Komoditas Lidah Buaya Gunungkidul Buka Peluang Ekonomi dan Ekspor

0
38
Ilustrasi Perkebunan Lidah Buaya (Foto: Unsplash)

(Vibizmedia – Commodity) Komoditas lidah buaya membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanaman yang mampu bertahan di tengah kemarau ini dikembangkan PT Mount Vera Sejati melalui jenama Rasane Vera menjadi produk bernilai tambah untuk industri pangan, minuman, kosmetik, hingga farmasi, sekaligus memperluas peluang usaha bagi petani lokal.

Pendiri PT Mount Vera Sejati, Alan Efendhi, mengatakan, pengembangan lidah buaya berawal dari riset mandiri untuk menemukan tanaman yang tahan terhadap kondisi kering sekaligus memiliki nilai ekonomi.

“Saya mencoba riset mandiri untuk mencari dan memilih tanaman yang tangguh dan sanggup berkembang optimal saat kemarau sekaligus memiliki nilai ekonomi. Lidah buaya jadi jawaban yang potensial untuk dieksplorasi lebih lanjut,” ujar Alan.

Sejak 2014, perusahaan membangun kemitraan dengan lebih dari 125 petani kecil di lahan sekitar dua hektare. Kemitraan ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam rantai usaha, mulai dari budidaya dan panen hingga pengolahan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.

Dampak ekonomi juga diperluas melalui pemberdayaan kelompok perempuan tani. Mereka dilatih mengolah lidah buaya menjadi produk seperti dodol, yang kemudian dipasarkan melalui Aloe Land, kawasan agrowisata milik perusahaan. Langkah ini membuka peluang kegiatan usaha tambahan bagi masyarakat sekaligus mendorong lahirnya produk lokal inovatif.

Untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, Rasane Vera memasarkan Nata de Aloe Vera dan Aloe Vera Cube Drink bagi konsumen akhir. Adapun pasar bisnis antarpelaku usaha (B2B) dilayani melalui Pure Aloe Vera Slice dan Liquid Gel sebagai bahan baku industri makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi.

Proses produksi didukung pengendalian kualitas dan pengolahan higienis. Perusahaan juga menerapkan ekonomi sirkular dengan mengolah sisa pelepah menjadi pupuk organik dan eco-enzyme, sehingga limbah dapat dimanfaatkan kembali.

Peluang pengembangan usaha semakin terbuka setelah produk Rasane Vera menarik perhatian calon pembeli asal Swedia dalam Trade Expo Indonesia 2026. Permintaan khusus berupa potongan lidah buaya berukuran lebih kecil menunjukkan pentingnya fleksibilitas produk dalam memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Rasane Vera kini membidik pasar Uni Emirat Arab, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. Ekspansi tersebut berpotensi memperluas pasar bagi komoditas lokal, meningkatkan kebutuhan bahan baku dari petani mitra, serta menciptakan peluang ekonomi baru di perdesaan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pengolahan komoditas berbasis potensi daerah dapat menjadi penggerak ekonomi lokal melalui penciptaan nilai tambah, pemberdayaan masyarakat, dan perluasan akses ekspor.