IHSG di Zona Hijau Menguat ke 8.425,40 Dipicu Berita Potensi Shutdown Berakhir

0
201
IHSG Dibuka Menguat 0,56% ke 8.453,84, Bursa Asia Pacific Juga Zona Hijau

 

(Vibizmedia – IDX Stock) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (11/11/2025). Pukul 09.01 WIB, IHSG menguat 33,7 poin atau 0,45% ke 8.425,40.

Berdasarkan pengamatan ada 265 saham naik, 137 saham turun dan 239 saham stagnan.
Sembilan indeks sektoral menguat, menopang kenaikan IHSG. Sedangkan dua indeks sektoral lainnya tergelincir ke zona merah.

Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor infrastruktur yang naik 1,64%, sektor barang baku naik 0,82% dan sektor transportasi yang naik 0,69%.
Sedangkan indeks sektoral yang melemah adalah sektor properti yang turun 0,74% dan sektor barang konsumen siklikal yang turun 0,03%.

Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 2,82 juta saham dengan total nilai Rp 1,56 triliun.

Tiga emiten yang mengalami top gainers pagi ini adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang naik 3,65%. Diikuti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang naik 2,67% dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang naik 2,03%.

IHSG sejalan dengan pasar Asia dan Wall Street. Di pasar Asia, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,91%, sedangkan Topix menguat 0,52%. Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 1,94% melanjutkan reli AI untuk hari kedua berturut-turut, sementara indeks small-cap Kosdaq turut naik 1,38%.

Indeks S&P/ASX 200 Australia menguat tipis sebesar 0,25% pada perdagangan hari ini. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong menunjukkan potensi pembukaan sedikit lebih rendah di 26.643 dibanding penutupan sebelumnya di 26.649,06.

Dari sisi Amerika Serikat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 381,53 poin atau 0,81% menjadi 47.368,63. Indeks S&P 500 menguat 1,54% ke posisi 6.832,43, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 2,27% dan berakhir di level 23.527,17.

Adapun pasar keuangan domestik hari ini diharapkan kompak menguat dengan adanya kabar positif dari Amerika Serikat (AS). Mulai menggeliatnya daya beli juga diharapkan bisa menggerakan ekonomi dalam negeri lebih cepat sehingga pasar saham dan rupiah bergairah.

Penutupan (shutdown) pemerintah terpanjang dalam sejarah AS berpotensi berakhir pekan ini setelah kompromi untuk memulihkan pendanaan federal lolos tahap awal pemungutan suara di Senat pada Minggu malam. Kendati demikian belum jelas kapan Kongres akan memberikan persetujuan final.

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting