Pascagempa NTT, Kemenhub Jaga Konektivitas Udara, Laut, dan Darat

0
65
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memastikan konektivitas transportasi di wilayah terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap terjaga di tengah penanganan bencana dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. (Foto: Kementerian Perhubungan)

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memastikan konektivitas transportasi di wilayah terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap berjalan. Langkah tersebut dilakukan di tengah upaya penanganan bencana sekaligus momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus melakukan pemeriksaan dan asesmen terhadap kondisi bandar udara dan pelabuhan di wilayah terdampak. Konektivitas transportasi udara dan laut juga dijaga untuk mendukung mobilisasi masyarakat serta distribusi bantuan dengan tetap mengutamakan keselamatan.

“Semangat kemerdekaan bukan hanya kita tunjukkan melalui perayaan, tetapi juga melalui kepedulian dan kerja nyata ketika saudara-saudara kita sedang menghadapi bencana. Kemenhub terus menjaga agar akses transportasi di Indonesia, khususnya di kawasan bencana dapat tetap berjalan dengan baik,” ujar Dudy di Jakarta, Senin (17/8/2026).

Menurut Dudy, transportasi memiliki posisi penting dalam penanganan bencana karena menjadi penghubung masyarakat sekaligus jalur mobilisasi bantuan. Karena itu, operasional transportasi dipastikan tetap berjalan secara optimal dengan mengedepankan aspek keselamatan.

“Transportasi memiliki peran penting dalam situasi seperti ini, karena bantuan tidak akan sampai kepada masyarakat tanpa adanya jalur yang aman untuk bergerak,” katanya.

Lima Bandara Terdampak Tetap Beroperasi

Gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026) berdampak pada beberapa sarana dan prasarana transportasi, terutama bandar udara dan pelabuhan.

Di sektor transportasi udara, lima bandar udara dilaporkan terdampak, yakni Bandara Komodo di Labuan Bajo, Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Bandara Frans Sales Lega di Ruteng, serta Bandara Soa di Bajawa.

Kerusakan ditemukan pada sejumlah fasilitas, seperti gedung terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, fasilitas pendukung, hingga sisi udara. Tingkat kerusakan berbeda-beda di setiap bandara.

Meski mengalami dampak gempa, seluruh bandara tersebut tetap beroperasi dan tidak ada yang ditutup. Konektivitas udara juga terus dipersiapkan untuk menunjang kebutuhan penanganan bencana, termasuk mobilisasi personel, peralatan, serta penyaluran bantuan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub juga menyiapkan skema Get Airport Ready for Disaster (GARD). Skema tersebut memungkinkan bandar udara dioptimalkan untuk mendukung operasi kemanusiaan apabila dibutuhkan.

Di sisi navigasi penerbangan, sejumlah unit pelayanan di wilayah terdampak melakukan penyesuaian agar layanan tetap berlangsung dengan aman.

Unit pelayanan navigasi di Labuan Bajo, Ende, Maumere, Bajawa, dan Ruteng turut terdampak gempa. Pada lokasi yang mengalami kerusakan pada gedung tower, pelayanan navigasi sementara dialihkan ke lokasi yang dinilai aman dengan menerapkan contingency plan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kesinambungan pelayanan navigasi sekaligus menjaga keselamatan penerbangan.

Pelabuhan NTT Kembali Layani Kapal dan Penumpang

Dampak gempa juga dirasakan pada sektor transportasi laut. Kerusakan dilaporkan terjadi di Pelabuhan Laurentius Say dan Pelabuhan Reo.

Kerusakan ringan hingga sedang juga ditemukan di Pelabuhan Labuan Bajo, Pelabuhan Marapokot, Pelabuhan Ende, dan Pelabuhan Waingapu.

Meski demikian, pelabuhan-pelabuhan tersebut telah kembali melayani operasional kapal dan penumpang dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.

Kemenhub juga menyiagakan posko di sejumlah pelabuhan untuk mendukung pelayanan sekaligus memantau perkembangan kondisi pascagempa.

“Pelabuhan secara umum telah beroperasi dengan normal dengan mengutamakan keselamatan. Menyiagakan posko-posko di pelabuhan. Untuk layanan perintis berjalan seperti biasa dan belum ada permintaan deviasi trayek,” demikian keterangan Kemenhub.

Sementara itu, layanan angkutan jalan perintis juga disiapkan untuk kembali beroperasi seiring dengan pulihnya akses jalan yang sebelumnya sempat terganggu akibat longsoran pascagempa.

Kemenhub terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan jalur transportasi yang digunakan masyarakat maupun distribusi bantuan berada dalam kondisi aman.

Koordinasi dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI/Polri, pemerintah daerah, penyelenggara transportasi, serta operator.

“Karena itu, Kemenhub terus berkoordinasi dengan BMKG, BNPB, Basarnas, TNI/Polri, pemerintah daerah, penyelenggara transportasi, dan operator untuk memastikan setiap keputusan operasional didasarkan pada kondisi terbaru di lapangan,” ujar Dudy.

Menurutnya, terjaganya konektivitas transportasi merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan nasional. Terlebih, akses transportasi yang aman dan berfungsi baik sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat serta mempercepat distribusi bantuan ketika suatu wilayah menghadapi bencana.