BRIN: Diplomasi Sains Harus Adaptif Hadapi Perubahan Geopolitik

0
54

(Vibizmedia – Kyoto, Jepang) Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menilai diplomasi sains perlu terus diperkuat agar tetap terbuka, adaptif, dan tangguh menghadapi perubahan geopolitik serta meningkatnya persaingan teknologi di tingkat global.

Menurut Arif, penguatan kapasitas riset dan teknologi di dalam negeri tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan Indonesia dalam jejaring kerja sama internasional. Keduanya justru harus dikembangkan secara bersamaan agar Indonesia memiliki posisi yang semakin kuat dalam ekosistem sains dan teknologi dunia.

Pandangan tersebut disampaikan Arif dalam diskusi panel bertajuk The Future of Science Diplomacy: Bump or Fork?” pada forum Science and Technology in Society (STS) Forum 2026 di Kyoto, Jepang, Senin (5/10/2026).

Ia mengatakan diplomasi sains kini berada dalam situasi yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Perubahan geopolitik, perkembangan teknologi yang sangat cepat, serta meningkatnya kompetisi antarnegara telah mengubah lingkungan tempat kerja sama ilmiah berlangsung.

“Dari perspektif Indonesia, saya akan mengatakan: keduanya. Kita memang sedang menghadapi hambatan (bump). Namun, mungkin juga kita sedang berada di persimpangan (fork), karena lingkungan tempat diplomasi sains bekerja telah berubah secara mendasar,” ujar Arif.

Sains Semakin Strategis

Arif menjelaskan, sains dan teknologi kini tidak lagi berdiri sendiri sebagai bidang kerja sama akademik. Perkembangannya semakin erat berkaitan dengan daya saing ekonomi, keamanan nasional, kedaulatan teknologi, dan kepentingan geopolitik.

Perubahan tersebut membuat negara-negara perlu memperkuat kapasitas nasional. Namun, menurut Arif, meningkatnya kepentingan strategis teknologi tidak seharusnya mendorong negara untuk membatasi hubungan dengan komunitas ilmiah internasional.

Sebaliknya, diplomasi sains tetap diperlukan sebagai sarana membangun kepercayaan dan membuka ruang kolaborasi, termasuk ketika negara-negara memiliki perbedaan kepentingan dalam bidang lain.

“Diplomasi sains memungkinkan negara-negara membangun kepercayaan dan bekerja sama menghadapi tantangan bersama, bahkan ketika terdapat perbedaan di bidang lain,” katanya.

Negara Berkembang Harus Jadi Pencipta

Dalam konteks kerja sama global, Arif menekankan pentingnya mengubah posisi negara berkembang. Negara-negara tersebut, termasuk Indonesia, menurutnya tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penyedia data, lokasi penelitian, maupun pasar bagi teknologi yang dikembangkan negara lain.

Partisipasi harus ditingkatkan menuju pola penciptaan bersama pengetahuan dan teknologi melalui riset kolaboratif dan kemitraan yang lebih setara.

“Negara-negara berkembang tidak boleh hanya menjadi sumber data, lokasi, atau penerima teknologi. Kita harus semakin menjadi pencipta bersama pengetahuan dan teknologi,” tegasnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar kerja sama internasional tidak hanya menghasilkan transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kapasitas riset dan inovasi negara berkembang secara berkelanjutan.

Ketangguhan Bukan Berarti Menutup Diri

Arif juga menggarisbawahi bahwa upaya membangun ketahanan sains dan teknologi nasional tidak identik dengan mengurangi keterhubungan internasional.

Menurutnya, Indonesia justru perlu memperluas jaringan kemitraan untuk mengurangi ketergantungan pada satu pihak sekaligus meningkatkan peluang kolaborasi di berbagai bidang strategis.

“Ketangguhan bukan berarti menutup pintu. Ketangguhan berarti mendiversifikasi kemitraan, memperkuat kerja sama internasional, dan tetap terhubung dengan komunitas ilmiah global,” ujarnya.

Karena itu, penguatan kapasitas nasional dan kerja sama internasional harus berjalan dalam satu arah. Kemampuan riset dan teknologi yang semakin kuat akan meningkatkan posisi tawar Indonesia sebagai mitra, sementara kemitraan global yang berkualitas dapat mempercepat peningkatan kapasitas nasional.

“Negara dengan kemampuan sains yang lebih kuat dapat menjadi mitra internasional yang lebih kuat. Dan kemitraan internasional yang lebih kuat pada gilirannya dapat memperkuat kemampuan nasional,” kata Arif.

Mendorong Kolaborasi yang Lebih Setara

Ke depan, Indonesia mendorong model diplomasi sains yang memberikan ruang lebih besar bagi negara dengan tingkat pembangunan dan kepentingan yang berbeda untuk berkolaborasi secara setara.

Kerja sama tersebut diharapkan tidak sekadar berorientasi pada transfer teknologi, tetapi berkembang menjadi kemitraan dalam menghasilkan pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan global.

“Yang kita butuhkan adalah membangun jalan yang lebih luas, yang memungkinkan negara-negara dengan kepentingan dan tingkat pembangunan yang berbeda untuk bekerja sama sebagai pencipta dan pengembang bersama, sekaligus tetap menjaga prioritas dan ketahanan mereka,” ujar Arif.

Pandangan tersebut menempatkan diplomasi sains sebagai salah satu instrumen strategis bagi Indonesia untuk menghadapi perubahan tatanan global. Di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat, keterbukaan terhadap kerja sama internasional perlu berjalan seiring dengan pembangunan kapasitas nasional.

Dengan memperkuat kemampuan riset di dalam negeri sekaligus memperluas jaringan kemitraan global, Indonesia berpeluang mengambil peran yang lebih besar dalam membentuk ekosistem sains dan teknologi internasional, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai mitra dan pencipta inovasi bersama.