(Vibizmedia – Jakarta) Pemimpin di era digital dituntut untuk berani melakukan pembaruan terhadap sistem kerja yang sudah tidak relevan, meninjau kembali program yang minim hasil, serta memastikan penggunaan anggaran memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Keberhasilan pembangunan, dengan demikian, tidak semata-mata dilihat dari besarnya anggaran yang terserap, melainkan dari manfaat konkret yang dapat dirasakan publik.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo menegaskan bahwa tujuan bernegara harus menjadi landasan dalam menentukan arah kebijakan dan mengambil keputusan. Setiap pemimpin perlu memastikan pembangunan mampu membuka akses dan kesempatan yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak di pedesaan untuk memperoleh pendidikan, pelaku usaha kecil untuk memperluas pasar, serta masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik dan perlindungan data pribadi.
Pesan tersebut disampaikan Angga dalam sesi pembelajaran Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) di Jakarta Barat, Rabu (4/11/2026). Ia menilai kemajuan teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta pembangunan infrastruktur dan pengelolaan data digital bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
“Teknologi itu penting, AI itu penting, data dan infrastruktur digital yang dibangun itu penting. Tapi itu semua bukan suatu tujuan akhir. Pertanyaan yang lebih krusial menurut saya, teknologi ini dibangun untuk apa? BUMN itu bekerja untuk apa? Kemudian, menjadi pemimpin itu untuk apa?” ujar Angga.
Ia juga mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan penyerapan anggaran sebagai tolok ukur utama keberhasilan suatu program. Tanpa evaluasi yang memadai, kegiatan yang terus dilaksanakan secara berulang berpotensi menghabiskan anggaran tanpa memberikan penyelesaian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Artinya, tolong jangan bikin KPI yang sudah dicapai cuma karena ada serapan,” tegasnya.
Menurut Angga, setiap program harus memiliki arah yang terukur, target yang jelas, serta manfaat yang dapat dievaluasi. Program sosialisasi maupun literasi digital, misalnya, perlu disusun berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat sehingga pelaksanaannya mampu menghasilkan dampak yang lebih optimal.
“Program ini harus dirancang agar menjawab kebutuhan masyarakat dan lebih berdampak,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Angga turut memaparkan tiga tantangan utama yang harus dihadapi pemimpin digital, yaitu kemampuan beradaptasi dengan perubahan, memastikan keamanan, dan memperkuat kedaulatan digital.
Ia menjelaskan bahwa kemandirian digital tidak berarti menutup diri dari keterlibatan pihak asing atau kerja sama internasional. Sebaliknya, Indonesia perlu membangun kapasitas teknologi nasional agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan, menguasai, dan menciptakan teknologi sendiri.
“Kita mandiri itu bukan berarti kita anti terhadap asing. Kemandirian di sini adalah kita juga harus punya kemampuan untuk mengembangkan, bahkan memiliki dan membangun sendiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Angga menyoroti pentingnya koordinasi dan keterpaduan antarpogram pemerintah, terutama dalam pelaksanaan investasi teknologi. Menurutnya, pembangunan infrastruktur digital harus direncanakan secara menyeluruh agar fasilitas yang disediakan benar-benar dapat digunakan dan memberikan manfaat.
Ia mencontohkan pengadaan layar pintar untuk sekolah yang semestinya disertai dengan pemeriksaan kesiapan jaringan internet. Tanpa dukungan konektivitas yang memadai, fasilitas teknologi tersebut tidak akan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Berpikirlah holistik, jangan berpikir sektoral. Karena yang menjadi program ini semuanya saling berkaitan,” ungkap Angga.
Mengakhiri pemaparannya, Angga mengajak para calon pemimpin masa depan untuk membangun sikap terbuka terhadap kritik dan masukan, memahami persoalan dari berbagai tingkatan organisasi, serta menjadikan pembelajaran berkelanjutan sebagai bagian dari kepemimpinan.
Ia menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu mengidentifikasi persoalan, tetapi juga harus berani menghadapinya dan menghadirkan solusi yang tepat.
“Kita harus tahu masalah, hadapi masalah, dan berikan solusi terhadap masalah,” pesannya.









