IKM Sasirangan Olah Limbah Jadi Berkah

0
49
Infografis Pengelolaan Limbah (Foto: ESDM)

(Vibizmedia – Industry) Industri kecil dan menengah (IKM) Sasirangan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, memasuki tahap produksi yang lebih ramah lingkungan. Melalui Program Percepatan Pemanfaatan Teknologi melalui Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri (DAPATI), Kementerian Perindustrian membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Sentra Sasirangan Timbaan.

Fasilitas tersebut menjadi solusi atas persoalan limbah cair dari proses pewarnaan kain sasirangan yang sebelumnya dibuang langsung ke sumur resapan tanpa pengolahan. Praktik tersebut berpotensi mencemari lingkungan jika terus berlangsung.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat penerapan prinsip industri hijau.

“Kementerian Perindustrian terus berupaya menerapkan teknologi tepat guna yang mampu meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus memperkuat aspek keberlanjutan lingkungan,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Melalui DAPATI, Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) bersama BSPJI Banjarbaru merancang IPAL yang sederhana, mudah dioperasikan, serta memanfaatkan material lokal.

Instalasi berkapasitas sekitar 3.500 liter itu terdiri atas tujuh bak pengolahan, termasuk elektrokoagulasi dan penyaringan menggunakan ijuk, arang, pecahan genteng, sabut kelapa, serta limbah tumbuhan purun.

Hasil pengujian menunjukkan teknologi tersebut mampu menurunkan sejumlah parameter pencemar secara signifikan. Kadar hidrogen sulfida turun 98,75 persen, minyak dan lemak 97,33 persen, fenol 91,66 persen, BOD 81,77 persen, dan COD 80,44 persen.

Tak hanya mengurangi dampak lingkungan, sekitar 90 persen air hasil pengolahan juga dapat digunakan kembali untuk membersihkan peralatan produksi dan area kerja. Dengan demikian, IKM dapat menghemat penggunaan air bersih sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kepala BSKJI Emmy Suryandari menilai DAPATI selain menghadirkan teknologi, juga memperkuat kemampuan sumber daya manusia agar pelaku IKM mampu mengoperasikan dan merawat fasilitas secara mandiri.

Program ini turut dilengkapi bimbingan teknis bagi 15 peserta mengenai pengoperasian IPAL, perawatan, standar baku mutu air limbah, pengelolaan lingkungan, serta kewirausahaan dan pemasaran.

Sentra Sasirangan Timbaan beranggotakan sembilan pengrajin dengan sekitar 100 tenaga kerja. Setiap proses produksi menghasilkan sekitar 250 liter limbah cair. Kehadiran IPAL berkapasitas jauh lebih besar dari fasilitas sebelumnya diharapkan menjadi model pengelolaan limbah bagi sentra sasirangan dan IKM lainnya.