Karhutla Jatim Tembus 11.449 Hektare, BNPB Kerahkan Helikopter dan Pesawat OMC

0
161
Water bombing
Water bombing. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur mendorong pemerintah memperkuat operasi pemadaman melalui udara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menambah satu helikopter water bombing dan satu pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mempercepat penanganan kebakaran.

Penambahan armada tersebut dilakukan di tengah meluasnya karhutla yang telah melanda 26 kabupaten/kota di Jawa Timur, dengan total 184 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 11.449 hektare. Sebanyak 77,05% dari area yang terbakar merupakan kawasan hutan konservasi.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menyampaikan penambahan armada itu dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Jumat (23/10).

Satu helikopter water bombing akan didatangkan dari Kalimantan Selatan menuju Malang. Sementara itu, satu pesawat OMC dari Kalimantan Barat akan dikerahkan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca di Jawa Timur.

“Kita harapkan dengan tambahan alutsista ini, kita bisa dengan cepat dan kebakaran pun tidak membara atau meluas,” ujar Kristomei.

Operasi udara tersebut difokuskan untuk mempercepat pemadaman di sejumlah kawasan pegunungan yang terdampak kebakaran, khususnya Gunung Arjuno, Bromo, Semeru, Butak, hingga Ijen.

462 Kali Water Bombing Dikerahkan

Penambahan armada dari pemerintah pusat melengkapi upaya penanganan yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hingga saat ini, sebanyak 462 kali penerbangan water bombing telah dilakukan untuk menjatuhkan air ke titik-titik kebakaran.

Selain helikopter, petugas juga memanfaatkan teknologi drone water spray berkapasitas 100 liter untuk menjangkau kawasan tebing curam yang sulit diakses oleh tim pemadam di darat.

Besarnya luas lahan terbakar menunjukkan tantangan yang dihadapi petugas dalam mengendalikan api di kawasan pegunungan. Kondisi tersebut juga diperberat oleh cuaca ekstrem dan dugaan adanya faktor manusia dalam sejumlah kejadian kebakaran.

Dalam rapat koordinasi yang dipimpin Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, pemerintah juga menekankan pentingnya pengawasan dan penegakan hukum. Kemunculan titik api secara bersamaan di beberapa kawasan pegunungan menjadi salah satu indikasi yang perlu ditelusuri, termasuk kemungkinan unsur kesengajaan maupun kelalaian manusia.

Aparat penegak hukum bersama satuan tugas gabungan TNI, Polri, dan pemerintah daerah akan memperketat pengawasan untuk mencegah kebakaran berulang serta memberikan efek jera kepada pihak yang terbukti bertanggung jawab.

Lima Petugas dan Relawan Gugur

Di balik upaya pemadaman, karhutla di Jawa Timur juga menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan data BPBD Jawa Timur, sebanyak lima petugas dan relawan pemadam kebakaran dilaporkan gugur saat menjalankan tugas.

Pemerintah juga mulai mengantisipasi potensi bencana susulan seiring perkiraan pergeseran musim menuju penghujan pada pertengahan November. Kawasan pegunungan yang terbakar berisiko menghadapi banjir bandang dan tanah longsor ketika curah hujan meningkat.

Untuk mengurangi risiko tersebut, petugas diinstruksikan membersihkan sisa material dan kayu terbakar di sepanjang aliran sungai sekitar kawasan pegunungan agar tidak menyumbat arus air.

BNPB juga akan menginventarisasi kebutuhan tambahan yang diajukan pemerintah daerah dan memberikan dukungan penanganan sesuai kebutuhan di lapangan.

Dengan penambahan armada udara dan penguatan operasi darat, pemerintah berharap kebakaran dapat segera dikendalikan sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan dan bencana susulan di kawasan pegunungan Jawa Timur.