Rotan dan Batik Jadi Kekuatan Komoditas Nonmigas dari Jawa Tengah

0
53
Wamendag Roro Pantau Kesiapan UMKM di Solo Jelang TEI 2026 (Foto: Kemendag)

(Vibizmedia – Commodity) Penguatan ekspor Indonesia tidak hanya bertumpu pada komoditas berskala besar. Produk berbasis industri kreatif seperti furnitur rotan dan batik memiliki peluang semakin besar untuk memperkuat ekspor nonmigas sekaligus memberikan dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat di daerah.

Potensi ini ada salah satunya di Sukoharjo dan Surakarta, Jawa Tengah. Desa Trangsan, Sukoharjo, misalnya, telah berkembang sebagai Desa Devisa Rotan. Produk furnitur rotan yang dihasilkan Reka Design bahkan telah menembus pasar Eropa dan Amerika.

Di balik aktivitas ekspor tersebut terdapat ratusan perajin yang menjadi bagian penting dalam rantai produksi. Meningkatnya permintaan pasar internasional berarti terbukanya lapangan pekerjaan, meningkatnya aktivitas produksi, serta semakin luasnya penyerapan bahan baku rotan. Dengan demikian, ekspor tidak berhenti pada nilai transaksi, tetapi ikut menggerakkan perekonomian masyarakat.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menilai kekuatan produk rotan Indonesia terletak pada karakter desain, keterampilan perajin, serta kemampuan memenuhi standar pasar global. Karena itu, keberlanjutan industri perlu dijaga melalui regenerasi perajin, inovasi desain, dan kepastian pasokan bahan baku.

Selain rotan, batik menjadi komoditas nonmigas berbasis budaya yang memiliki daya saing tersendiri. Sentra batik Laweyan dan Kauman di Surakarta terus mengembangkan produk dengan memadukan teknik tradisional dan desain yang lebih sesuai dengan selera pasar modern.

Sejumlah UMKM batik bahkan telah membangun hubungan dagang dengan buyer dari Asia Tenggara, Jepang hingga Eropa. Upaya memperluas pasar juga dilakukan melalui pengembangan jenama baru yang menyasar konsumen muda, sehingga batik tetap memiliki relevansi ekonomi sekaligus mempertahankan nilai budayanya.

Peluang memperluas pasar kedua komoditas tersebut terbuka melalui Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Kementerian Perdagangan menyiapkan business matching dan business pitching untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon buyer internasional, didukung perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.

Pada TEI 2025, pameran tersebut mencatat kehadiran 8.045 buyer dari berbagai negara. Momentum serupa diharapkan kembali membuka pasar bagi produk nonmigas Indonesia.

Di sisi perajin, semakin luas pasar ekspor bukan sekadar peningkatan penjualan. Di dalamnya terdapat peluang untuk menjaga keberlanjutan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, mempertahankan keterampilan lokal, serta memperluas manfaat ekonomi hingga ke tingkat masyarakat.

Komoditas seperti rotan dan batik, ekspor nonmigas Indonesia memiliki karakter yang tidak hanya berorientasi pada pasar global, tetapi juga berakar kuat pada ekonomi rakyat.