
(Vibizmedia – Nasional) Pemerintah mempercepat pemulihan sekolah-sekolah yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang agar kegiatan belajar mengajar dapat segera kembali berjalan. Sektor pendidikan menjadi prioritas utama karena dinilai berperan penting dalam memulihkan rutinitas masyarakat sekaligus menjaga stabilitas psikososial anak-anak pascabencana.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggandeng BUMN Karya dan TNI untuk melakukan pembersihan lumpur serta material sisa banjir di lingkungan sekolah. Kolaborasi lintas sektor ini difokuskan pada percepatan pembersihan ruang kelas dan fasilitas penunjang agar sekolah dapat segera difungsikan kembali.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk terlibat langsung dalam pembersihan sejumlah sekolah, antara lain SMP Negeri 2 Karang Baru, SD Negeri 2 Karang Bundar, dan SD Negeri 1 Karang Baru. Seluruh kegiatan dilakukan secara terpadu bersama personel Kementerian PU dan TNI.
Berbagai alat berat dikerahkan untuk mempercepat pekerjaan, mulai dari dump truck, wheel loader, hingga excavator PC 75 dan PC 200. Sementara itu, peralatan manual seperti sekop, alat pel, dan gerobak digunakan untuk menjangkau ruang kelas yang tidak dapat diakses alat berat.
Dengan kembalinya fungsi sekolah, pemerintah berharap proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih normal. Kementerian PU memastikan kolaborasi lintas sektor akan terus diperkuat hingga pemulihan sarana pendidikan dan infrastruktur dasar benar-benar tuntas.
Saat ditemui InfoPublik, Wakil Kepala SMP Negeri 2 Karang Baru, Amira, menyampaikan bahwa aktivitas belajar mengajar telah kembali berjalan meski belum sepenuhnya normal. “Sebagian siswa masih belum pulih secara fisik dan psikologis. Ada yang rumahnya rusak berat, bahkan hanyut terbawa banjir bandang. Ada juga yang kehilangan perlengkapan sekolah,” ujarnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi belajar yang masih terbatas. Sebagian siswa telah mengenakan seragam sekolah, sementara lainnya masih menggunakan pakaian biasa. Situasi ini mencerminkan kondisi keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar pascabencana.
Kegiatan Belajar Mengajar Bertahap
Di Provinsi Aceh, kegiatan belajar mengajar mulai kembali berjalan secara bertahap setelah banjir dan longsor yang terjadi pada Desember 2025. Hal ini terlihat di SMP Negeri 2 Karang Baru yang pada Rabu (14/1/2026) melaksanakan hari pertama masuk sekolah semester genap Tahun Ajaran 2025/2026.
Meski pembelajaran telah dimulai, fasilitas sekolah belum sepenuhnya pulih. Sejumlah meja dan kursi rusak, beberapa ruang kelas masih dalam tahap pembersihan, dan kegiatan belajar sementara dilakukan dengan sarana seadanya, termasuk penggunaan terpal sebagai alas belajar. Selain itu, tidak semua peserta didik dapat hadir karena sebagian masih mengungsi di luar daerah.
Pada hari pertama sekolah, pembelajaran diawali dengan sesi berbagi cerita antara siswa dan guru. Anak-anak menceritakan pengalaman mereka selama masa bencana sebagai bagian dari upaya pemulihan psikososial. Suasana kebersamaan juga terlihat saat waktu istirahat, ketika para guru memastikan seluruh siswa dapat menikmati waktu makan bersama, termasuk berbagi bekal bagi siswa yang tidak membawa makanan dari rumah.
Kondisi di Aceh Tamiang mencerminkan proses pemulihan pendidikan yang sedang berlangsung di berbagai wilayah Aceh. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 2.756 satuan pendidikan terdampak banjir dan longsor di Aceh. Dari jumlah tersebut, 2.226 sekolah telah kembali beroperasi meski sebagian masih dalam tahap pemulihan.
Pemerintah pusat dan daerah terus mengakselerasi pemulihan melalui pembersihan sisa material bencana, perbaikan fasilitas pendidikan, serta pemenuhan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran.
Hingga kini, dukungan untuk sektor pendidikan di Aceh meliputi distribusi 15.500 paket school kit, 78 unit tenda darurat untuk ruang kelas, 100 unit ruang kelas darurat, dana operasional pendidikan darurat sebesar Rp11,3 miliar, dana dukungan psikososial sebesar Rp300 juta, serta 90.000 buku pelajaran.
Kemendikdasmen juga menyalurkan tunjangan khusus bagi guru dan tenaga kependidikan terdampak bencana, mencakup pendidikan anak usia dini sebesar Rp758 juta untuk 379 sasaran, pendidikan dasar Rp8,2 miliar untuk 4.098 sasaran, serta pendidikan menengah Rp6,7 miliar untuk 3.381 sasaran.
Dalam aspek pembelajaran, pemerintah menerapkan kurikulum penanggulangan dampak bencana secara bertahap. Pada fase tanggap darurat 0–3 bulan, pembelajaran difokuskan pada literasi dan numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan dini, dukungan psikososial, serta edukasi mitigasi bencana. Pada fase pemulihan dini 3–12 bulan, kurikulum adaptif berbasis krisis akan diterapkan. Sementara pada fase pemulihan lanjutan 1–3 tahun, pendidikan kebencanaan akan diintegrasikan secara permanen untuk memperkuat ketahanan dan kualitas pembelajaran.
BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah berkomitmen terus mendukung pemulihan sektor pendidikan agar kegiatan belajar mengajar di Aceh dapat kembali berlangsung secara aman, berkelanjutan, dan berkualitas.








