Ekonomi Indonesia Masuki Triwulan IV dengan Inflasi Terkendali dan Manufaktur Kembali Ekspansif

0
73
Kantor Kemenkeu (Foto: Kemenkeu)

(Vibizmedia – Jakarta) Memasuki Triwulan IV-2026, perekonomian Indonesia menunjukkan sejumlah perkembangan positif. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga, tercermin dari inflasi yang berada dalam sasaran, surplus perdagangan yang berlanjut, serta kembali ekspansifnya aktivitas sektor manufaktur.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan, inflasi nasional pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1%.

Tekanan inflasi inti juga relatif terkendali dengan posisi 2,84% yoy. Sementara itu, inflasi kelompok Administered Prices (AP) turun menjadi 3,25% yoy. Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh normalisasi mobilitas masyarakat setelah periode libur sekolah serta dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang relatif terbatas.

Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai perkembangan harga pangan. Komponen Volatile Food mencatat inflasi 5,03% yoy, yang dipengaruhi perubahan permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, fenomena El Nino, dan bencana alam.

“Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03% (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,” ujar Haryo.

Pemerintah Jaga Daya Beli dan Pasokan Pangan

Berbagai langkah disiapkan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan ketahanan pangan tetap terpelihara hingga akhir tahun.

Kebijakan tersebut antara lain dilakukan melalui percepatan penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III serta bantuan pangan berupa beras sebanyak 10 kilogram per bulan untuk periode Oktober hingga Desember 2026.

Pemerintah juga mempercepat penyaluran beras medium melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dilaksanakan Perum Bulog. Upaya stabilisasi diperkuat melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta kerja sama antardaerah untuk menjaga keseimbangan pasokan.

Dari sisi produksi, pemerintah mendorong pengelolaan air dan jaringan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, hingga pemetaan wilayah yang memiliki risiko gangguan produksi. Sistem Early Warning System juga diperkuat untuk mengantisipasi berbagai risiko yang dapat memengaruhi pasokan dan harga pangan.

Surplus Perdagangan Terus Berlanjut

Ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari kinerja sektor eksternal. Hingga Agustus 2026, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus kumulatif sebesar USD7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026.

Sejumlah komoditas utama masih menjadi penopang ekspor. Ekspor besi dan baja mencapai USD19,18 miliar atau tumbuh 4,88%. Sementara ekspor minyak sawit mentah (CPO) beserta turunannya mencapai USD17,75 miliar atau meningkat 6,57%.

Komoditas batu bara juga mencatat ekspor sebesar USD16,58 miliar dengan pertumbuhan 4,31%.

Tidak hanya komoditas berbasis sumber daya alam, ekspor industri pengolahan juga terus menunjukkan kinerja positif. Sektor tersebut tumbuh 6,62%, yang sekaligus mencerminkan semakin besarnya peran hilirisasi dalam meningkatkan nilai tambah dan memperkuat kinerja perdagangan Indonesia.

Impor Menunjukkan Aktivitas Produksi Menguat

Dari sisi impor, struktur perdagangan Indonesia memperlihatkan bahwa kebutuhan produksi dan investasi domestik masih berjalan. Bahan baku atau bahan penolong serta barang modal mendominasi impor, masing-masing senilai USD133,38 miliar dan USD36,74 miliar.

Jika digabungkan, kedua kelompok tersebut menyumbang sekitar 91,3% dari total impor Indonesia.

Kenaikan impor mesin atau peralatan mekanis sebesar 15,26% serta mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 22,94% turut menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap peralatan produksi dan barang modal.

Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa aktivitas produksi dan investasi dalam negeri tetap bergerak, sekaligus menunjukkan adanya kebutuhan input untuk mendukung ekspansi kegiatan ekonomi.

Manufaktur Kembali ke Zona Ekspansi

Sinyal positif lainnya datang dari sektor manufaktur. PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 meningkat menjadi 52,4, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi 49,8 pada Agustus.

Dengan capaian tersebut, industri manufaktur kembali berada di zona ekspansi. Perbaikan terutama didorong oleh peningkatan pesanan baru dan produksi, bertambahnya pesanan ekspor, masuknya proyek-proyek baru, serta membaiknya daya beli.

Pesanan baru pada September tercatat tumbuh dengan laju tercepat sejak Februari 2026. Sementara itu, pertumbuhan pesanan ekspor menjadi yang tercepat sejak Mei 2022.

Penguatan aktivitas industri juga terlihat dari meningkatnya penyerapan tenaga kerja, pembelian bahan input, serta persediaan. Di sisi biaya, kenaikan harga input dan output justru melambat ke level terendah dalam enam bulan.

Perkembangan tersebut semakin diperkuat oleh tetap tingginya optimisme pelaku usaha terhadap prospek produksi dalam 12 bulan mendatang.

Menjaga Momentum Pertumbuhan

Pemerintah menilai kombinasi inflasi yang terkendali, surplus perdagangan, dan pemulihan sektor manufaktur menjadi modal penting untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi pada penghujung 2026.

Ke depan, kebijakan ekonomi akan diarahkan tidak hanya untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, tetapi juga memperkuat investasi, meningkatkan produksi, serta mendorong daya saing industri nasional.

“Ke depan, kebijakan Pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” pungkas Haryo.

Dengan fondasi makroekonomi yang relatif terjaga dan sejumlah indikator ekonomi yang mulai menunjukkan penguatan, pemerintah berharap momentum positif pada awal Triwulan IV-2026 dapat berlanjut hingga akhir tahun dan menjadi pijakan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada 2027.