Gastronomi Berkelanjutan Jadi Fokus WIG Artisan Market 2026

0
124
Foto: Kemenpar

(Vibizmedia – DI Yogyakarta) Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan pentingnya penguatan ekosistem gastronomi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat meninjau pelaksanaan WIG Artisan Market 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).

Bagian dari rangkaian Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 tersebut mempertemukan pelaku usaha gastronomi, UMKM, industri, dan konsumen melalui beragam produk pangan tradisional maupun inovatif dari wilayah Joglosemar dan Jakarta.

Menurut Widiyanti, ruang interaksi seperti WIG Artisan Market memiliki peran penting karena tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi produk, tetapi juga menjadi tempat bertemunya berbagai unsur dalam rantai ekosistem gastronomi.

“Keberadaan ruang temu antara produsen, UMKM, industri, dan konsumen menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem gastronomi yang berkelanjutan. Dengan demikian, kekayaan kuliner tidak hanya terjaga sebagai warisan, tetapi juga terus berkembang menjadi sumber nilai tambah dan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Widiyanti.

Ia menilai produk yang ditampilkan dalam WIG Artisan Market 2026 menunjukkan bahwa kekayaan bahan baku dan tradisi kuliner Indonesia dapat dikembangkan melalui inovasi dan kreativitas sehingga menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah sekaligus daya saing.

Sebanyak 21 tenant dari wilayah Joglosemar dan Jakarta ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka menghadirkan berbagai produk berbasis bahan lokal dengan mengedepankan kualitas, kreativitas, serta prinsip keberlanjutan dalam proses produksinya.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah Mazaraat Artisan Cheese, produsen keju artisan yang didirikan Jamie Najmi dan Nieta Pricillia. Dalam proses produksinya, Mazaraat memanfaatkan susu dari peternak lokal sebagai bahan utama produk keju organik yang mereka hasilkan.

Model tersebut tidak hanya mendukung ketersediaan bahan baku berkualitas, tetapi juga mendorong peternak untuk beralih menuju praktik peternakan yang lebih organik dan berkelanjutan. Dari proses tersebut lahir produk yang kemudian mampu menjangkau pasar domestik, termasuk hotel dan restoran, hingga pasar internasional.

Bagi Kementerian Pariwisata, nilai sebuah produk gastronomi tidak hanya terletak pada rasa maupun kualitas bahan bakunya. Cerita mengenai asal-usul bahan, proses produksi, keterlibatan masyarakat, hingga nilai budaya yang menyertainya juga menjadi bagian penting yang dapat memperkuat daya tarik produk.

“Narasi-narasi di balik keberadaan sebuah produk kuliner inilah yang ingin terus kita angkat dan menjadikannya sebagai daya tarik yang akan memberikan pengalaman autentik dan berkualitas bagi wisatawan,” kata Widiyanti.

Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana gastronomi dapat menjadi penghubung antara produk lokal dan pengalaman wisata. Kuliner tidak sekadar menjadi kebutuhan konsumsi wisatawan, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal budaya, tradisi, komunitas, serta potensi ekonomi suatu daerah.

WIG Artisan Market 2026 juga menghadirkan beragam produk pangan yang menunjukkan kekayaan bahan baku Indonesia. Pengunjung dapat menemukan beras dengan aroma khas, aneka rempah, madu murni, gula kelapa organik, tempe berkualitas tinggi, kue kering artisanal, hingga minuman fermentasi seperti kombucha dan soda artisan.

Selain 21 tenant, kegiatan ini melibatkan 13 kolaborator yang menghadirkan berbagai aktivitas, mulai dari workshop, sesi berbagi pengalaman, hingga demonstrasi memasak secara langsung. Rangkaian tersebut memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk tidak hanya membeli produk, tetapi juga memahami proses, kreativitas, dan cerita yang berada di baliknya.

WIG Artisan Market 2026 berlangsung hingga 4 Oktober 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta. Masyarakat dan wisatawan dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk mengenal lebih dekat ragam produk gastronomi lokal sekaligus melihat bagaimana kekayaan pangan Indonesia dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi dan berdaya saing.

“Bagi kami, inilah salah satu wajah penting gastronomi, ketika kekayaan lokal tidak berhenti sebagai potensi, tetapi masuk ke pasar, tumbuh menjadi usaha, menciptakan nilai tambah, dan menjadi bagian dari industri pariwisata,” ujar Widiyanti.