hingga $35 per bulan, tetapi usulan tersebut selalu dibatalkan karena pertimbangan biaya. Lansia masih dapat mengajukan bantuan tambahan berbasis kebutuhan hingga $90 per bulan.

Di luar itu, para lansia yang tidak memiliki tabungan maupun keluarga yang dapat menopang kehidupan mereka hampir tidak memiliki pilihan. Sebagian besar tempat penampungan tunawisma tidak menerima lansia yang sakit. Dengan jumlah penduduk sekitar 71 juta jiwa, Thailand hanya memiliki 25 panti jompo milik pemerintah yang menyediakan layanan berbiaya rendah atau gratis. Bank Dunia memperkirakan bahwa pada awal dekade 2040-an jumlah warga Thailand berusia di atas 80 tahun yang membutuhkan bantuan akan meningkat enam kali lipat menjadi sekitar 2,5 juta orang.

Sebagai salah satu solusi, pemerintah memperluas program keluarga asuh bagi lansia. Melalui skema tersebut, keluarga yang bersedia merawat lansia menerima bantuan dari pemerintah, sebagaimana konsep keluarga asuh bagi anak-anak.

Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah seorang mantan montir mobil berusia 71 tahun yang mengalami kesulitan bergerak setelah mengalami kecelakaan. Tetangganya yang berusia 67 tahun kemudian secara sukarela membantu memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan memperoleh bantuan sebesar $60 per bulan dari pemerintah. Sebagian besar dana tersebut digunakan kembali untuk membeli makanan bergizi, susu kedelai, serta kebutuhan lain yang diharapkan dapat membantu memulihkan kondisi pria tersebut. Sang tetangga mengaku terdorong membantu karena merasa prihatin melihat lansia itu menjalani hari-harinya seorang diri.