Membaca Buku itu Asyik Lho

Bila kita mencintai dan menikmati membaca maka kita tidak akan pernah bosan membaca buku. Membaca buku seringkali dapat membuat kita lupa waktu, karena sangat mengasyikan.

0
571
Membaca Buku
Pekerja membaca buku di ruang perpustakaan Co-Working Space Conclave di Jakarta, Selasa (16/6). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/Asf/kye/15.

(Vibizmedia-Gaya Hidup) Bagaimana cara Anda membaca buku? Zaman sekarang banyak orang lebih suka melihat smartphone atau mendengarkan pembicara yang favorit menyampaikan kiat-kiatnya untuk banyak hal. Saya perhatikan sudah jarang di banyak tempat orang membaca buku – baik anak muda atau orang dewasa – namun  kebanyakan asyik berjam-jam berselancar di ponsel nya.

Saya secara pribadi lebih suka menghabis waktu dengan mengartikan kata-kata yang tercetak pada lembaran kertas dan kemudian dijadikan satu dalam sebuah buku. Membaca adalah kesenangan bagi saya dan saya mencari apa yang disebut “kenikmatan teks” demikian disebut oleh Roland Barthes seorang filsuf, kritikus sastra, dan semolog Prancis. Karya ilmiah, fiksi serius, puisi, gaya prosa khas seorang penulis — semua ini menghadirkan kenikmatan tekstualnya masing-masing.

Pekerjaan saya membuat saya cukup beruntung untuk mengembangkan kebiasaan membaca dan juga menulis. Beberapa rutinitas dan kebiasaan yang saya lakukan dalam membaca itu yang saya tuliskan berikut ini. Setidaknya saya berharap akan berguna bagi yang membutuhkan.

Memilih buku memang harus, tapi jangan habiskan waktu untuk memilih

Memilih buku apa yang akan kita baca sangatlah penting. Membaca sebenarnya sama dengan mengukir akan jiwa kita. “There is no friend as loyal as a book.” Kata Ernest Hemingway. Seorang sahabat memang tidak bisa kita pilih, sering seseorang hadir dalam hidup tanpa kita ketahui bagaimana bisa bertemu dan menjadi sahabat. Sahabat harusnya sesuai dengan suasana hati atau bahkan sesuai dengan tempat, musim dan kondisi apa, demikian juga buku. Waktu yang saya habiskan untuk memilih buku sering terlalu lama, ragu-ragu apa yang akan saya baca. Saya mencoba untuk tidak membuang-buang waktu untuk hal apa pun yang membuat saya acuh tak acuh.

Membaca Buku

Edisi penting untuk memberi semangat saat membaca

Waktu saya di bangku kuliah, saya suka membuka buku dengan edisi cetak sampul tebal. Buku-buku cetak yang menarik karena kualitas kertas yang enak di mata dan kualitas cetakan juga yang sangat jernih dan tidak berbayang. Lain orang memang lain kesukaan, karena ada juga yang memang juga suka cetakan tipis dan ringan untuk dibawa. Seiring dengan berkembangnya waktu, sekarang ini buku-buku sudah lebih memanjakan pembaca dengan ilustrasi, infografis yang menjadi dengan mudah dimengerti. Edisi buku online  sekarang harganya lebih murah, dan bisa didapatkan dengan mudah. Sebagai penulis seringkali saya membutuhkan buku referensi berbahasa Inggris sebagai sumber tulisan, biasanya saya akan pilih buku versi bahasa Inggris terbaik yang mudah dimengerti.

Perhatikan dengan rinci sebuah buku untuk menguatkan latar belakang

Saat pertama menerima buku baru, saya tidak langsung membaca bab pertama, saya akan lihat-lihat sampulnya dulu, hal-hal kecil seperti kapan diterbitkan, atau pengantar penulisan buku, perkenalan, biografi pengarang, ucapan terimakasih, daftar isi, hingga ringkasan buku yang sering ditulis di belakang buku dan berbagai hal lain. Kegunaan yang saya dapatkan saat memperhatikan buku secara rinci sebelum membaca, akan menguatkan latar belakang tulisan di pikiran saya, saat saya mulai mencoba mengerti isi dari buku itu bab demi bab.

Baca juga : Hari Buku Nasional 2024 Momen Penting Meningkatkan Minat Baca Masyarakat

Enaknya kapan waktu membaca yang tepat?

Membaca di kehidupan saya sudah menjadi kebiasaan, jadi kapan waktu membaca tentu dari pagi hingga malam. Namun tidak seluruh waktu digunakan untuk membaca. Selalu ada waktu untuk ha-hal penting lainnya. Mencicipi masakan istri saya, mengajari anak belajar, bertemu dengan teman, berjalan kaki di pagi hari, berkebun, dan merenungkan kehidupan saya. Selain membaca tentu saya mempunyai waktu untuk menulis. Ini sebuah cara mengatur waktu untuk membaca yang sederhana. Namun tantangan saat ini adalah ponsel yang bisa menghabiskan waktu saya. Saya mungkin juga anda sering merasa tidak punya waktu untuk membaca. Namun entah bagaimana kita sudah menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk menelusuri media sosial.

Membaca Buku
Diskusi yang selenggarakan di ruang perpustakaan gedung Erasmus Huis, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Jakarta, 21 Juli 2022 (Foto: Kemendag)

Kalau tempat yang nyaman untuk membaca dimana?

Paling favorit saya lakukan membaca di sofa yang empuk dan kadang sambil berbaring. Ini bukanlah kebiasaan yang baik dan biasanya bikin mengantuk, bisa merusak mata dan buruk untuk kesehatan tulang karena tidak ergonomis. Tempat terbaik untuk membaca adalah di meja kerja dengan pencahayaan yang cukup. Membaca di ruangan perpustakaan yang tenang itu menyenangkan. Kalau ada kesempatan saya akan pergi ke kedai kopi yang memiliki taman yang asri dan jauh dari musik. Atau saat pergi tamasya saya menikmati membaca di pantai, sambil memandang keindahan laut. Namun kalau soal tempat tidak perlu sampai ada lokasi yang nyaman baru membaca. Seperti kata anak-anak muda, “enjoy aja” di mana pun kita dapat membaca.

Sesuaikan frekuensi membaca dengan sang penulis

Pernah saya membaca buku, namun lembar demi lembar seperti berlalu tanpa saya mengerti apa yang dimaksud sang penulis. Seperti hendak mendengarkan radio, kita harus memiliki frekuensi yang tepat baru bisa mendengar suaranya dengan jelas. Tanpa frekuensi yang sama kita bisa sampai frustasi dalam membaca karena tidak mengerti dan berujung berhenti membaca.

Frekuensi yang sama dengan penulis sangat diperlukan agar kita berada di orbit yang sama. Bagaimana caranya? Untuk membaca buku apa pun dengan baik seringkali membutuhkan pengetahuan tentang penulisnya, konteksnya, sejarahnya. Bentuknya mungkin adalah biografi penulis, buku-buku lain dengan topik yang mirip. Jika penulis memiliki karangan lain dapat juga dilihat resensi atau ringkasan tulisannya. Di tengah kemajuan teknologi seperti AI sekarang ini, hal-hal tersebut dengan cepat bisa kita dapatkan dan membuat kita satu frekuensi dengan sang penulis.

Membaca Buku
Sebuah buku karya Nicolaus Copernicus diperlihatkan oleh polisi Jerman, di antara 500 buku kuno lainnya saat konferensi pers di Markas Besar Polisi Federal Muenchen, Jerman, Jumat (13/2). Buku-buku kuno yang sebagian besar berasal dari abad ke-16 dan 17 ANTARA FOTO/REUTERS/Michael Dalder/ox/15.

Konsentrasi dalam membaca

Konsentrasi atau perhatian yang penuh adalah hal yang sangat penting dalam membaca buku. Perhatian yang penuh harus disertai rasa ingin tahu, dan ini berhubungan dengan pilihan buku apa yang akan kita baca. Pada proses membaca itu sendiri saya sering mulai dengan membaca seintensif mungkin dan dengan seksama pada bagian awal. Bila hal ini tidak saya lakukan, saya akan membalik kembali ke halaman sebelumnya apabila saya membaca sesuatu yang tidak saya mengerti kemudian.

Baca juga : Warga Mengambil Buku di Perpustakaan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Saat saya membaca, saya melakukan semua yang saya bisa untuk memenuhi diktum Henry James seorang penulis berkebangsaan Amerika di awal abad 20: “Jadilah orang yang tidak kehilangan apa pun.” Apakah saya sudah sempurna? Sampai saat ini saya masih belajar untuk terus menyerap buku yang saya baca dengan baik.

Membaca dengan catatan

Kebiasaan membaca buku yang baik adalah membaca dengan mempersiapkan catatan, mencoret buku untuk bagian-bagian yang penting sangat diperlukan. Aktivitas ini membuat saya terus terjaga dalam membaca, dan otak saya bekerja menangkap apa yang penting itu. Untuk komentar yang lebih panjang saya sering menggunakan MacBook Air untuk menuliskan opini saya sendiri. Karena alasan ini saya senang membaca buku di meja kerja.

Membaca dengan professional

Saya pernah mengajar di kelas para karyawan, mereka semua ingin menjadi professional, atau menjadi orang yang mahir dalam pekerjaannya. Resepnya sederhana, pertama mencintai pekerjaan itu dan kedua menikmatinya. Apapun profesi kita, saat dua syarat ini ada, kita akan bekerja dengan sepenuh hati, dan kita bisa tidak mengkalkulasi pengorbanan waktu, tenaga dan biaya. Kita menjadi sangat termotivasi untuk menyelesaikan pekerjaan kita.

Hal yang sama juga berlaku dengan membaca buku, bila kita mencintai dan menikmati membaca maka kita tidak akan pernah bosan membaca buku. Membaca buku seringkali dapat membuat saya lupa waktu, karena membaca menjadi sangat mengasyikan.