Kasus Stunting Masih Terkonsentrasi di 16 Provinsi, Pemerintah Fokus Penguatan Intervensi

0
49
Foto: Kemenkes

(Vibizmedia – Jakarta) Upaya percepatan penurunan stunting sepanjang 2025 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Kementerian Kesehatan mencatat delapan dari 11 indikator intervensi spesifik telah mencapai target nasional. Namun, penguatan pada indikator pemberian makanan tambahan (PMT) dan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali (antenatal care/ANC) masih diperlukan agar capaian 2026 lebih optimal.

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Lovely Daisy, menjelaskan bahwa publikasi data intervensi stunting 2025 telah melalui serangkaian tahapan, mulai dari umpan balik awal tahun, klinik data bersama dinas kesehatan kabupaten/kota dan provinsi, hingga finalisasi capaian nasional. Publikasi rutin ini dilakukan sebagai bentuk transparansi dan penguatan akuntabilitas, sekaligus menjadi dasar pelaporan kepada Kementerian Dalam Negeri dan perumusan kebijakan tahun berikutnya.

Berdasarkan data 2024, jumlah balita stunting di Indonesia tercatat 4.482.340 anak. Sekitar 80 persen kasus terkonsentrasi di 16 provinsi, dengan hampir separuhnya berada di enam provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Banten, dan Sulawesi Selatan. Provinsi lain yang juga menjadi kontributor besar meliputi Aceh, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Sumatra Barat, Lampung, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Barat.

Menurut Lovely, konsentrasi kasus tersebut menjadi dasar penentuan prioritas intervensi. Fokus pada wilayah dengan beban tertinggi diyakini akan memberi dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting nasional.

Dari sisi prevalensi, hasil Survei Status Gizi Indonesia 2024 menunjukkan Indonesia untuk pertama kalinya masuk kategori “sedang” menurut klasifikasi WHO, yakni di bawah 20 persen. Target prevalensi stunting pada 2025 ditetapkan 14,8 persen, dengan sasaran jangka menengah 14,2 persen pada 2029.

Meski tren membaik, sejumlah indikator gizi masih memerlukan perhatian. Angka wasting menurun dibanding 2023, tetapi underweight justru sedikit meningkat. Kondisi ini menjadi peringatan dini karena balita dengan berat badan kurang berisiko berkembang menjadi stunting jika tidak segera ditangani.

Sebanyak 11 indikator intervensi spesifik sektor kesehatan dirancang berbasis pendekatan siklus hidup, mulai dari remaja hingga balita. Pada remaja putri, intervensi mencakup skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah (TTD). Pada ibu hamil, intervensi meliputi pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, konsumsi TTD atau multiple micronutrient supplement (MMS) minimal 180 tablet selama kehamilan, serta PMT bagi ibu hamil dengan kurang energi kronis (KEK).

Sementara pada bayi dan balita, intervensi mencakup pemantauan tumbuh kembang, pemberian ASI eksklusif, MPASI sesuai standar, asupan protein hewani, tata laksana masalah gizi, imunisasi dasar lengkap, serta edukasi gizi keluarga.

Lovely juga menyoroti perubahan standar konsumsi tablet tambah darah bagi ibu hamil. Jika sebelumnya minimal 90 tablet, mulai 2025 ditingkatkan menjadi 180 tablet, sehingga indikator menjadi lebih ketat dan memengaruhi persentase capaian.

Ke depan, indikator yang belum optimal—khususnya ANC enam kali dan PMT bagi ibu hamil KEK—akan menjadi fokus penguatan pada 2026. Pemerintah pusat dan daerah akan mempererat koordinasi lintas sektor agar intervensi berjalan konsisten, berbasis data, dan tepat sasaran demi mencapai target nasional.