Bisakah Indonesia Menjadi Lumbung Pangan di Tengah Perubahan Iklim?

0
5
Panen Perekonomian Indonesia
Panen petani. FOTO: KEMENTAN

(Vibizmedia-Kolom) Di tengah meningkatnya populasi dunia, ketegangan geopolitik, dan ancaman perubahan iklim, pangan telah menjadi isu strategis yang menentukan kekuatan sebuah bangsa. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki fondasi ekonomi dan politik yang lebih kuat dibandingkan negara yang bergantung pada impor.

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Dengan iklim tropis, sumber daya alam melimpah, serta lahan pertanian yang luas, peluang tersebut terbuka lebar. Namun pertanyaannya, mampukah Indonesia mewujudkan cita-cita tersebut ketika perubahan iklim semakin mengganggu sektor pertanian?

Presiden Prabowo Subianto pernah mengingatkan bahwa kemerdekaan bangsa tidak dapat dipisahkan dari kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri beberapa saat lalu kepada media saat Panen Raya di Desa Kertamukti, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Pernyataan itu menjadi sangat relevan saat dunia menghadapi ketidakpastian pasokan pangan akibat cuaca ekstrem, konflik global, dan disrupsi rantai pasok internasional.

Perubahan Iklim Menjadi Ujian Terbesar

Tantangan terbesar ketahanan pangan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan produksi, melainkan menjaga stabilitas produksi di tengah perubahan iklim. Fenomena El Niño, kekeringan berkepanjangan, curah hujan ekstrem, hingga pergeseran musim tanam telah membuat sektor pertanian semakin rentan. Dampaknya mulai terlihat pada produksi pangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 sebesar 21,95 juta ton atau turun 0,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi padi juga diperkirakan turun menjadi 38,11 juta ton gabah kering giling (GKG).

Meski penurunannya relatif kecil, data tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim mulai memberikan tekanan nyata terhadap sektor pangan nasional. Jika tidak diantisipasi, gangguan iklim dapat memperbesar risiko gagal panen dan ketidakstabilan harga pangan.

Dampak Perubahan Iklim
Sumber: Diolah dari BMKG, FAO, IPCC, dan berbagai penelitian pertanian Indonesia

Karena itu, keberhasilan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tidak lagi hanya ditentukan oleh luas lahan pertanian, tetapi oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Krisis Regenerasi Petani

Di balik ancaman iklim, terdapat persoalan lain yang tidak kalah serius, yaitu menurunnya jumlah petani muda. Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan jumlah petani milenial berusia 19–39 tahun hanya sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari total petani Indonesia. Sebaliknya, mayoritas pelaku usaha pertanian berada pada kelompok usia yang semakin tua. Kondisi ini menjadi alarm bagi masa depan ketahanan pangan nasional. Jika generasi muda tidak tertarik masuk ke sektor pertanian, Indonesia dapat menghadapi kekurangan tenaga produktif dalam satu hingga dua dekade mendatang.

Struktur Umur Petani Indonesia
Sumber: BPS, Desember 2023

Data tersebut menunjukkan bahwa regenerasi petani harus menjadi agenda nasional yang sama pentingnya dengan peningkatan produksi pangan. Pertanian masa depan bukan lagi identik dengan pekerjaan tradisional. Pertanian modern membutuhkan kemampuan mengoperasikan drone, memanfaatkan sensor digital, membaca data cuaca, hingga menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi hasil panen dan mengoptimalkan penggunaan pupuk.

Jika pertanian mampu dikemas sebagai sektor modern yang menjanjikan, maka generasi muda akan melihatnya sebagai peluang karier, bukan pilihan terakhir.

Irigasi Menjadi Penentu

Selain sumber daya manusia, ketahanan pangan juga sangat bergantung pada infrastruktur air. Sektor pertanian menggunakan sekitar 80 persen sumber daya air nasional. Namun kondisi jaringan irigasi Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Bank Dunia mencatat sekitar 46 persen sistem irigasi Indonesia berada dalam kondisi kurang baik sehingga membutuhkan rehabilitasi dan modernisasi. Di era perubahan iklim, irigasi bukan lagi sekadar infrastruktur pendukung, melainkan fondasi utama ketahanan pangan. Negara-negara yang berhasil mempertahankan produktivitas pertaniannya adalah negara yang mampu mengelola air secara efisien dan berkelanjutan.

Alih Fungsi Lahan Tidak Boleh Diabaikan

Tantangan berikutnya adalah berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi kawasan permukiman, industri, maupun infrastruktur. Jika lahan terus menyusut sementara jumlah penduduk terus bertambah, maka target peningkatan produksi pangan akan semakin sulit dicapai. Modernisasi pertanian memang dapat meningkatkan produktivitas, tetapi produktivitas tetap membutuhkan lahan yang cukup untuk berkembang. Karena itu, perlindungan lahan pertanian produktif harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang ketahanan pangan nasional.

Ketahanan Pangan Adalah Ketahanan Nasional

Membangun ketahanan pangan tidak dapat dibebankan hanya kepada petani. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan masyarakat harus bergerak bersama. Pemerintah perlu mempercepat modernisasi pertanian dan pembangunan infrastruktur air. Dunia usaha dapat memperkuat investasi di sektor pertanian dan rantai pasok pangan. Perguruan tinggi serta lembaga riset harus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan.

Pada akhirnya, ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional. Negara yang bergantung pada impor pangan akan selalu rentan terhadap gejolak global. Sebaliknya, negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat. Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi lumbung pangan dunia, lahan, iklim tropis, sumber daya alam, dan pasar yang besar. Namun modal tersebut hanya akan menjadi potensi jika tidak diikuti keberanian melakukan transformasi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu menjadi lumbung pangan dunia. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa cepat Indonesia mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, mempercepat modernisasi pertanian dengan mengunakan teknologi digital dan sensor, memperbaiki irigasi, melindungi lahan produktif, dan melahirkan generasi baru petani yang siap menghadapi tantangan saat ini. Jika itu berhasil dilakukan, maka Indonesia tidak hanya akan mencapai swasembada pangan, tetapi juga berpeluang menghadapi perubahan zaman dan menjadi salah satu kekuatan pangan di dunia. Semoga…