Memasuki Tahun 2025, Stabilitas Perekonomian Nasional Diperkirakan Tetap Terjaga

0
584

(Vibizmedia – Jakarta) Berbagai dinamika global diperkirakan akan terus memengaruhi perkembangan perekonomian nasional ke depan, termasuk risiko seperti volatilitas harga komoditas yang tinggi, kenaikan suku bunga, gangguan rantai pasok global, serta kerentanan ketahanan pangan dan energi akibat perubahan iklim. Kondisi ini membuat prospek ekonomi global diproyeksikan hanya tumbuh sekitar 3,2% pada 2024 dan 2025.

Meski demikian, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dan daya saing yang kuat, dengan pertumbuhan sebesar 4,95% (yoy) pada triwulan III-2024, yang lebih tinggi dibandingkan beberapa negara lain, seperti Thailand dan Korea Selatan. Indikator sektor riil, seperti PMI Manufaktur yang tetap berada di level ekspansif 51,2, serta optimisme konsumen yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen dan pertumbuhan positif Indeks Penjualan Riil, turut mendukung pencapaian tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pada 2025, perekonomian Indonesia diharapkan dapat mempertahankan pertumbuhan sekitar 5,2%. Ia juga menyoroti keberhasilan berbagai program yang digalakkan pemerintah menjelang akhir tahun, seperti Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), Belanja di Indonesia Aja (BINA), dan program stabilisasi harga pangan, yang mendorong transaksi ekonomi hingga mencapai target impresif.

Program Harbolnas, misalnya, mencatat transaksi sebesar Rp31,2 triliun, meningkat 21,4% dari tahun sebelumnya. Program BINA dan EPIC Sale masing-masing mencatat transaksi Rp25,4 triliun dan Rp14,9 triliun, dengan peningkatan signifikan dibandingkan 2023.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga merilis berbagai paket stimulus ekonomi pada akhir 2024. Stimulus tersebut mencakup bantuan pangan berupa beras 10 kg/bulan untuk 16 juta KPM, diskon listrik 50% selama dua bulan, serta insentif seperti PPN DTP untuk sektor properti dan otomotif, dan PPh Pasal 21 untuk sektor padat karya.

Presiden Prabowo Subianto telah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8% dengan memaksimalkan berbagai sektor potensial. Ia juga mencanangkan 17 Program Prioritas, termasuk swasembada pangan, energi, pengentasan kemiskinan, dan perbaikan sistem penerimaan negara. Capaian lain di awal pemerintahannya mencakup keanggotaan Indonesia dalam BRICS dan pelaksanaan Program Makanan Bergizi.

Hilirisasi menjadi salah satu langkah strategis yang terus dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada 2023, ekspor produk hilirisasi nikel mencapai USD33,52 miliar, meningkat signifikan dibandingkan 2017. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti Gresik, Kendal, dan Galang Batang juga menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian, dengan total investasi pada 2024 mencapai Rp82,6 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 42.930 orang.

Menurut Airlangga, perjalanan menuju pertumbuhan ekonomi 8% dalam lima tahun mendatang dan visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Kolaborasi ini diperlukan untuk mengubah tantangan menjadi peluang.

Acara tersebut turut dihadiri oleh perwakilan duta besar negara sahabat, CEO International Business Council (IBC) Sofyan A. Djalil, serta sejumlah tokoh lainnya dari sektor ekonomi dan bisnis.