Kementerian Ekraf Jajaki Kerja Sama dengan Toco untuk Perluas Pasar Produk Kreatif

0
54
Foto: Kemenekraf

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menjajaki penguatan kerja sama dengan Toco, platform marketplace berbasis komunitas asal Indonesia. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas pemasaran produk kreatif melalui kanal digital sekaligus meningkatkan kemampuan pelaku ekonomi kreatif dalam mengembangkan usahanya dengan dukungan teknologi tanpa biaya administrasi penjualan.

Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menyampaikan bahwa kemitraan dengan platform digital menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat daya saing pelaku ekonomi kreatif. Melalui akses pasar yang semakin terbuka dan pemanfaatan teknologi, produk lokal diharapkan mampu menjangkau lebih banyak konsumen serta berkembang dari pasar lokal menuju skala nasional.

“Kolaborasi dengan platform digital perlu diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi pelaku ekonomi kreatif. Akses pasar yang lebih luas, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kapasitas usaha menjadi bagian penting agar produk kreatif lokal semakin berdaya saing dan mampu menjangkau konsumen yang lebih luas,” ujar Teuku Riefky dalam audiensi bersama Founder dan CEO Toco, Arnold Sebastian Egg, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Diluncurkan pada Agustus 2024, Toco merupakan platform marketplace dan iklan baris digital yang mengandalkan pendekatan berbasis komunitas. Salah satu keunggulannya adalah penerapan biaya administrasi nol persen bagi penjual. Platform ini juga menyediakan ekosistem pendukung berupa layanan pembayaran, logistik, pengelolaan toko daring, serta pengembangan komunitas.

Arnold Sebastian Egg mengungkapkan, Toco berkomitmen memperluas kolaborasi dengan Kementerian Ekraf melalui sejumlah inisiatif baru. Salah satunya adalah rencana menghadirkan dedicated landing page, yakni halaman khusus yang berfungsi sebagai etalase digital untuk menampilkan karya dan produk pelaku ekonomi kreatif Indonesia.

Menurut Arnold, fasilitas tersebut dapat menjadi sarana promosi bagi pelaku ekraf, terutama talenta baru dan mereka yang tengah menjalani proses pengembangan usaha. Informasi yang terkumpul melalui platform juga berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung evaluasi dan penyempurnaan program pemberdayaan yang telah berjalan.

Penerapan skema tanpa biaya administrasi dinilai dapat membantu pelaku ekraf memasarkan produk tanpa harus mengalokasikan sebagian margin penjualan untuk biaya platform. Peluang ini relevan bagi berbagai subsektor, mulai dari kriya, kuliner, dan fesyen hingga aplikasi digital.

Sinergi antara Kementerian Ekraf dan Toco sebelumnya telah diwujudkan melalui program Badan Ekraf Digital Entrepreneurship (BDE). Pada 11–31 Agustus 2026, program tersebut memberikan pelatihan digitalisasi usaha kepada 300 pegiat ekonomi kreatif di Lhokseumawe, Medan, dan Padang. Inisiatif ini ditujukan untuk mendukung pemulihan sekaligus memperkuat perekonomian berbasis teknologi di wilayah pascabencana.

Dalam audiensi tersebut, Arnold turut didampingi General Counsel Toco Even Alex Chandra dan Business Support & Trainer BDE Yusuf Ahmad. Sementara itu, Menteri Ekraf hadir bersama Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Muhammad Neil El Himam serta Direktur Aplikasi Tri Wahyudi.

Melalui penjajakan kerja sama ini, Kementerian Ekraf berharap pemanfaatan platform digital dapat semakin memperkuat ekosistem usaha kreatif nasional, membuka peluang pasar yang lebih luas, dan membantu pelaku ekonomi kreatif lokal meningkatkan skala bisnis secara berkelanjutan.