Semester I 2026 Surplus, Ekspor Nonmigas Jadi Andalan

0
142
Foto: Kemendagri

(Vibizmedia – Jakarta) Surplus perdagangan nonmigas pada Juni 2026 sebesar USD 3,04 miliar kembali menjadi penopang utama neraca perdagangan Indonesia. Surplus tersebut mampu menahan defisit sektor migas yang mencapai USD 3,49 miliar. Meski secara keseluruhan neraca perdagangan mencatat defisit USD 450 juta, kinerja ekspor nonmigas berhasil mempersempit tekanan defisit pada bulan tersebut.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai kuatnya kinerja sektor nonmigas menjadi modal penting bagi ketahanan perdagangan nasional di tengah dinamika ekonomi global. Hal ini tercermin dari nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 yang tumbuh 9,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Penguatan ekspor nonmigas menunjukkan daya saing produk Indonesia tetap terjaga. Pemerintah akan terus memperluas akses pasar, meningkatkan promosi dagang, dan mengoptimalkan perjanjian perdagangan untuk mendorong ekspor,” ujar Budi Santoso.

Secara kumulatif, pada Semester I 2026 Indonesia masih mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 3,58 miliar. Surplus ini ditopang sektor nonmigas sebesar USD 19,35 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit USD 15,77 miliar.

Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai USD 10,44 miliar, disusul India USD 6,73 miliar dan Filipina USD 4,02 miliar. Sementara itu, komoditas utama penyumbang surplus berasal dari lemak dan minyak nabati/hewani, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 tercatat USD 25,46 miliar, naik 9,72 persen secara bulanan dan 8,84 persen secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh ekspor nonmigas yang mencapai USD 24,39 miliar.

Sepanjang Semester I 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 140,81 miliar atau tumbuh 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas menyumbang USD 134,58 miliar dengan pertumbuhan 4,90 persen.

Sektor industri pengolahan kembali menjadi penopang utama ekspor dengan kontribusi 82,02 persen. Selain itu, sektor pertambangan menyumbang 11,71 persen, migas 4,43 persen, dan pertanian 1,84 persen. Industri pengolahan juga menjadi satu-satunya sektor yang mencatat pertumbuhan positif sebesar 7,37 persen.

Beberapa komoditas mencatat pertumbuhan ekspor tertinggi, di antaranya aluminium, nikel, bahan kimia organik, serta tembaga. Dari sisi tujuan ekspor, Tiongkok masih menjadi pasar utama, diikuti Amerika Serikat dan India.

Mendag menilai capaian ini menjadi sinyal positif untuk kinerja ekspor pada Semester II 2026. Pemerintah akan terus memperkuat penetrasi pasar utama sekaligus membuka peluang di pasar nontradisional.

Di sisi lain, impor Indonesia pada Juni 2026 mencapai USD 25,91 miliar, meningkat 4,41 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan melonjak 34,27 persen secara tahunan. Secara kumulatif, impor Semester I 2026 mencapai USD 137,24 miliar atau tumbuh 18,69 persen.

Kenaikan impor didorong oleh peningkatan kebutuhan sektor migas maupun nonmigas. Dari struktur penggunaannya, impor masih didominasi bahan baku/penolong sebesar 71,37 persen, diikuti barang modal 19,94 persen, dan barang konsumsi 8,69 persen.

Menurut Budi Santoso, peningkatan impor mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi dalam negeri. Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan penguatan ekspor agar neraca perdagangan tetap sehat.

Dari sisi komoditas, lonjakan impor terbesar terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya, garam dan mineral, serta bijih logam. Sementara itu, Tiongkok tetap menjadi negara asal impor terbesar, diikuti Jepang dan Australia.