(Vibizmedia – Industry) Indonesia mempercepat transformasi dari sekadar pasar pengguna teknologi menjadi negara yang mampu menghasilkan produk dan layanan digital bernilai tambah.
Talenta digital nasional didorong tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menciptakan inovasi yang dapat dikomersialisasikan hingga menembus pasar internasional.
Hal ini ditekankan oleh Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri dalam forum High Level Talk Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI X IFSE) 2026, Jumat (25/9). Forum bertema “Women and Talent: Mencetak Talenta Digital dan Ekspansi Ekonomi Berbasis Inovasi” itu menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah, industri, dan akademisi dalam membangun ekonomi berbasis inovasi.
“Pasar yang besar belum tentu menjadi jaminan Indonesia dapat menjadi pemain utama ekonomi digital. Tantangannya adalah bagaimana mengubah jumlah pengguna dan konsumen digital menjadi kapasitas produksi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Roro.
Kolaborasi triple helix menjadi salah satu strategi penting. Akademisi berperan menghasilkan ide dan inovasi berbasis riset. Industri menerjemahkannya menjadi produk dan solusi yang dapat diterapkan, sedangkan pemerintah menyediakan kebijakan dan ekosistem pendukung.
Kemendag telah menerapkan pendekatan tersebut melalui berbagai program, antara lain digitalisasi pasar rakyat, pemanfaatan QRIS, pencatatan omzet dan informasi harga, serta InaExport sebagai etalase digital untuk mempertemukan produk lokal dengan buyer internasional.
Kemendag juga mendorong onboarding UMKM ke platform e-commerce, fasilitasi ekspor melalui kanal digital, hingga program magang mahasiswa di perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.
Program Campuspreneur juga dikembangkan bersama perguruan tinggi untuk memperkuat kemampuan digital dan kewirausahaan, bekerja sama dengan Apple Academy.
Peran perempuan menjadi bagian penting dalam transformasi ini. Pada 2025, ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$99 miliar atau sekitar 34 persen dari ekonomi digital ASEAN. Sementara itu, sekitar 64,5 persen UMKM Indonesia dikelola perempuan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai perguruan tinggi perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menambah program studi teknis. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menekankan teknologi harus meningkatkan produktivitas, sementara Yenni Wahid menyoroti pentingnya mengatasi kesenjangan digital melalui konektivitas dan penguatan keterampilan.
CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menambahkan, pemanfaatan AI dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan efisiensi dan adaptasi bisnis.
Roro mengingatkan, teknologi harus menjadi alat yang memperkuat manusia dan membuka peluang baru.









