Indonesia Perkuat Ekosistem AI dari Infrastruktur, Chip hingga Talenta

0
60
Foto: Kemkomdigi

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan strategi pengembangan kecerdasan artifisial (AI) yang mencakup seluruh rantai ekosistem, mulai dari energi, infrastruktur, chip, talenta, hingga aplikasi. Strategi tersebut diarahkan agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu mengambil peran penting dalam pengembangan AI di tingkat global.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem AI nasional secara menyeluruh. Menurutnya, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas di berbagai lapisan agar memiliki posisi strategis dalam perkembangan AI global.

“Pada ujungnya kita tidak ingin hanya menjadi user, kita ingin menjadi player yang signifikan di dalam pengembangan AI di tingkat global,” ujar Nezar dalam acara UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center di Yogyakarta, Kamis (13/8/2026).

Nezar menjelaskan, pemerintah menggunakan pendekatan full stack of AI untuk memetakan ekosistem AI secara komprehensif. Terdapat lima lapisan utama yang menjadi perhatian, yakni energi, infrastruktur, chip, talenta, dan aplikasi.

“Layer pertama itu energi, lalu kemudian ada infrastruktur, lalu kemudian ada chip, lalu kemudian talent, lalu baru aplikasi,” jelasnya.

Pada tahap pengembangan saat ini, Indonesia masih berfokus pada pemanfaatan aplikasi berbasis foundation model yang telah tersedia. Teknologi tersebut kemudian dikembangkan melalui proses post-training agar dapat menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan berbagai sektor.

Pendekatan ini dinilai lebih realistis karena membangun foundation model dari awal membutuhkan investasi besar, infrastruktur komputasi yang kuat, serta waktu pengembangan yang panjang.

“Kita coba menggunakan foundation model yang sudah ada, kemudian dilakukan sejumlah post-training untuk memecahkan sejumlah solusi-solusi, seperti untuk kesehatan, lalu untuk pertanian, dan juga di bidang pendidikan,” kata Nezar.

Meski demikian, pemerintah tidak ingin pengembangan AI nasional berhenti pada tingkat aplikasi. Ketergantungan hanya pada aplikasi dan model yang dikembangkan pihak lain berpotensi membuat Indonesia tetap berada pada posisi sebagai pengguna teknologi.

Karena itu, Peta Jalan Nasional Pengembangan AI yang tengah disusun akan diarahkan untuk mendorong kolaborasi, inovasi, dan investasi di seluruh lapisan ekosistem AI.

“Kita coba melihat full stack of AI ini lebih strategis,” tegas Nezar.

Penguatan ekosistem tersebut juga mencakup pengembangan infrastruktur dan industri chip. Indonesia akan memanfaatkan keunggulan sumber daya nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi strategis untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok teknologi AI.

Salah satu modal yang dapat dimanfaatkan adalah kekayaan mineral kritis. Menurut Nezar, ketersediaan critical minerals menjadi peluang bagi Indonesia untuk masuk lebih jauh ke dalam rantai nilai ekosistem AI, khususnya melalui hilirisasi dan pengembangan industri bernilai tambah.

“Kita punya critical minerals yang cukup banyak dan cukup strategis,” pungkasnya.