OMC Digelar, Ribuan Titik Panas Masih Mengancam Kalbar

0
155
Water bombing
Operasi water bombing untuk pemadaman karhutla di wilayah Kalimantan Barat, Selasa 25 Agustus 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar). Hingga Selasa (25/8), lebih dari 2.610 titik panas teridentifikasi, sementara 64 titik masih ditemukan memiliki api.

Untuk memperkuat penanganan karhutla, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan memanfaatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalbar.

Pada Selasa (25/8), Satuan Tugas Udara dengan dukungan BNPB melaksanakan dua sorti OMC. Sebanyak 2.000 kilogram bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) disebarkan ke awan di wilayah Bengkayang, Landak, dan Sanggau.

Operasi serupa kembali dilaksanakan pada Rabu (26/8) dengan satu sorti penyemaian bahan semai di wilayah Bengkayang dan Sambas.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperbesar peluang turunnya hujan. Curah hujan diharapkan dapat membantu membasahi lahan sekaligus mempercepat pemadaman titik api dan mengurangi potensi meluasnya karhutla.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sejumlah wilayah Kalbar berpotensi mengalami hujan ringan pada periode 26 Agustus hingga 1 September 2026. Kondisi ini menjadi peluang yang dimanfaatkan melalui pelaksanaan OMC.

Berdasarkan data Pos Komando (Posko) Penanganan Bencana Asap Kalbar, dari lebih 2.610 titik panas yang teridentifikasi pada Selasa, sebanyak 86 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi, 2.447 titik kategori menengah, dan 77 titik kategori rendah.

Ancaman karhutla juga terlihat dari luas lahan yang telah terbakar. Sejak awal 2026 hingga Juni, luas lahan terbakar di Kalbar tercatat mencapai 38.310,89 hektare.

Sejumlah wilayah ditetapkan sebagai prioritas tinggi penanganan, yakni Ketapang, Kubu Raya, Melawi, dan Kayong Utara. Sementara itu, Sintang, Sambas, Sekadau, Landak, dan Bengkayang masuk dalam wilayah dengan prioritas penanganan sedang.

Dampak karhutla juga mulai terlihat dari kualitas udara. Pemantauan rata-rata harian menunjukkan wilayah Jongkat dan Sungai Tebelian berada dalam kategori tidak sehat. Sementara Sungai Raya tercatat berada pada kategori sangat tidak sehat.

Pelaksanaan OMC di Kalbar menggunakan pesawat Cassa TNI AU yang beroperasi dari Lanud Supadio, Pontianak. BNPB menjalankan operasi ini bersama Kementerian Pertahanan, BMKG, dan TNI AU.

Selain OMC, Satuan Tugas Udara juga mengerahkan helikopter untuk melakukan water-bombing serta patroli udara. Di darat, lebih dari 2.700 personel dari berbagai unsur dikerahkan untuk menemukan, memadamkan, dan memastikan titik api maupun titik panas tidak kembali meluas.

BNPB meminta Posko Penanganan Bencana Asap Kalbar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan karhutla selama periode 26 Agustus hingga 1 September 2026.

Dengan masih tingginya jumlah titik panas, potensi hujan dalam sepekan ke depan menjadi momentum penting untuk memperkuat upaya pemadaman dan mencegah karhutla berkembang menjadi bencana asap yang lebih luas.