Era Baru Ritel Indonesia, Teknologi dan AI Kunci Menangkan Konsumen

0
72
Pembukaan Indonesia Retail Summit and Expo (IRSE) 2026 di Pantai Indah Kapuk (PIK) Avenue, Jakarta Utara, pada Rabu, (26 Agustus). (Foto: Kemendag)

(Vibizmedia – Industry) Seiring meningkatnya ekspektasi konsumen ritel, industri ritel Indonesia menghadapi perubahan besar. Kemudahan memperoleh informasi dan semakin banyaknya pilihan membuat konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan harga dan produk, tetapi juga pengalaman berbelanja.

Pemanfaatan teknologi menjadi kunci bagi peritel untuk tetap relevan dan kompetitif. Terkait hal ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan transformasi digital perlu diarahkan untuk memahami perubahan perilaku konsumen sekaligus menciptakan pengalaman belanja yang lebih konsisten dan sesuai kebutuhan.

“Penggunaan teknologi yang tepat dapat menjadi salah satu cara sektor ritel untuk mengakomodasi perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja sekaligus memperkuat daya saing industri ritel nasional,” ujar Budi seusai mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka Indonesia Retail Summit and Expo (IRSE) 2026 di PIK Avenue, Jakarta Utara, Rabu (26/8/2026).

Menurut Budi, ritel merupakan garda terdepan perdagangan dalam negeri karena menjadi penghubung antara industri dan konsumen. Kinerja sektor ini juga mencerminkan kekuatan konsumsi masyarakat yang menjadi salah satu motor utama perekonomian nasional.

Airlangga menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Pengeluaran konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi 53,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kepercayaan konsumen pun tetap positif, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 yang mencapai 116,8.

Transformasi ritel semakin terbuka dengan dukungan ekosistem digital. Salah satunya melalui QRIS yang telah digunakan 65,77 juta pengguna dan diterima 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan UMKM.

Ketua Umum HIPPINDO Budihardjo Iduansjah menilai peritel harus semakin cepat beradaptasi melalui pemanfaatan algoritma, kecerdasan buatan (AI), dan digitalisasi. Ritel luring pun dituntut menggabungkan kekuatan toko fisik dengan teknologi agar tidak tertinggal.

IRSE 2026 menghadirkan 31 sesi konferensi, 55 pembicara, dan 93 peserta pameran, sekaligus menjadi ruang kolaborasi, investasi, perluasan pasar, serta penguatan kapasitas industri ritel nasional.

Melalui IRSE 2026 yang bertema “Rethinking Retail: The Future is Customer-Led”, pemerintah dan pelaku usaha mendorong ritel Indonesia tidak sekadar mengejar transaksi, tetapi membangun bisnis yang inovatif dan berkelanjutan.