Hotspot Karhutla Melonjak, BNPB Kembali Lakukan Modifikasi Cuaca di Sumatera Selatan

0
49
Operasi Modifikasi Cuaca
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca yang dilakukan BNPB di wilayah Sumaters Selatan pada Selasa (4/8). Operasi dikendalikan dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Sumatera Selatan sebagai langkah percepatan penanganan darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi berlangsung selama tujuh hari, mulai 4 hingga 10 Agustus 2026, menyusul meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) dalam beberapa hari terakhir.

Operasi ini merupakan kali kedua yang dilaksanakan BNPB di Sumatera Selatan sepanjang 2026, setelah sebelumnya OMC digelar pada 5–14 Mei 2026.

Berdasarkan pemantauan satelit NASA NOAA-20, jumlah hotspot di Sumatera Selatan meningkat tajam dari 46 titik pada 2 Agustus menjadi 104 titik pada 3 Agustus 2026, menandakan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam mengendalikan karhutla, khususnya di enam provinsi prioritas yang memiliki kawasan gambut luas dan rentan terbakar, termasuk Sumatera Selatan.

Ia menjelaskan, pelaksanaan OMC merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bersama jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka pada 28 Juli 2026.

Dalam rapat tersebut, Presiden meminta kementerian dan lembaga terkait mengambil langkah antisipatif menghadapi musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino, dengan fokus menjaga ketersediaan air sekaligus mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

“Menindaklanjuti arahan Presiden, BNPB kembali menggelar operasi modifikasi cuaca di Sumatera Selatan dengan mempertimbangkan masih tersedianya potensi awan yang dapat disemai sesuai rekomendasi BMKG,” ujar Suharyanto.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sendiri telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Karhutla sejak 22 April hingga 30 November 2026. Gubernur Sumatera Selatan juga telah mengajukan permohonan dukungan OMC kepada BNPB sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan karhutla.

Operasi modifikasi cuaca dilaksanakan menggunakan pesawat fixed wing yang beroperasi dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, dengan dukungan TNI Angkatan Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta BPBD Provinsi Sumatera Selatan.

Pada hari pertama operasi, Selasa (4/8), BNPB menerbangkan satu sorti dengan menyemai 1.000 kilogram bahan semai di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Upaya tersebut berhasil memicu hujan dengan intensitas ringan di kedua wilayah tersebut, sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan kelembapan lahan dan mengurangi potensi penyebaran kebakaran.

BNPB menegaskan bahwa modifikasi cuaca merupakan bagian dari strategi terpadu penanggulangan karhutla yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha, dan masyarakat.

Menghadapi puncak musim kemarau, BNPB juga kembali mengingatkan pentingnya pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan. Pemerintah daerah, pelaku usaha kehutanan dan perkebunan, serta masyarakat diimbau memperkuat langkah-langkah pencegahan dini agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan bencana asap yang berdampak pada kesehatan maupun aktivitas ekonomi.

BNPB berharap sinergi antara operasi modifikasi cuaca, patroli darat, pemadaman dini, serta partisipasi masyarakat dapat menekan risiko karhutla selama musim kemarau 2026, khususnya di wilayah-wilayah dengan lahan gambut yang sangat rentan terhadap kebakaran.