(Vibizmedia – Kolom) Jika ada satu ekosistem di Indonesia yang mampu menjelaskan bagaimana alam bisa menjadi sekutu paling kuat dalam menghadapi perubahan iklim, maka jawabannya adalah mangrove Mimika. Kabupaten yang terletak di pesisir selatan Papua Tengah ini bukan hanya rumah bagi salah satu bentang mangrove paling utuh dan terjaga di dunia, tetapi juga salah satu penyimpan karbon biru terbesar yang dimiliki Indonesia. Dalam konteks krisis iklim global, peran Mimika bukan sekadar lokal atau nasional—ia adalah kontribusi nyata Indonesia terhadap stabilitas ekologi planet.
Karbon biru adalah istilah untuk karbon yang disimpan oleh ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa payau. Dari seluruh ekosistem tersebut, mangrove adalah juaranya. Akar napasnya tertanam dalam lumpur kaya oksigen rendah, menciptakan ruang ideal untuk menyimpan karbon organik dalam waktu sangat panjang. Sederhananya, mangrove mengikat karbon bukan hanya dalam tubuh pohon—tetapi terutama di tanahnya, yang dapat mengunci karbon hingga ratusan atau bahkan ribuan tahun.
Mimika adalah salah satu wilayah yang memiliki kapasitas penyimpanan karbon biru paling luar biasa di Indonesia. Tanah mangrovenya mencatat nilai penyimpanan karbon organik yang jauh melampaui rata-rata global. Dalam pengukuran di beberapa titik penelitian, laju akumulasi karbon di tanah Mimika bahkan mencapai level yang hanya dimiliki sebagian kecil kawasan mangrove dunia. Ekosistem ini bekerja secara senyap, setiap jam, setiap hari, menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar tanpa disadari oleh sebagian besar masyarakat.
Mengapa Mimika bisa sekuat itu dalam menyerap karbon? Jawabannya ada pada dinamika alam yang unik. Pertama, wilayah ini menerima suplai sedimen luar biasa besar dari sungai-sungai utama—Ajkwa, Otomona, Minajerwi, dan Kamora. Sedimen yang kaya bahan organik itu terbawa pasang surut dan mengendap secara terus menerus. Dalam kondisi lain, sedimen tebal bisa menjadi ancaman bagi tanaman, tetapi bagi mangrove Mimika justru sebaliknya: ia mempercepat akumulasi karbon di tanah, yang semakin dalam semakin kaya akan karbon organik.
Kedua, pasang surut di Mimika termasuk dalam kategori tinggi, bisa mencapai lebih dari empat meter. Pasang surut ekstrem ini membawa nutrisi, lumpur, dan material organik secara intensif dari laut ke darat dan sebaliknya. Proses ini menjadi mesin alami yang terus mengantarkan karbon masuk ke sedimen. Hasilnya adalah tanah mangrove yang tidak hanya subur, tetapi juga sangat efektif mengunci karbon dalam jangka panjang.
Ketiga, keanekaragaman vegetasi mangrove di Mimika ikut memperkuat kapasitas serapan karbon. Lebih dari 40 spesies mangrove tumbuh di pesisir selatan Papua, mulai dari Rhizophora, Bruguiera, Avicennia, hingga Sonneratia. Setiap spesies memiliki karakteristik serapan karbon yang berbeda, dan keberagaman ini membuat ekosistem menjadi lebih produktif. Akar-akar yang padat dan saling bertumpuk menciptakan “perangkap” alami yang mencegah karbon keluar kembali ke atmosfer.
Jika banyak negara berlomba menanam mangrove sebagai bagian dari komitmen iklim, Mimika sesungguhnya sudah jauh lebih maju tanpa kampanye besar. Ekosistemnya yang luas, utuh, dan aktif secara biologis menjadikannya salah satu gudang karbon alami terbesar di kawasan Asia Pasifik. Di saat dunia kehilangan lebih dari separuh mangrovenya dalam lima dekade terakhir, Mimika tetap mempertahankan bentang alam yang hampir tidak tersentuh. Ini bukan hanya keberuntungan geografis—melainkan modal ekologis yang sangat besar.
Dalam konteks karbon biru, salah satu keunggulan terbesar Mimika terletak pada tanah mangrovenya. Berbeda dengan hutan daratan, pohon mangrove menyimpan sebagian besar karbonnya di bawah tanah. Akumulasi ini terjadi karena kondisi anaerob di tanah mangrove menghambat dekomposisi. Bahan organik yang terbawa sedimen dan guguran daun menumpuk terus-menerus, menjadi lapisan karbon yang makin lama makin tebal. Di beberapa lokasi, lapisan karbon organik bisa mencapai kedalaman lebih dari satu meter.
Mimika memperlihatkan laju penambahan sedimen yang sangat cepat—bahkan hingga dua sentimeter per tahun pada wilayah tertentu. Artinya, selain menyimpan karbon lama, ekosistem ini juga terus menciptakan ruang untuk menyimpan karbon baru. Dalam bahasa sederhana, mangrove Mimika adalah “mesin penyerap karbon” yang bekerja dua kali lebih efektif dibandingkan mangrove rata-rata di banyak negara lain.
Potensi karbon biru Mimika bukan hanya soal kapasitas menyimpan, tetapi juga ketahanannya terhadap perubahan iklim. Banyak wilayah pesisir di dunia menderita akibat kenaikan muka laut, yang memaksa mangrove mundur atau mati. Namun di Mimika, laju sedimentasi yang tinggi membuat ekosistem ini mampu “tumbuh mengejar laut” secara alami. Hal ini membuatnya tetap stabil, bahkan berkembang, di tengah perubahan lingkungan yang semakin ekstrem.
Kemampuan adaptif seperti ini tidak banyak dimiliki mangrove di wilayah lain. Di negara-negara seperti Vietnam, Thailand, atau Filipina, tekanan pembangunan pesisir membuat mangrove terhimpit. Hutan ditebang untuk tambak, kota, dan industri. Di Mimika, bentang mangrove masih bersambung tanpa fragmentasi besar, menciptakan ekosistem karbon biru yang sangat efisien.
Namun besarnya potensi karbon biru bukan berarti tidak ada ancaman. Ketergantungan masyarakat pada komoditas seperti kepiting bakau, misalnya, bisa menjadi risiko jika panen tidak diatur. Tekanan pembangunan masa depan, ekspansi permukiman, atau perubahan tata ruang dapat menjadi ancaman jangka panjang. Karena itu, pengelolaan berbasis sains menjadi mutlak.
Pemantauan jangka panjang yang dilakukan selama beberapa dekade di Mimika memberikan data penting tentang dinamika karbon. Pemantauan ini mencakup sedimen, kualitas air, struktur vegetasi, hingga kondisi fauna. Data ilmiah semacam ini menjadi dasar penting bagi perhitungan karbon biru nasional dan relevan untuk kebijakan global seperti perdagangan karbon dan mekanisme mitigasi iklim.
Dalam konteks kebijakan, Mimika memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat riset karbon biru Indonesia. Dengan lanskap mangrove yang luas, keragaman hayati tinggi, dan dinamika sedimentasi yang unik, wilayah ini bisa menjadi model pengelolaan karbon pesisir yang tidak dimiliki daerah lain. Program reduksi emisi berbasis mangrove, skema insentif karbon, serta kolaborasi dengan masyarakat adat bisa mengubah mangrove dari sekadar ruang ekologis menjadi aset ekonomi jangka panjang.
Yang menarik, masyarakat Kamoro sudah sejak lama mempraktikkan pengelolaan tradisional yang selaras dengan alam. Aktivitas pengambilan hasil hutan mangrove dilakukan dengan pola yang tidak merusak. Tradisi ini sesungguhnya adalah fondasi penting untuk tata kelola karbon biru berkelanjutan. Dengan peran serta aktif masyarakat lokal, pengelolaan karbon biru dapat dilakukan tanpa mengorbankan identitas dan mata pencaharian mereka.
Jika Indonesia ingin memperkuat posisi sebagai salah satu negara pemimpin dalam konservasi karbon biru, Mimika adalah titik awal yang ideal. Tidak ada wilayah lain yang memiliki kombinasi kekayaan sedimen, keanekaragaman mangrove, produktivitas hayati, dan luas bentang alam seperti Mimika. Potensi untuk menjadikannya kawasan percontohan sangat besar—mulai dari pengukuran karbon, restorasi berbasis ilmiah, hingga integrasi konservasi dengan ekonomi hijau.
Menghadapi tantangan perubahan iklim, dunia membutuhkan wilayah-wilayah seperti Mimika yang mampu menunjukkan bahwa alam bisa menjadi solusi yang efektif. Karbon biru bukan hanya konsep ilmiah, tetapi strategi nyata yang dapat memperlambat laju pemanasan global. Mangrove Mimika menyimpan karbon lebih banyak dari sebagian besar ekosistem lain di dunia, dan menyimpannya untuk waktu yang sangat lama. Ini adalah kontribusi yang bernilai bagi planet.
Pada akhirnya, Mimika bukan sekadar ruang hijau di peta Indonesia. Ia adalah ibukota karbon biru dari Timur Nusantara. Ia adalah benteng yang menjaga udara tetap bersih, pesisir tetap stabil, dan masa depan tetap terjaga. Di tengah perubahan iklim yang semakin mengancam, mangrove Mimika mengajarkan satu hal penting: bahwa menjaga alam adalah investasi yang keuntungannya melebihi segala bentuk pembangunan jangka pendek. Dan ketika dunia mencari inspirasi untuk masa depan karbon biru, Mimika sudah menyiapkannya tanpa banyak kata. Ia hanya bekerja, diam-diam, mengikat karbon demi generasi berikutnya.









