Peningkatan Produktivitas UMKM di Berbagai Negara

0
747
Salah satu pedagang UMKM di Jakarta (Foto: Dyah Marwatri Nugrahani)

(vibizmedia-Kolom) Meskipun mempunyai peran penting dalam perekonomian di seluruh dunia, produktivitas UMKM hanya separuh dibandingkan perusahaan besar, dan mempersempit kesenjangan tersebut dapat menciptakan nilai yang signifikan. Namun secara tidak terduga, kesenjangan ini tidak bersifat monolitik: kinerja produktivitas relatif sangat bervariasi antar negara dan sektor, dan bahkan dalam sektor yang sama antar negara.

Produktivitas UMKM tertinggal dibandingkan perusahaan besar

Kesenjangan produktivitas UMKM—yang didefinisikan sebagai jarak antara produktivitas UMKM dan produktivitas perusahaan besar—bervariasi di setiap negara.

Misalnya, di Kenya, produktivitas UMKM hanya 6 persen dibandingkan perusahaan besar, sehingga menyebabkan kesenjangan produktivitas sebesar 94 persen.

UMKM relatif paling produktif di Inggris, yaitu 84 persen dibandingkan perusahaan besar, yang berarti kesenjangan produktivitas hanya sebesar 16 persen. Secara umum, kesenjangan produktivitas lebih besar di negara-negara berkembang dibandingkan negara-negara maju.

Seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan di negara-negara berkembang, produktivitas UMKM meningkat tajam dibandingkan dengan perusahaan besar, sedangkan di negara maju, produktivitas perusahaan besar meningkat secara signifikan.

Kesenjangan produktivitas UMKM—yang didefinisikan sebagai jarak antara produktivitas UMKM dan produktivitas perusahaan besar—bervariasi di setiap negara.

Besar kecilnya UMKM tentunya mempunyai peranan terhadap produktivitasnya dibandingkan dengan perusahaan besar. Perusahaan mikro memiliki margin yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil dan menengah, dan perusahaan mikro mempunyai lebih banyak lapangan kerja di negara-negara berkembang.

Namun di negara maju hanya sekitar 15 persen perbedaan produktivitas UMKM antar negara yang dapat dijelaskan oleh gabungan usaha mikro, kecil, dan menengah. Variasi lainnya berasal dari perbedaan bauran sektor serta kinerja UMKM di setiap negara pada tingkat subsektor.

Kurangnya skala menjadi penyebab kesenjangan produktivitas UMKM di beberapa sektor dibandingkan sektor lainnya. Skala yang lebih besar umumnya dikaitkan dengan produktivitas yang lebih tinggi. Namun menjadi kecil juga memiliki keuntungan. Usaha kecil dapat menjadi sarana bagi individu untuk menyalurkan ambisi kewirausahaannya serta bagi orang-orang yang sekadar memiliki dan menjalankan bisnis untuk mencari nafkah.

Mereka membentuk tatanan sosial dan kehidupan kita sehari-hari dengan cara yang penting dan dipercaya oleh masyarakat. Di Amerika Serikat misalnya, UMKM dianggap sebagai lembaga yang paling dipercaya oleh masyarakat umum, bahkan melebihi militer atau polisi.

Meskipun usaha kecil tidak mempunyai banyak waktu dan sumber daya untuk berinovasi dibandingkan perusahaan besar, keuntungan relatif mereka berasal dari kedekatan mereka dengan pelanggan, tidak terlalu birokratis, dan bereaksi dengan gesit terhadap perubahan dinamika pasar. Mereka mampu memobilisasi tenaga kerja lokal secara efektif dan menawarkan pengaturan kerja yang fleksibel.

Usaha kecil juga memainkan peran penting dalam mendukung produktivitas perusahaan besar, yang cenderung berfokus pada kompetensi inti dan melakukan outsourcing aktivitas yang kurang penting ke bisnis lain, sebuah fenomena yang disebut pembagian kerja.

Hal ini menghasilkan konsentrasi yang lebih besar pada aktivitas-aktivitas yang bernilai tambah tinggi di perusahaan-perusahaan besar, sedangkan bisnis-bisnis kecil melakukan pekerjaan yang bernilai tambah lebih rendah. Hal serupa terjadi di banyak negara maju, ketika gelombang manufaktur padat karya berpindah ke negara-negara dengan upah tenaga kerja yang rendah—seringkali ke UMKM di negara-negara tersebut—pekerjaan yang bernilai lebih tinggi tetap ada di perusahaan-perusahaan besar.

Selain itu, terlibat dalam pekerjaan yang bernilai lebih tinggi memungkinkan perusahaan besar membangun tiga jenis kompetensi: modal tak berwujud (intangible capital), yang terdiri dari teknologi yang lebih baik dan sumber daya manusia yang unggul; koneksi global; dan modal finansial. Akibatnya, rasio produktivitas UMKM cenderung lebih rendah dan kesenjangan produktivitas semakin lebar pada sektor-sektor dimana kompetensi tersebut berperan penting dalam mendorong daya saing usaha.

Mempersempit kesenjangan produktivitas setara dengan 5 hingga 10 persen PDB

Variasi yang sangat besar dalam rasio produktivitas UMKM di berbagai negara menunjukkan adanya potensi perbaikan. Di negara mana pun, produktivitas secara keseluruhan akan meningkat ketika rasio produktivitas UMKM terhadap produktivitas perusahaan besar dapat mendekati potensi maksimalnya.

Potensi tersebut berbeda-beda di setiap negara mengingat kondisi perekonomian yang mendasarinya berbeda-beda. Hal ini bergantung pada struktur industri di setiap domain bisnis, serta sifat spesifik dari hambatan pertumbuhan yang ada, dan sejauh mana hambatan tersebut diatasi untuk mencapai struktur ekonomi yang optimal.

Peningkatan produktivitas itu sendiri dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa UMKM yang meningkatkan produktivitasnya namun tetap berada pada kelompok ukuran mereka. Atau bisa juga disebabkan oleh pergeseran struktur industri dimana beberapa perusahaan kecil melakukan transisi dalam kategori UMKM dari mikro ke kecil atau kecil ke menengah, atau berkembang menjadi perusahaan besar.

Kesenjangan antara rasio produktivitas aktual dan tingkat kuartil teratas setara dengan rata-rata 5 persen PDB di negara-negara maju dan rata-rata 10 persen di negara-negara berkembang. Angka tersebut berkisar antara 2 persen di Israel dan Inggris hingga 10 persen di Jepang di negara-negara maju, dan dari 3 persen di Brasil hingga 15 persen di Indonesia, Kenya dan di negara-negara berkembang.

Berdasarkan perhitungan per pekerja, jumlah tersebut cukup berarti, berkisar antara $3.000 di Israel hingga $12.900 di Jepang di negara-negara maju, dan dari $3.200 di Meksiko hingga $8.800 di Indonesia dan di negara-negara berkembang.

Jika kita menggunakan ambang batas yang lebih rendah untuk menetapkan tolok ukur, kesenjangannya akan lebih rendah, namun tetap berarti. Misalnya, jika membandingkan rasio produktivitas UMKM saat ini dengan rasio median di setiap subsektor, maka rasio ini setara dengan rata-rata 2 persen PDB di negara maju dan 8 persen di negara berkembang. Dengan menggunakan tolok ukur kuartil terbawah, rata-rata angka tersebut akan mencapai sekitar 1 persen PDB di negara-negara maju dan 7 persen di negara-negara berkembang.

Di antara negara-negara maju, dampak penyempitan kesenjangan lebih besar terjadi di Italia, Jepang, Polandia, dan Amerika Serikat. Di Jepang, dua perlima dari seluruh nilai tambah UMKM berasal dari sektor manufaktur dan konstruksi. Di banyak subsektor, UMKM hanya mencapai kinerja kuartil terbawah di seluruh negara.

Demikian pula di Italia dan Polandia, UMKM di dua perlima subsektornya berada pada kuartil terbawah kinerjanya. Dalam perdagangan otomotif, misalnya, Polandia memiliki kesenjangan produktivitas tertinggi (73 persen) dan Italia merupakan negara tertinggi kedua (67 persen) di antara negara-negara maju. Di Amerika Serikat, UMKM di hampir separuh subsektornya berada pada kuartil terbawah rasio produktivitas.

Jika kesenjangan secara keseluruhan lebih kecil, seperti di Israel dan Inggris, dampaknya akan terbatas. Di negara-negara ini, sekitar separuh subsektor sudah berada di kuartil teratas dalam produktivitas UMKM dibandingkan perusahaan besar.

Nilai tertinggi terdapat di empat negara berkembang—Kenya, India, india, dan Nigeria—di mana kesenjangan produktivitas UMKM merupakan yang paling besar.

Di Kenya, produktivitas usaha kecil adalah yang terendah dibandingkan semua negara sampel, hal ini menjelaskan kesenjangan yang besar. Di Indonesia, produktivitas perusahaan-perusahaan besar dua kali lipat dibandingkan negara-negara berkembang lainnya, dan oleh karena itu, UMKM harus berkembang lebih jauh lagi.