Bukan Sekadar Keterampilan, Ini Tiga Karakter Penentu Daya Saing SDM Masa Depan

0
80
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan materi dalam kuliah umum bagi peserta Program Pengembangan Talenta Muda Danantara melalui Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) di Jakarta (Foto: Kemnaker)

(Vibizmedia – Jakarta) Perubahan lanskap dunia kerja yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), transisi menuju ekonomi hijau, serta dinamika demografi menuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang semakin adaptif. Dalam menghadapi tantangan tersebut, sumber daya manusia (SDM) Indonesia perlu memperkuat tiga karakter penting, yaitu kemampuan berinovasi, berpikir secara sistematis, serta memiliki pola pikir bertumbuh atau growth mindset.

Hal tersebut disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat memberikan kuliah umum kepada peserta Program Pengembangan Talenta Muda Danantara melalui Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Yassierli menjelaskan, transformasi dunia kerja tidak hanya berdampak pada perubahan jenis pekerjaan, tetapi juga menghadirkan tuntutan baru terhadap pola pikir dan kompetensi tenaga kerja. Oleh sebab itu, setiap individu perlu terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu beradaptasi, merespons persoalan, dan menghasilkan solusi di tengah perubahan yang berlangsung.

Inovasi Membutuhkan Inisiatif dan Keberanian

Menurut Yassierli, kemampuan berinovasi merupakan salah satu karakter utama yang harus dimiliki SDM masa depan. Inovasi tidak selalu identik dengan penciptaan teknologi canggih atau penemuan berskala besar. Lebih dari itu, inovasi dapat berawal dari keberanian seseorang mengambil inisiatif untuk mengidentifikasi masalah dan menawarkan gagasan yang memberikan manfaat.

“Inovasi itu hanya lahir dari suatu keberanian melakukan inisiatif. Dan inisiatif selalu dimulai dari satu orang,” ungkapnya.

Dengan demikian, inovasi dapat diterapkan dalam berbagai bidang pekerjaan. Langkah sederhana seperti memperbaiki alur kerja, meningkatkan mutu pelayanan, hingga mencari pendekatan baru untuk mengatasi persoalan di lingkungan masyarakat merupakan bentuk kontribusi inovatif yang dapat dilakukan setiap individu.

Memahami Persoalan melalui Kemampuan Berpikir Sistem

Selain inovasi, kemampuan system thinking atau berpikir sistem juga menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan. Yassierli menilai, kemampuan ini penting agar seseorang dapat melihat suatu persoalan secara menyeluruh dengan memahami keterkaitan antara satu faktor dan faktor lainnya.

Dalam dunia ketenagakerjaan, perubahan investasi dan perkembangan industri, misalnya, memiliki hubungan erat dengan kebutuhan tenaga kerja serta kompetensi yang harus dikuasai. Begitu pula dengan kemajuan teknologi yang dapat mengubah karakter pekerjaan dan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan.

Oleh karena itu, penyelesaian persoalan tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat satu sisi, melainkan harus mempertimbangkan keseluruhan ekosistem yang memengaruhinya.

“Belajarlah melihat sesuatu itu terkait dengan ekosistem yang lebih besar. Jangan mudah menyederhanakan masalah, karena realitas itu kompleks,” ujar Yassierli.

Kemampuan memahami hubungan antarfaktor tersebut akan membantu individu mengambil keputusan secara lebih komprehensif, sekaligus memperkirakan konsekuensi yang mungkin muncul dari suatu perubahan.

Growth Mindset sebagai Fondasi Pembelajaran Berkelanjutan

Karakter ketiga yang perlu diperkuat adalah growth mindset, yaitu pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus belajar, mengembangkan kompetensi, dan menerima berbagai pengetahuan maupun pengalaman baru.

Yassierli mengingatkan agar individu tidak membatasi kemampuan dan peluang pengembangan diri hanya pada bidang yang selama ini ditekuni atau latar belakang pendidikan yang dimiliki. Keterbukaan untuk mempelajari hal-hal baru justru dapat membuka potensi yang sebelumnya belum terlihat.

“Orang yang growth mindset adalah orang yang mengatakan, saya siap belajar apa pun yang baru. Karena saya tidak pernah tahu sebenarnya potensi saya akan berkembang ke mana,” tuturnya.

Pola pikir tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi dan industri yang berlangsung cepat. Kompetensi yang dibutuhkan perusahaan saat ini dapat berubah seiring waktu. Karena itu, pembelajaran perlu menjadi proses berkelanjutan, bukan hanya aktivitas yang dilakukan selama menempuh pendidikan formal.

Ketiga karakter tersebut menjadi modal penting dalam mempersiapkan SDM Indonesia menghadapi masa depan dunia kerja. Tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis yang dibutuhkan saat ini, tenaga kerja juga harus mampu menciptakan pembaruan, memahami persoalan secara menyeluruh, serta memiliki kemauan untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Melalui penguatan inovasi, kemampuan berpikir sistem, dan growth mindset, SDM Indonesia diharapkan tidak sekadar menjadi pihak yang mengikuti perubahan, tetapi juga mampu mengambil peran dalam menciptakan peluang dan membentuk masa depan dunia kerja.