WIG Talks 2026 Bahas Gastronomi sebagai Identitas Budaya dan Kekuatan Ekonomi Indonesia

0
129
Foto: Kemenpar

(Vibizmedia – DI Yogyakarta) Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 menjadi ruang pertemuan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan gastronomi Indonesia. Digelar di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, forum ini mempertemukan 22 pembicara dari pemerintah, industri, seniman, praktisi, hingga akademisi untuk menggali bagaimana kekayaan kuliner Nusantara dapat berkembang menjadi kekuatan budaya sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Forum tersebut tidak hanya membicarakan makanan dari sisi rasa, tetapi juga mengangkat sejarah, filosofi, kreativitas, bisnis, pembiayaan, hingga strategi membawa kuliner Indonesia ke pasar internasional.

Gastronomi sebagai Cerita dan Identitas Daerah

Sesi pembuka bertajuk “Gastronomy as Identity and Industry: Indonesia’s Socio-Economic Engine” dipandu Analis Kebijakan Ahli Utama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Vinsensius Jemadu.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber dari unsur pemerintah dan pengambil kebijakan, yakni Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias, serta perwakilan Bappeda DKI Jakarta Atika Nur Rahmania.

GKR Bendara menekankan bahwa wisata gastronomi tidak cukup hanya menawarkan makanan kepada wisatawan. Setiap hidangan memiliki cerita, sejarah, dan latar budaya yang dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Ia mencontohkan karakter rasa manis yang kuat pada sejumlah kuliner Yogyakarta. Menurutnya, fenomena tersebut tidak terlepas dari sejarah industri gula di Yogyakarta pada masa Sultan Hamengkubuwono VII.

“Semua produk wisata gastronomi di Jogja harus memiliki latar belakang cerita. Contohnya, mengapa kuliner Jogja cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Jogja. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis. Jadi, orang tahu rekam sejarahnya; ini yang harus dikemas dengan baik,” kata GKR Bendara.

Menurutnya, kekuatan gastronomi justru terletak pada kemampuan menghubungkan makanan dengan sejarah dan filosofi yang melatarbelakanginya. Karena itu, dokumentasi sejarah menjadi penting agar cerita tersebut tidak hilang sekaligus dapat dikemas menjadi pengalaman wisata.

Dalam forum tersebut, GKR Bendara juga memperkenalkan dua kuliner langka dari DIY, yakni nasi golong gilig dan dawet sambal.

Dawet sambal, misalnya, memiliki kombinasi yang tidak lazim bagi sebagian orang karena memadukan dawet manis dengan sambal pecel dan tahu. Namun, keunikan tersebut justru dapat menjadi daya tarik apabila disertai narasi yang tepat.

“Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya,” ujarnya.

Warisan Kuliner sebagai Produk Bernilai Ekonomi

Perspektif serupa disampaikan Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias. Ia menilai gastronomi perlu dibangun melalui storytelling yang kuat dan berakar pada nilai budaya.

Salah satu contohnya adalah rendang. Selain dikenal karena cita rasanya, hidangan tersebut memiliki nilai filosofis dan keterkaitan dengan tradisi masyarakat Minangkabau.

“Gastronomi harus terus dicatat, diwariskan, dan diintegrasikan dengan penataan kota pusaka serta cerita sejarah agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi wisatawan,” kata Ramlan.

Dengan pendekatan tersebut, kuliner tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi dapat menjadi aset pariwisata yang menciptakan pengalaman sekaligus nilai ekonomi bagi daerah.

Mengubah Warisan Menjadi Bisnis Kuliner

Pembahasan kemudian berlanjut pada sesi “Serving Indonesia: Translating Heritage into a Scalable F&B Business” yang dipandu Yoke Darmawan.

Sesi ini menghadirkan Chef Fernando Sindu dari Salira, Chef Glennaldy Adrian Erari dari SEMAJA, serta pendiri Chocolate Monggo, Thierry Detournay.

Chef Fernando membahas tantangan mengembangkan bisnis makanan Nusantara, terutama karena konsumen Indonesia memiliki hubungan emosional yang kuat dengan makanan daerah.

Resep tertentu bukan sekadar hidangan, tetapi mengingatkan konsumen pada masakan ibu, nenek, atau pengalaman masa kecil. Karena itu, inovasi kuliner harus dilakukan dengan pemahaman yang kuat terhadap resep dan konteks aslinya.

“Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen,” ujar Fernando.

Sementara itu, Thierry Detournay menceritakan perjalanan Chocolate Monggo dalam memperkenalkan cokelat berbahan couverture kepada masyarakat Indonesia yang sebelumnya lebih akrab dengan compound chocolate.

Bermula dari dapur berukuran sekitar 50 meter persegi di kawasan selatan Yogyakarta, Chocolate Monggo berkembang menjadi salah satu pelopor cokelat artisan di Indonesia.

Kini, produk tersebut memiliki 22 varian rasa berbahan kakao berkualitas dan menggunakan kemasan ramah lingkungan dengan ornamen bernuansa Jawa.

Tidak berhenti pada produksi, Chocolate Monggo juga mengembangkan pengalaman wisata edukatif melalui museum dan area pabrik. Wisatawan dapat melihat dan mempelajari perjalanan kakao hingga menjadi produk cokelat bernilai tambah.

“Kakao Indonesia memiliki kualitas yang bagus. Dan ini harus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat agar bisa menghasilkan cokelat berkualitas dengan mengolah yang benar,” ujar Thierry.

Memperkuat Ekosistem dan Akses Pembiayaan

Aspek pengembangan usaha dan jejaring industri dibahas dalam sesi ketiga bertajuk “Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) dan Potensi Gastrowisata”.

Sesi tersebut menghadirkan Founder & CEO Pelangi Benua Vinny Mulyadi, Ibu & Pengarsip Bhumi Bhuvana Bukhi Prima Putri, Marcia Tirtawisata dari Panorama Group, serta Mario Sabato dari Bank BTN, dengan moderator Muhammad Alif Hudanto.

Pembahasan mencakup berbagai aspek yang dibutuhkan untuk mengembangkan gastronomi sebagai ekosistem ekonomi, mulai dari penyusunan rute wisata berbasis pengalaman, pengarsipan budaya berbasis komunitas, perluasan distribusi produk secara nasional, hingga dukungan sektor keuangan digital bagi UMKM kuliner.

Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar pelaku gastronomi tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketersediaan akses pasar, distribusi, pembiayaan, dan jaringan industri dapat membantu usaha kuliner tumbuh secara lebih berkelanjutan.

Gastronomi sebagai Modal Kreatif

Gastronomi juga dibahas dari perspektif industri kreatif dalam sesi keempat yang mengangkat gastronomi sebagai creative capital.

Sesi yang dipandu Poppy Octavia Siregar tersebut menghadirkan ilustrator Nugraha Pratama, arsitek Rubi Roesli, desainer permainan papan Adhicipta Raharja Wirawan, serta sutradara film Nia Dinata.

Nia Dinata berbagi pengalaman ketika menggarap film Berbagi Suami (2006). Dalam proses produksi film tersebut, ia merancang restoran fiktif “Bebek Koh Abun” di kawasan Glodok dengan melakukan riset mengenai resep dan teknik memasak agar representasi kuliner dalam film tetap autentik.

Menurut Nia, detail dalam proses memasak memiliki kekuatan visual yang besar. Cara memotong bahan, mengolah, hingga menyajikan makanan dapat menjadi bagian dari bahasa visual dalam karya kreatif.

Ia bahkan melihat warung makan tradisional sebagai bentuk open kitchen warisan leluhur yang menyimpan kekayaan budaya.

Eksplorasi gastronomi tersebut kemudian berlanjut dalam proyek Berbagi Suami 2.0 di Yogyakarta yang mengangkat berbagai kuliner lokal, seperti gudeg, mi godog, dan aneka jajanan pasar.

Sementara itu, ilustrator dan food storyteller Nugraha Pratama menilai tantangan terbesar dalam menggambarkan makanan bukan sekadar bagaimana membuat orang seolah dapat merasakan makanan melalui visual.

Menurutnya, yang lebih penting adalah menangkap budaya dan sejarah yang melekat pada hidangan tersebut.

“Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam,” ujar Nugraha.

Melalui ilustrasi, ia berupaya membangun dokumentasi sejarah visual gastronomi yang merekam bagaimana masyarakat menikmati makanan sekaligus berinteraksi melalui aktivitas kuliner pada suatu masa.

Membawa Cerita Kuliner Indonesia ke Dunia

Sesi terakhir, “Story, Taste, Identity: Building a Global Narrative for Indonesian Cuisine”, mengarahkan pembahasan pada tantangan membawa kuliner Indonesia ke panggung internasional.

Forum ini menghadirkan Dindin Mediana, Partner TUKU Amsterdam sekaligus Co-Founder Hejo Coffee, penulis kuliner internasional Petty Pandean-Elliott, serta Chef Agus Hermawan, chef-owner restoran di Amsterdam.

Ketiganya membahas pentingnya membangun cerita yang kuat, menjaga konsistensi kualitas, serta menciptakan kepercayaan konsumen internasional terhadap kuliner Indonesia.

Dalam konteks global, makanan Indonesia tidak hanya bersaing melalui cita rasa. Narasi mengenai asal-usul hidangan, bahan pangan, sejarah, tradisi, dan kreativitas masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik.

Kuliner Indonesia membawa identitas yang terbentuk dari keragaman budaya dan kekayaan bahan pangan Nusantara. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memperkenalkan Indonesia sekaligus memperluas daya tarik pariwisatanya.

Dari Warisan Lokal Menuju Pengakuan Global

Melalui WIG Talks and Forum 2026, Kemenpar berupaya mempertemukan berbagai perspektif agar pengembangan gastronomi Indonesia tidak berjalan secara parsial.

Pemerintah, pelaku industri, chef, UMKM, komunitas, akademisi, seniman, lembaga keuangan, hingga pelaku pariwisata memiliki peran dalam membangun ekosistem yang memungkinkan kekayaan kuliner Indonesia terus berkembang.

Forum tersebut sekaligus menegaskan bahwa gastronomi dapat menjadi jembatan antara warisan budaya, kreativitas, pariwisata, dan ekonomi.

Dengan dokumentasi yang kuat, inovasi yang tetap berakar pada tradisi, dukungan pembiayaan dan industri, serta narasi yang mampu diterima pasar internasional, kekayaan kuliner Indonesia memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh—dari hidangan lokal menjadi pengalaman wisata, dari tradisi menjadi industri, dan dari kekayaan rasa Nusantara menuju pengakuan global.