Strategi AS soal Mineral Kritis Buka Peluang bagi Indonesia

0
162
PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang memproduksi Chemical Grade Alumina. (Foto: PT ICA)

(Vibizmedia – Jakarta) Perubahan strategi Amerika Serikat (AS) dalam mengamankan pasokan mineral kritis (critical minerals) membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok industri global. Namun, peluang ini tidak cukup direspons dengan peningkatan produksi atau pembangunan smelter semata. Indonesia perlu memastikan bahwa mineral unggulannya mampu mendorong masuknya investasi, penguasaan teknologi, pengembangan manufaktur, serta penciptaan lapangan kerja bernilai tambah.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai langkah AS yang menyiapkan pembiayaan sekitar USD3 miliar untuk proyek pertambangan dan pengolahan mineral kritis serta bahan baterai mencerminkan pergeseran paradigma dalam kebijakan ekonomi global.

Menurutnya, negara-negara kini tidak hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi juga menitikberatkan pada keamanan dan keandalan pasokan guna menopang industri strategis. “Amerika menunjukkan bahwa untuk material yang menentukan masa depan industri, efisiensi tetap penting, tetapi tidak lagi berdiri sendiri. Kepastian pasokan, diversifikasi sumber, dan ketahanan rantai pasok kini memiliki nilai ekonomi tersendiri,” ujar Fakhrul, Minggu (9/8/2026).

Ia menyebut kondisi tersebut menandai semakin pentingnya konsep security of supply yang berjalan berdampingan dengan cost efficiency. Negara dan perusahaan bahkan bersedia menanggung biaya tambahan demi memastikan pasokan jangka panjang. “Dunia mulai menyadari bahwa pasokan termurah belum tentu yang paling bernilai. Reliability kini memiliki premium,” katanya.

Menurut Fakhrul, perubahan rantai pasok global ini merupakan peluang bagi Indonesia, namun harus direspons secara terarah. Indonesia tidak perlu menguasai seluruh jenis mineral kritis, melainkan fokus pada mineral yang memiliki keunggulan sumber daya dan basis industri.

Ia menyebut nikel, timah, dan tembaga sebagai kekuatan utama Indonesia. Nikel juga berkaitan erat dengan kobalt dalam rantai pengolahan nickel laterite. Mineral-mineral ini berperan penting dalam berbagai sektor strategis seperti elektrifikasi, jaringan listrik, baterai, elektronik, hingga manufaktur berteknologi tinggi. “Indonesia tidak perlu memiliki semua mineral kritis dunia untuk menjadi relevan. Kita harus fokus pada kekuatan kita dan membuat posisi Indonesia dalam rantai nilai semakin sulit tergantikan,” ujarnya.

Fakhrul menegaskan bahwa kepemilikan sumber daya saja tidak cukup. Nilai ekonomi baru tercipta ketika sumber daya tersebut dikonversi menjadi kapasitas industri, teknologi, lapangan kerja, dan daya tawar ekonomi. “Yang menentukan bukan hanya apa yang dimiliki, tetapi sejauh mana sumber daya itu diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi,” katanya.

Mengembangkan Rantai Nilai Pasok

Fakhrul menilai kebijakan hilirisasi yang telah dijalankan Indonesia menjadi fondasi penting. Namun, perubahan lanskap global menuntut langkah lanjutan. Jika tahap awal hilirisasi berfokus pada pengolahan sebelum ekspor, tahap berikutnya harus memperpanjang rantai nilai hingga advanced materials, komponen, manufaktur, dan teknologi.

“Keberhasilan tahap pertama adalah menghentikan ekspor bahan mentah. Tahap berikutnya adalah menarik modal, teknologi, engineering, dan manufaktur ke dalam negeri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa smelter bukan tujuan akhir. “Smelter bukan garis finis, melainkan pintu masuk menuju industrialisasi yang lebih dalam,” katanya.

Tantangan Indonesia saat ini adalah mengubah keunggulan sumber daya menjadi daya tarik bagi perusahaan global untuk membangun kapasitas produksi dan teknologi secara permanen di dalam negeri. “Indonesia sudah berhasil menarik dunia datang untuk mineralnya. Tahap berikutnya adalah membuat mereka bertahan dan membangun industrinya di sini,” ujarnya.

Untuk menarik investasi jangka panjang, kepastian regulasi menjadi kunci. Konsistensi kebijakan diperlukan dalam aspek perizinan, produksi, hingga rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). “Indonesia sudah memiliki geological certainty. Kini regulatory certainty harus menjadi keunggulan kompetitif,” kata Fakhrul.

Menurutnya, kepastian regulasi akan menentukan keberlanjutan investasi, terutama pada sektor yang membutuhkan modal besar dan waktu pengembalian panjang. “Mineral menarik investor datang, kepastian membuat mereka bertahan, dan konsistensi mendorong mereka membawa teknologi lebih maju,” ujarnya.

Di sisi lain, Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara penerimaan negara, pengembangan industri, keberlanjutan lingkungan, dan daya tarik investasi. Instrumen seperti royalti, PNBP, DHE, dan kewajiban domestik harus dipandang sebagai satu kesatuan kebijakan. “Kita tidak perlu memilih antara investasi dan penerimaan negara. Kebijakan yang tepat justru memperkuat keduanya,” katanya.

Langkah berikutnya adalah memperpanjang rantai nilai domestik. Pada nikel, pengembangan perlu diarahkan ke advanced materials dan industri turunannya. Tembaga dapat dikaitkan dengan elektrifikasi dan jaringan listrik, sementara timah dengan industri elektronik bernilai tambah tinggi. “Nilai terbesar mineral tidak berada saat ditambang, tetapi ketika dipadukan dengan pengetahuan, teknologi, dan manufaktur,” ujarnya.

Karena itu, kualitas investasi menjadi faktor penting. “Kita tidak hanya membutuhkan investasi yang menambah kapasitas, tetapi juga yang meningkatkan kemampuan ekonomi,” katanya.

Perubahan rantai pasok global juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pusat industri dunia. AS memiliki teknologi dan permintaan strategis, China kuat dalam pemrosesan dan manufaktur, Jepang dan Korea Selatan unggul di komponen industri, sementara Eropa menekankan teknologi dan keberlanjutan.

Dalam konfigurasi tersebut, Indonesia memiliki kombinasi sumber daya, pasar domestik, dan posisi strategis. “Indonesia tidak perlu memilih satu pihak. Nilai kita justru terletak pada kemampuan menjadi tempat berbagai kepentingan global bertemu dan berkembang bersama,” ujar Fakhrul.

Meningkatkan Daya Saing Mineral Indonesia

Menurut Fakhrul, Indonesia harus menawarkan lebih dari sekadar sumber daya. “Jika dunia mencari diversifikasi rantai pasok, kita tidak hanya menawarkan mineral, tetapi juga Indonesia sebagai basis pembangunan rantai pasok tersebut,” katanya.

Strategi Indonesia tidak harus menjadi pemain utama di semua mineral kritis. Fokus pada sektor unggulan akan lebih efektif. “Kita tidak perlu memenangkan semuanya. Pada sektor yang menjadi kekuatan kita, buat Indonesia tidak tergantikan,” ujarnya.

Ukuran keberhasilan pun harus bergeser, tidak hanya pada produksi atau ekspor, tetapi pada kemampuan menarik investasi jangka panjang, membangun industri, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat posisi dalam rantai produksi global.

“Dulu kita bertanya berapa banyak yang bisa diekspor. Lalu berapa yang bisa diolah. Kini pertanyaannya: berapa banyak industri baru yang bisa tumbuh karena mineral tersebut?” katanya.

Fakhrul menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengubah kekayaan sumber daya menjadi kekuatan ekonomi jangka panjang melalui kepastian pasokan, regulasi yang konsisten, infrastruktur, energi, dan ekosistem investasi yang kompetitif.

“Reliability akan menjadi aset ekonomi paling berharga ke depan. Indonesia tidak harus memiliki semuanya, tetapi harus sangat dapat diandalkan pada hal yang menjadi kekuatannya,” ujarnya.

Pada akhirnya, keberhasilan strategi mineral kritis Indonesia tidak diukur dari apa yang dihasilkan dari dalam tanah, tetapi dari kapasitas ekonomi yang dibangun di atasnya.

“Kekayaan terbesar Indonesia bukan hanya apa yang ada di bawah tanah, tetapi apa yang bisa kita bangun di atasnya—pengetahuan, teknologi, sumber daya manusia, dan industri,” tutup Fakhrul.