Antrian Pertalite Meningkat, Pemerintah Targetkan Stok Normal dalam Sepekan

0
41
Antrian BBM yang panjang di daerah Luwus dan Pacung - Tabanan - Bali, 16 Oktober 2026 (Foto: Riris/ Vibizmedia)
(Vibizmedia – Nasinal) Pemerintah menargetkan stok nasional Pertalite kembali ke level normal sekitar 20 hari dalam waktu sepekan menyusul meningkatnya permintaan BBM bersubsidi tersebut. Lonjakan konsumsi terjadi seiring peralihan sebagian masyarakat dari BBM nonsubsidi Pertamax ke Pertalite akibat perbedaan harga yang cukup signifikan.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan stok nasional Pertalite saat ini berada pada kisaran 16–18 hari, turun dari sebelumnya di atas 20 hari.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil melalui keterangan resmi pada Jumat (16/10/2026). Ia menegaskan, penurunan stok Pertalite tidak berarti pasokan nasional berada di bawah standar minimal, tetapi mencerminkan meningkatnya tekanan permintaan terhadap BBM jenis RON 90 tersebut.

“Secara stok nasional kita, BBM itu di 16–18 hari. Yang terjadi pergeseran dari 16–18 hari itu adalah RON 90 (Pertalite). Tapi di 16–18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal. Untuk mencapai di angka 20 hari itu ya kita butuh waktu seminggu, seminggu selesai,” ujar Bahlil.

Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan dan menjaga kelancaran penyaluran, pemerintah mempercepat proses blending atau pencampuran komponen BBM untuk menghasilkan Pertalite di fasilitas kilang. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pasokan dalam waktu dekat.

Bahlil menjelaskan, persoalan utama yang mendorong peningkatan permintaan Pertalite adalah perpindahan konsumsi dari Pertamax (RON 92). Perbedaan harga kedua produk tersebut membuat sebagian konsumen memilih BBM bersubsidi yang lebih murah.

Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan, konsumsi Pertalite meningkat setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026.

Pada pertengahan Juni, penyaluran Pertalite tercatat naik 9,19 persen menjadi 82.760 kiloliter (KL) per hari. Peningkatan berlanjut hingga Juli 2026, ketika penyaluran mencapai 85.589 KL per hari atau naik 12,92 persen.

Meski konsumsi kemudian turun menjadi 84.368 KL per hari pada Agustus, angka tersebut masih jauh di atas rata-rata awal sebesar 75.795 KL per hari.

Tingginya konsumsi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan stok dan kebutuhan masyarakat. Peningkatan permintaan juga berpotensi memicu antrean di sejumlah SPBU apabila penyaluran tidak mampu mengimbangi kebutuhan di lapangan.

Di sisi lain, Bahlil menyatakan pasokan BBM jenis lain, seperti Biosolar, Pertamax Green, dan Pertamax Turbo, masih dalam kondisi aman tanpa kendala penyaluran.

Pemerintah berharap percepatan produksi Pertalite di kilang dapat mengembalikan stok ke kisaran 20 hari dalam sepekan. Dengan demikian, ketersediaan BBM bersubsidi diharapkan semakin terjaga dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan lancar.