Dari Healthcare ke Health, Peluang Ekonomi Panjang Umur Asia

0
69
Mall of Asia
Mall of Asia. FOTO: VIBIZMEDIA.COM/SUWANDI KUSUMA

(Vibizmedia-Kolom) Asia sedang menghadapi salah satu perubahan demografis dan kesehatan terbesar dalam sejarahnya. Masyarakat hidup lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi pertambahan usia harapan hidup belum sepenuhnya diikuti oleh bertambahnya tahun yang dijalani dalam kondisi sehat. Tantangan ini membuat isu kesehatan tidak lagi sekadar persoalan layanan medis, rumah sakit, atau pengobatan penyakit, tetapi semakin terkait dengan produktivitas tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat.

Selama satu abad terakhir, usia harapan hidup di Asia meningkat sekitar 40 tahun dan mencapai rata-rata 75 tahun pada 2025. Kemajuan dalam layanan kesehatan, kondisi kehidupan, dan inovasi telah membantu menurunkan angka kematian dini secara signifikan. Namun, keberhasilan tersebut menciptakan tantangan baru: semakin banyak orang yang hidup lebih panjang, tetapi juga semakin banyak yang menghabiskan sebagian dari tambahan usia tersebut dalam kondisi kesehatan yang menurun.

Dalam 25 tahun terakhir saja, usia harapan hidup di Asia meningkat sekitar tujuh tahun, dari 68 menjadi 75 tahun. Namun, healthy life expectancy atau usia hidup sehat tidak meningkat dengan kecepatan yang sama. Perbedaan antara keduanya menunjukkan berapa lama seseorang harus menjalani hidup dalam kondisi kesehatan yang buruk. Pada 2025, penduduk Asia rata-rata menghabiskan sekitar 9,8 tahun hidupnya dalam kondisi kesehatan yang buruk, meningkat dibandingkan sekitar 8,5 tahun pada 2000.

Perbedaan tersebut juga tidak seragam di seluruh Asia. Jepang, Singapura, dan Korea Selatan mencatat sekitar 11 tahun kehidupan dalam kondisi kesehatan buruk pada 2025. Sementara itu, China, Indonesia, dan Vietnam berada di sekitar delapan tahun. Perempuan juga menghadapi kesenjangan yang lebih besar karena rata-rata menghabiskan sekitar dua tahun lebih lama dalam kondisi kesehatan buruk dibandingkan laki-laki.

Dari memperpanjang usia menuju memperpanjang usia sehat

Persoalan utama yang muncul adalah bagaimana memastikan tambahan tahun kehidupan tidak sekadar menjadi tambahan tahun yang harus dijalani dengan penyakit kronis, disabilitas, atau penurunan kemampuan fisik. Perubahan paradigma yang dibutuhkan adalah pergeseran dari healthcare menuju health: dari sistem yang terutama berfokus pada mengobati penyakit menjadi ekosistem yang juga secara sistematis mencegah penyakit dan mempertahankan kesehatan.

Menurut McKinsey Health Institute, dua tren utama berada di balik semakin lebarnya kesenjangan tersebut. Pertama adalah populasi yang menua. Kedua adalah meningkatnya penyakit tidak menular dan kondisi kronis. Kedua perkembangan ini saling berkaitan dan meningkatkan beban penyakit di berbagai negara Asia. Negara dengan proporsi penduduk lanjut usia yang semakin besar menghadapi tekanan yang lebih cepat terhadap sistem kesehatan dan ekonominya.

Namun, peningkatan beban penyakit bukan berarti hasil tersebut tidak dapat diubah. Sejumlah intervensi yang telah terbukti efektif dapat diperluas ke tingkat populasi. McKinsey Health Institute memperkirakan perluasan akses terhadap intervensi tersebut berpotensi mengurangi total beban penyakit sekitar 37 persen pada 2050, mencegah sekitar 22 juta kematian dini, dan menghasilkan tambahan 285 juta tahun hidup sehat setiap tahun.

Yang penting, sebagian besar dampak tersebut tidak hanya berasal dari pengobatan ketika penyakit sudah muncul. Sekitar dua pertiga dampak positif diperkirakan berasal dari intervensi pada tingkat populasi dan individu. Ini menunjukkan bahwa pencegahan, perubahan perilaku, lingkungan yang lebih sehat, serta intervensi sebelum penyakit berkembang memiliki posisi yang sangat penting dalam strategi kesehatan jangka panjang.

Ketika kesehatan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi

Argumen paling kuat untuk mengubah pendekatan kesehatan bukan hanya berasal dari manfaat medis. Kesehatan yang lebih baik memiliki konsekuensi ekonomi yang besar. McKinsey Health Institute memperkirakan peningkatan kesehatan dapat menambah sekitar US$6,2 triliun terhadap produk domestik bruto Asia setiap tahun pada 2050. Nilai tersebut setara dengan sekitar 7 persen dari total GDP kawasan.

Hubungan antara kesehatan dan ekonomi terutama terlihat pada produktivitas. Kondisi kesehatan yang buruk tidak hanya memengaruhi seseorang ketika sudah tua. Tahun-tahun kehidupan yang hilang akibat kesehatan buruk terjadi pada berbagai kelompok usia. Bahkan dalam populasi usia produktif, sekitar 65 persen tahun yang hilang akibat kesehatan buruk terjadi pada kelompok tersebut. Dengan demikian, memperpanjang masa hidup sehat berarti memperbesar jumlah tahun ketika seseorang dapat bekerja, berpartisipasi dalam ekonomi, dan berkontribusi secara produktif.

Sebaliknya, jika masalah tersebut dibiarkan, dampaknya dapat merambat ke seluruh perekonomian. Individu yang mengalami penyakit membutuhkan perawatan, dan kebutuhan tersebut sering kali juga mengurangi waktu serta produktivitas anggota keluarga yang merawatnya. Karena itu, kesehatan yang buruk menciptakan efek berantai melalui tenaga kerja, rumah tangga, sistem kesehatan, dan aktivitas ekonomi.

Potensi ekonominya bahkan lebih besar jika dilihat secara global. McKinsey memperkirakan perbaikan kesehatan dapat menghasilkan sekitar US$12,5 triliun tambahan GDP global. Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa investasi dalam kesehatan bukan semata-mata pengeluaran sosial, melainkan dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi.

Asia mulai membangun ekosistem pencegahan

Sejumlah negara mulai menunjukkan bagaimana perubahan dari healthcare menuju health dapat dilakukan. Singapura menjadi salah satu contoh yang menempatkan kesehatan dan pencegahan lebih dekat dengan sistem layanan kesehatan. Aplikasi Healthy 365 merupakan salah satu contoh pendekatan yang mengintegrasikan aktivitas dan upaya mempertahankan kesehatan masyarakat.

China memberikan contoh berbeda melalui pendekatan lingkungan. Air Control Act yang diterapkan pada 2013 membantu menghasilkan penurunan PM2.5 sebesar 33 persen. Contoh tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan kesehatan masyarakat tidak selalu harus berbentuk layanan medis. Regulasi lingkungan juga dapat menjadi instrumen penting untuk mengurangi beban penyakit.

India mengambil pendekatan melalui penguatan layanan berbasis komunitas dan pusat kesehatan. Negara tersebut membangun sekitar 150.000 health and wellness centers untuk memperluas akses terhadap layanan primer dan pencegahan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi kesehatan juga membutuhkan infrastruktur yang memungkinkan masyarakat memperoleh layanan sebelum kondisi penyakit menjadi lebih berat.

Jepang, dengan infrastruktur medis yang kuat dan populasi yang menua, menggunakan pendekatan berbasis komunitas. Regional community care plan menghubungkan layanan preventif dengan layanan kesehatan dan pencegahan yang dikelola di tingkat pemerintah daerah. Dengan demikian, pencegahan tidak berdiri sebagai aktivitas terpisah, tetapi menjadi bagian dari sistem pelayanan yang lebih luas.

Pencegahan sebagai investasi, bukan biaya

Salah satu hambatan terbesar dalam perubahan paradigma tersebut adalah cara melihat pencegahan. Banyak pemangku kepentingan masih menganggap pencegahan sebagai biaya tambahan. Padahal, perspektif ekonomi menunjukkan bahwa mempertahankan seseorang tetap sehat umumnya lebih murah dibandingkan menangani penyakit setelah berkembang.

Perubahan cara pandang ini penting karena investasi kesehatan memiliki manfaat yang melampaui individu. Ketika seseorang tetap sehat lebih lama, manfaatnya dapat muncul dalam bentuk produktivitas yang lebih tinggi, berkurangnya kebutuhan perawatan, meningkatnya partisipasi tenaga kerja, dan berkurangnya beban terhadap keluarga. Dengan kata lain, return on investment dari kesehatan tidak hanya dihitung melalui penghematan biaya rumah sakit, tetapi juga melalui nilai ekonomi yang tercipta karena masyarakat dapat hidup dan bekerja lebih sehat.

Perubahan ini juga mulai membentuk sebuah prevention economy ecosystem. Isu kesehatan tidak lagi hanya menjadi urusan pemerintah dan penyedia layanan medis. Industri ritel konsumen, perusahaan kesehatan dan wellness, hingga investor mulai melihat peluang ekonomi yang lebih luas dari meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan dan umur panjang.

Secara global, industri health and wellness diperkirakan dapat mencapai sekitar US$3 triliun pada 2040, mendekati ukuran industri manufaktur otomotif global yang saat ini sekitar US$2,8 triliun. Investasi swasta juga bergerak semakin cepat. Antara 2024 dan 2025, investasi yang ditujukan pada penjualan health and wellness kepada perempuan meningkat 55 persen.

Peluang besar di balik masyarakat yang menua

Bagi Asia, perubahan demografi dapat dilihat bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi. Populasi yang semakin tua memang meningkatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan. Namun, jika negara berhasil meningkatkan healthy life expectancy, masyarakat dapat mempertahankan produktivitas lebih lama.

Hal ini sangat penting bagi negara-negara yang menghadapi keterbatasan pertumbuhan populasi. Ketika jumlah penduduk usia kerja tidak dapat bertambah dengan cepat, meningkatkan kualitas kesehatan penduduk yang sudah ada menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kapasitas ekonomi. Penduduk yang lebih sehat dapat bekerja lebih produktif dan membutuhkan lebih sedikit perawatan akibat penyakit kronis.

Pada akhirnya, peluang terbesar bukan sekadar membuat manusia hidup lebih lama. Yang lebih penting adalah membuat tambahan usia tersebut menjadi tahun-tahun kehidupan yang sehat dan produktif. McKinsey memperkirakan peluang tersebut setara dengan sekitar sembilan tahun tambahan kehidupan sehat bagi setiap individu.

Angka tersebut memberikan perspektif yang berbeda mengenai hubungan antara kesehatan dan ekonomi. Sembilan tahun kehidupan sehat bukan sekadar statistik demografi. Itu dapat berarti lebih banyak waktu untuk bekerja, beraktivitas bersama keluarga, berpartisipasi dalam masyarakat, dan menjalani kehidupan dengan kemampuan fisik yang lebih baik.

Karena itu, agenda longevity Asia seharusnya tidak berhenti pada bagaimana sistem kesehatan menangani populasi yang semakin tua. Fokusnya perlu bergeser pada bagaimana negara menciptakan kondisi agar masyarakat dapat tetap sehat selama mungkin. Tantangannya adalah membangun infrastruktur pencegahan, memperkuat layanan primer, memperbaiki lingkungan, mendorong perilaku sehat, menggunakan teknologi secara efektif, dan memastikan intervensi yang terbukti efektif dapat menjangkau populasi secara luas.

Asia telah berhasil memperpanjang kehidupan. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa tambahan kehidupan tersebut juga menjadi tambahan tahun yang sehat. Jika berhasil, transformasi dari healthcare menuju health bukan hanya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi terbesar Asia dalam beberapa dekade mendatang.