(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Juda Agung menghadiri Rapat Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter Tahun 2026 yang berlangsung di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (20/02). Pertemuan ini menjadi wujud sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter untuk saling memperkuat dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.
Dalam upaya menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pemerintah berkomitmen menjalankan kebijakan fiskal secara pruden dan berkesinambungan. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 ditargetkan sekitar 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pembiayaan defisit tersebut akan dipenuhi melalui kombinasi sumber utang dan non-utang. Pembiayaan utang dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar domestik maupun global, serta penarikan pinjaman luar negeri dan dalam negeri. Penerbitan SBN dilaksanakan secara hati-hati melalui pengelolaan portofolio dan manajemen risiko yang kuat agar struktur utang pemerintah tetap sehat, aman, dan berkelanjutan.
Di sisi moneter, Bank Indonesia menetapkan kebijakan tahun 2026 untuk menjaga inflasi pada kisaran sasaran 2,5±1 persen sekaligus mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan moneter ditempuh melalui operasi moneter berbasis pasar guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.
Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia juga sepakat bahwa penerbitan SBN oleh pemerintah serta pembelian SBN di pasar sekunder oleh Bank Indonesia akan dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian, disiplin pasar, dan integritas kebijakan. Pembelian SBN oleh Bank Indonesia akan dilakukan dari pelaku pasar melalui mekanisme pertukaran bilateral (bilateral debt switch) dengan pemerintah, menggunakan harga pasar yang berlaku dan instrumen yang dapat diperdagangkan.
Selain itu, kedua institusi berkomitmen menjaga transparansi, akuntabilitas, serta tata kelola yang kuat dalam proses penerbitan dan pembelian SBN sesuai mekanisme pasar. Sinergi erat antara kebijakan fiskal dan moneter dinilai krusial untuk menjaga stabilitas fiskal, stabilitas moneter—terutama nilai tukar rupiah dan inflasi—serta stabilitas sistem keuangan, guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.









