Korlantas Prediksi Jawa Tengah Jadi Titik Rawan Kecelakaan Saat Mudik Lebaran 2026

0
68
Kepala Seksi Analisis Data Korlantas Polri, Kompol Sandhi Widianu. (Foto: BPJS Kesehatan)

(Vibizmedia – Jakarta) Korps Lalu Lintas Polri mulai memetakan potensi risiko kecelakaan menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. Berdasarkan hasil pemodelan analisis spasial dan probabilitas yang mengacu pada data kecelakaan periode 2023 hingga 2025, wilayah Jawa Tengah diperkirakan masih menjadi salah satu daerah dengan tingkat kerawanan kecelakaan tertinggi selama arus mudik Lebaran.

Kepala Seksi Analisis Data Korps Lalu Lintas Polri, Sandhi Widianu, menjelaskan bahwa proyeksi tersebut disusun berdasarkan data historis kecelakaan lalu lintas dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen. Menurutnya, wilayah Jawa Tengah kerap menjadi titik kelelahan bagi pengemudi yang menempuh perjalanan melalui jalur Tol Trans Jawa.

Ia menggambarkan bahwa pada awal perjalanan, seperti ketika berangkat dari Jakarta dan melintasi Jawa Barat, pengemudi umumnya masih dalam kondisi segar dan bersemangat. Namun ketika memasuki wilayah Jawa Tengah, kelelahan mulai dirasakan sehingga meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan, terutama bagi pemudik yang menempuh perjalanan jauh tanpa jeda istirahat yang memadai.

Data Korlantas juga menunjukkan pola yang cukup menonjol di wilayah tersebut. Korban kecelakaan di Jawa Tengah sering kali berada pada dua kategori ekstrem, yaitu mengalami luka ringan atau meninggal dunia. Selain itu, temuan lain yang cukup mengejutkan adalah bahwa sebagian besar kecelakaan justru terjadi di jalan arteri, bukan di jalan tol.

Berdasarkan data Korlantas, sekitar 43,73 persen kecelakaan tercatat terjadi di jalur arteri. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain perilaku berkendara pengguna jalan di wilayah setempat serta tingkat kepadatan lalu lintas yang dapat memperlambat proses penanganan kecelakaan.

Selain Jawa Tengah, wilayah lain yang juga mencatat angka kecelakaan cukup tinggi adalah Jawa Timur dan Metro Jaya. Sementara itu, berdasarkan data dari Integrated Road Safety Management System, faktor manusia masih menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Statistik menunjukkan bahwa sekitar 95,29 persen kecelakaan dipicu oleh kesalahan manusia (human error), terutama karena kurangnya kewaspadaan pengemudi terhadap kondisi lalu lintas di depan. Situasi tersebut kerap memicu tabrakan frontal atau yang sering disebut sebagai “adu banteng”, biasanya terjadi ketika kendaraan berusaha mendahului tanpa perhitungan yang tepat.

Secara keseluruhan, Korlantas juga memproyeksikan tingkat fatalitas yang cukup tinggi pada masa mudik 2026. Dari setiap sepuluh kejadian kecelakaan, diperkirakan dua di antaranya berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Menanggapi hasil analisis tersebut, Korlantas Polri menegaskan bahwa strategi pengamanan selama Operasi Ketupat 2026 tidak hanya difokuskan pada pengawasan di jalan tol, tetapi juga akan diperkuat di jalur arteri yang dinilai memiliki risiko kecelakaan tinggi.

Masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik diimbau untuk menjaga kondisi fisik, beristirahat secara cukup selama perjalanan, serta tidak memaksakan diri mengemudi ketika mulai merasakan kelelahan, khususnya saat memasuki wilayah Jawa Tengah yang kerap menjadi titik kritis bagi para pemudik jarak jauh.