BRIN dan Korea Selatan Kembangkan PLTS di Atas Saluran Irigasi

0
98
BRIN bersama konsorsium Korea Selatan mengembangkan inovasi pembangkit listrik tenaga surya di atas saluran irigasi atau canal-top solar photovoltaic. (Foto: BRIN)

(Vibizmedia – Serpon, Tangsel) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjajaki pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dipasang di atas saluran irigasi melalui teknologi canal-top solar photovoltaic. Inovasi ini dikembangkan bersama konsorsium Korea Selatan dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan ruang infrastruktur yang telah tersedia sekaligus memperluas potensi sumber energi terbarukan di Indonesia.

Kerja sama tersebut kini memasuki tahap pembahasan teknis dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Dalam dua tahun pertama, proyek akan diarahkan pada kegiatan penelitian dan demonstrasi teknologi. Pada saat yang sama, BRIN juga mendorong pembahasan mengenai model bisnis dan kebutuhan regulasi bersama pemerintah pusat maupun daerah.

Rencana pengembangan ini menjadi pokok pembahasan antara Pusat Riset Tenaga Kelistrikan (PRTK) BRIN dan konsorsium Korea Selatan dalam pertemuan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (5/11/2026).

Teknologi canal-top PV memanfaatkan bagian atas saluran irigasi sebagai lokasi pemasangan panel surya. Dengan konsep tersebut, pembangkit listrik dapat dibangun tanpa membutuhkan tambahan lahan khusus dalam skala besar. Meski menawarkan potensi pemanfaatan ruang yang lebih efisien, penerapannya perlu mempertimbangkan sejumlah aspek, seperti kekuatan struktur penyangga, kondisi saluran, kemudahan pemeliharaan, hingga kelangsungan fungsi irigasi.

Perekayasa Ahli Utama PRTK BRIN, Kholid Akhmad, menyampaikan bahwa pemerintah daerah Kabupaten Banyumas memberikan dukungan terhadap rencana pengembangan tersebut. Pemerintah daerah juga menyatakan kesediaannya membantu penyediaan lahan di sekitar saluran irigasi apabila diperlukan.

“Pemda mendukung kami dalam proyek ini dan akan memfasilitasi lahan di sekitar saluran irigasi jika memang diperlukan. Pemda juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat setempat untuk mendukung keberlanjutan proyek,” jelas Kholid.

Menurutnya, dukungan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan proyek dapat berjalan sesuai kebutuhan wilayah. Dengan demikian, pengembangan teknologi tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis, tetapi juga memperhatikan aktivitas pertanian dan kondisi sosial masyarakat di sekitar lokasi.

Kepastian Regulasi Menjadi Perhatian

Di samping kesiapan teknologi, aspek regulasi masih menjadi salah satu hal yang perlu disiapkan sebelum proyek dikembangkan lebih luas. Project Manager sekaligus Perekayasa Ahli Muda PRTK BRIN, Dannya Maharani Putri Utami, mengatakan hasil pembahasan awal dengan pemangku kepentingan di tingkat Provinsi Jawa Tengah pada Oktober 2026 menunjukkan perlunya koordinasi lanjutan dengan pemerintah pusat.

Dannya menjelaskan, hingga saat ini belum terdapat aturan khusus dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang secara spesifik mengatur pemasangan PLTS di atas saluran irigasi. Oleh sebab itu, BRIN berencana melanjutkan komunikasi dengan kementerian terkait untuk membahas kerangka regulasi yang dapat mendukung penerapan teknologi tersebut.

“Untuk itu, dua tahun pertama proyek akan difokuskan pada kegiatan riset dan demonstrasi teknologi sembari mendorong pembahasan regulasi bersama pemangku kepentingan,” tegasnya.

Melalui tahapan penelitian dan demonstrasi, BRIN ingin memperoleh data mengenai performa sistem ketika diterapkan dalam kondisi lingkungan Indonesia. Hasil pengujian nantinya akan menjadi dasar untuk merumuskan desain teknis, prosedur operasional, serta menilai potensi pengembangan proyek ke arah komersial.

Keberhasilan penerapan canal-top PV tidak hanya bergantung pada kemampuan panel surya menghasilkan listrik. Faktor lain yang harus dipastikan mencakup ketahanan konstruksi, kemudahan perawatan, kesesuaian dengan fungsi saluran irigasi, dan kelayakan pembiayaan proyek.

Konsorsium Korea Selatan Dukung Pengembangan Teknologi

Dalam proyek kolaborasi ini, konsorsium Korea Selatan melibatkan HS Solar Co., Ltd., Lumitech Co., Ltd., REC’s Innovation, Chungbuk Techno Park, dan Far East University. Masing-masing mitra membawa kompetensi di bidang konstruksi PLTS, manajemen energi, serta pengujian dan pemantauan performa modul surya.

Head of Research Institute HS Solar Co., Ltd., Jeong Deuk-young, memaparkan pengalaman perusahaannya dalam mengembangkan beragam desain struktur PLTS. Teknologi yang dikembangkan mencakup struktur permanen, sistem dengan sudut kemiringan yang dapat disesuaikan, hingga sistem pelacak posisi matahari.

“Kami juga berpengalaman dalam mengembangkan canal-top PV berkapasitas 100 kWp di Kirgizstan sejak 2025,” ungkap Jeong.

Pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu acuan dalam merancang sistem serupa di Indonesia. Namun, penerapannya tetap memerlukan penyesuaian berdasarkan kondisi geografis, karakteristik saluran irigasi, iklim, dan kebutuhan operasional di masing-masing lokasi.

Sementara itu, peneliti REC’s Innovation Co., Ltd., Lee Jeong-hun, menjelaskan bahwa perusahaannya memiliki keahlian dalam pengembangan sistem pengelolaan energi dan pembangkit. Cakupan teknologinya antara lain Energy Management System (EMS), Power Management System (PMS), sistem pendukung operasional berbasis kecerdasan artifisial (AI), serta pemantauan energi secara waktu nyata atau real-time.

REC’s Innovation juga berpengalaman dalam pengelolaan PLTS, integrasi Virtual Power Plant (VPP), pengembangan remote terminal unit (RTU), dan pelaksanaan demonstrasi PLTS di atas saluran irigasi di Kirgizstan.

Adapun Far East University berperan melalui keahliannya dalam penelitian performa dan keandalan modul surya. Dukungan yang dimiliki mencakup kamera electroluminescence (EL), drone yang dilengkapi pencitraan termal, serta fasilitas pengujian untuk mengevaluasi kinerja modul dalam berbagai kondisi lingkungan.

Riset Lintas Negara dan Keterlibatan Perguruan Tinggi

Kerja sama Indonesia dan Korea Selatan juga mencakup kajian perbandingan performa teknologi di lingkungan yang berbeda. Indonesia dan Kirgizstan dipilih sebagai lokasi pengembangan karena memiliki karakteristik iklim yang tidak sama. Perbedaan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh kondisi lingkungan terhadap kinerja panel surya dan keandalan keseluruhan sistem.

Data dari kedua negara nantinya dapat digunakan untuk mengevaluasi desain dan metode operasional yang paling sesuai. Hasilnya diharapkan membantu menentukan teknologi yang tepat untuk diterapkan pada saluran irigasi dengan karakteristik beragam di Indonesia.

Dalam pelaksanaan riset, BRIN turut melibatkan Universitas Jenderal Soedirman. Kolaborasi ini memberikan kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam pengumpulan data maupun pengembangan teknologi. Keterlibatan perguruan tinggi juga diharapkan memperkuat kontribusi akademisi dalam penelitian dan inovasi energi terbarukan.

Selain teknologi canal-top PV, pertemuan tersebut turut membahas kemungkinan pengembangan floating PV atau PLTS terapung. BRIN telah memiliki prototipe berkapasitas kecil yang berpeluang dikembangkan lebih lanjut melalui kerja sama dengan mitra dari Korea Selatan.

Kedua teknologi tersebut menawarkan alternatif pemanfaatan ruang untuk pembangkit listrik tenaga surya, baik dengan memasang panel di atas saluran irigasi maupun di permukaan perairan. Meski demikian, masing-masing teknologi tetap membutuhkan pengujian dan kajian kelayakan yang disesuaikan dengan kondisi lokasi penerapannya.

Melalui kolaborasi ini, BRIN berupaya mendorong pengembangan PLTS di atas saluran irigasi hingga mencapai tahap demonstrasi yang terukur. Kesiapan teknologi, kepastian regulasi, dukungan masyarakat, serta tersedianya model bisnis yang berkelanjutan akan menjadi penentu bagi peluang penerapan inovasi tersebut secara lebih luas di Indonesia.