Ekspor Industri Kerajinan Melonjak 28,59 Persen, IKM Indonesia Kian Mendunia

0
61
Kemenperin perluas IKM Kriya (Foto: Kemenperin)

(Vibizmedia – Industry) Industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan Indonesia semakin menunjukkan peluang besar di pasar global. Pada triwulan II 2026, nilai ekspor industri kerajinan mencapai USD223,1 juta, melonjak 28,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat USD173,50 juta.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan, kekayaan budaya, kreativitas perajin, serta keberagaman sumber daya lokal menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing industri fesyen dan kriya nasional.

“Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia,” ujar Reni di Jakarta, Selasa (6/10).

Amerika Serikat menjadi pasar terbesar produk kerajinan Indonesia. Berdasarkan data Trade Map periode Januari–Juni 2026, AS menyerap sekitar 28 persen ekspor kerajinan Indonesia, disusul Taiwan, Tiongkok, Jepang, dan Belanda. Produk kerajinan nasional juga telah menembus pasar Inggris, Jerman, Prancis, Australia, Spanyol, Malaysia, Korea Selatan, Belgia, Italia, dan India.

Produk yang diekspor beragam, mulai dari anyaman rotan dan bambu, kerajinan ukiran kayu, peralatan dapur berbahan kayu dan bambu, keramik, hingga berbagai produk kriya lainnya.

Untuk memperluas pasar tersebut, Kemenperin terus mendorong peningkatan kualitas, inovasi desain, kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta promosi melalui pameran. Salah satunya melalui Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 yang digelar 26–30 September di Jakarta International Convention Center (JICC).

Pada ajang bertema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” tersebut, Ditjen IKMA memfasilitasi delapan IKM binaan yang menampilkan produk fesyen, aksesori, tenun, kerajinan tangan, dan kriya lainnya. Selama lima hari pameran, delapan IKM tersebut membukukan transaksi Rp313 juta.

Menurut Reni, capaian tersebut menunjukkan produk IKM kerajinan memiliki daya tarik pasar yang kuat. Namun, pelaku usaha perlu terus mengembangkan desain, kualitas, inovasi, dan kemasan agar mampu mengikuti perubahan tren konsumen.

Kemenperin juga mendorong perajin memadukan kekuatan tradisi dengan kreativitas dan teknologi. Saat ini, konsumen tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga desain, estetika, inovasi, dan aspek keberlanjutan.

Kriyanusa 2026 sendiri diikuti 257 peserta dengan 410 stan, menampilkan kriya kayu, batik, tenun, logam, kulit, anyaman, kertas, material daur ulang, keramik, hingga tanah liat. Berbagai program seperti fashion show, talkshow, workshop, serta pengalaman digital turut memperkuat promosi.

Ke depan, Kemenperin bersama Dekranas dan berbagai pemangku kepentingan akan terus memperkuat ekosistem IKM kerajinan agar warisan budaya Indonesia berkembang menjadi produk inovatif, bernilai tambah, dan semakin kompetitif di pasar global.