
(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang Oktober 2026. Kondisi lahan yang kering dan tiupan angin kencang mempercepat penyebaran api, bahkan di beberapa lokasi kebakaran kembali muncul setelah sempat dipadamkan.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kejadian kebakaran pada periode 20–23 Oktober 2026 tersebar di sejumlah daerah, antara lain Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat Daya.
Di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, kebakaran menghanguskan sekitar 12 hektare lahan. Sementara itu, di Kabupaten Luwu, kebakaran yang melanda kebun cokelat, cengkeh, dan kayu bitti mencapai sekitar 9 hektare.
Kebakaran juga terjadi di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Api yang membakar sekitar 4,7 hektare kawasan hutan lindung kembali muncul akibat angin kencang dan merambat ke kebun warga seluas sekitar 3 hektare. Total lahan terdampak di lokasi tersebut mencapai 7,7 hektare.
Di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kebakaran melanda sekitar 6 hektare lahan yang terdiri atas hutan jati rakyat di Gunung Bancak dan lahan bambu di Desa Bangsri. Sementara itu, kebakaran hutan di Kabupaten Probolinggo menghanguskan sekitar 10,59 hektare lahan.
Ancaman kebakaran juga terjadi di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Api yang berasal dari lahan warga dan sebagian lahan milik pemerintah provinsi menyebar dengan cepat akibat angin kencang hingga mendekati permukiman dan sekolah luar biasa (SLB). Sekitar 5 hektare hutan dan lahan terbakar.
Hingga Kamis malam (22/10), sejumlah titik api di perbukitan Desa Guraping masih menyala dan sulit dijangkau petugas. Kondisi lahan yang kering, angin kencang, serta medan yang sulit menjadi kendala dalam proses pemadaman.
Kebakaran TPA Sorong Belum Sepenuhnya Padam
Selain karhutla, kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) di Jalan Sorong Makbon, Kelurahan Malasilen, Kota Sorong, Papua Barat Daya, juga masih dalam penanganan. Kebakaran yang dilaporkan terjadi sejak 2 Oktober 2026 tersebut berdampak pada sekitar 7 hektare area TPA dan hutan di sekitarnya.
Hingga 22 Oktober, sekitar 4,5 hektare area telah dipadamkan, sedangkan sekitar 3 hektare masih dalam penanganan. Petugas terus melakukan pendinginan menggunakan pompa untuk mengambil air dari sumber terdekat.
Sejumlah kejadian kebakaran lainnya dilaporkan di Minahasa, Bangka Tengah, Palopo, Jombang, Sragen, dan Parigi Moutong. Sebagian besar api telah berhasil dipadamkan. Dalam laporan kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Cuaca Kering Tingkatkan Risiko Kebakaran
BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca kering dan angin kencang. Masyarakat diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Warga juga diminta memastikan api sisa memasak atau pembakaran sampah benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. Apabila menemukan titik api, masyarakat diimbau segera melapor kepada aparat desa, BPBD, atau petugas pemadam kebakaran.
BNPB turut mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila terdapat asap pekat dan menggunakan masker guna mengurangi paparan asap. Jika mengalami gangguan pernapasan, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Meluasnya kejadian kebakaran tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kondisi lahan kering, pengawasan titik rawan kebakaran, serta respons cepat agar api tidak meluas ke kawasan hutan, perkebunan, maupun permukiman warga.








